03 May 2021, 05:00 WIB

Harap Cemas Universitas Menuju Indonesia Emas


Djoko Santoso Guru Besar Fakultas Kedokteran Unair, Pengurus MUI Jatim | Kolom Pakar

KITA sedang menjalani hitung mundur menuju Indonesia Emas 2045. Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun ini hampir bersamaan waktunya dengan peringatan 76 tahun kemerdekaan. Harapan besar kita, nanti saat usia seabad kemerdekaan (1945-2045), seluruh rakyatnya bisa mengakses pendidikan dengan baik dan menghasilkan alumni pendidikan yang unggul dan kompeten serta berlevel global di bidang mereka.

Peringatan Hardiknas kali ini dalam situasi pandemi tahun kedua yang belum mereda. Justru, ini bisa menjadi kesempatan yang baik untuk merenungkan sejenak, sejauh mana capaian proses pendidikan tinggi di negara kita. Salah satu pertanyaan pentingnya: cukup siapkah kita menyongsong 100 tahun kemerdekaan, sesuai dengan visi menjadi negara industri?

Dari semua jenjang pendidikan, fase menempuh pendidikan di perguruan tinggi (PT) atau universitas ialah yang paling krusial mengingat PT memang didesain untuk mencetak SDM (sumber daya manusia) kompeten dan terspesialisasi yang mampu mengisi seluruh sektor kehidupan ekonomi dan sosial.

Ketika akses menuju PT semakin mudah, dengan sendirinya diperlukan kesiapan aspek kelembagaan dan tenaga pengajar yang berkualitas karena tugas PT ialah menyiapkan 'generasi emas' pada tahun emas 2045 kelak. Bagaimanapun, pendidikan merupakan cara untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, melalui pemberdayaan intelektual dan keterampilannya, dengan tetap mengedepankan mental-spiritualnya. Itulah salah satu tujuan pendidikan PT.

 

Cemas kesenjangan

Posisi PT menjadi sangat strategis bila dihubungkan dengan nilai sosial, ekonomi, dan (utamanya) intelektual. Nilai sosial mencakup perluasan jangkauan dan peningkatan keterjangkauan pendidikan tinggi sehingga dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat, dari strata mana pun.

Untuk nilai ekonominya, itu mencakup penciptaan SDM yang kompeten dan match (selaras) dengan sektor industri. Caranya melalui transfer pengetahuan dan keterampilan teknis yang terus diperbarui. Selaras dengan lingkungan yang juga dinamis. Nilai intelektual mencakup penguatan disiplin pengetahuan yang bertumpu pada peningkatan kualitas dan keunggulan penelitian, dengan dukungan penuh aspek kemitraan, hingga akhirnya akan meningkatkan kualitas SDM yang bermoral.

Untuk saat ini, kondisi Indonesia sesuai dengan apa yang disebut badan dunia United Nation Development Programme (UNDP). Lembaga kredibel tersebut memasukkan Indonesia ke golongan negara dengan perkembangan sumber daya manusia yang tinggi. Namun, jangan bangga dulu. Nilai human development index (HDI) Indonesia 0,707 dan berada pada peringkat ke-111 dunia. Jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Filipina (peringkat ke-106), Thailand (ke-77), dan Malaysia (ke-61), ternyata kita tertinggal jauh. Mengapa peringkat HDI kita masih sedemikian rendah? Karena jumlah pengangguran kita masih yang cukup tinggi.

Menurut data BPS, total angkatan kerja Indonesia saat ini berjumlah 137,91 juta orang dan yang menganggur sebesar 9,77 juta orang. Dari jumlah pengangguran itu, sebanyak 2,56 juta di antaranya terjadi satu tahun terakhir, bersamaan dengan masa pandemi covid-19. Pandemi ini juga meningkatkan angka pengangguran dari sebelumnya 5,23%, menjadi 7,07%.

Para ekonom menyebut Indonesia belum bisa melepaskan diri dari jebakan middle income trap. Kita masih akan lama terjebak sebagai negara berkembang dan masih sulit untuk naik level sebagai negara maju, kecuali jika kita serius mereformasi dan/atau mentransformasi sistem pendidikan. Itulah sekilas gambaran permasalahan yang dihadapi terkait dengan posisi PT yang strategis dalam hubungannya dengan nilai sosial, ekonomi, dan intelektual.

Pada fase ini, yang perlu direspons cepat ialah kenyataan yang mencemaskan, yakni masih adanya kesenjangan pendidikan di kelompok sosial yang marginal dan belum meratanya distribusi PT di wilayah pelosok. Belum lagi, soal kesiapan lulusan dengan kualitas beragam yang umumnya memiliki kesulitan ketika mau masuk ke sektor industri.

Kualitas lulusan PT yang tidak merata tidak bisa dilepaskan dari beragamnya kualitas universitas di Tanah Air. Itu berkaitan dengan sulitnya hasil/produk penelitian PT bersaing dalam percaturan ilmiah global. Institusi PT jadi penentu maju-tidaknya suatu negara mengingat peran sentralnya dalam mencetak SDM unggulan.

Berdasar data yang dirilis lembaga kredibel dalam pemeringkatan PT, seperti Webometrics atau Scimago, peringkat PT di Tanah Air, baik negeri maupun swasta, kita tetap dalam posisi yang belum beranjak naik. Itu termasuk jika dibandingkan dengan negara-negara yang usia kemerdekaannya hampir sama, seperti Korea Selatan, atau bahkan dengan 'adik' kita Malaysia.

Karena itulah, PT perlu memacu diri agar bisa mendorong realisasi visi 2045 Indonesia Emas. Perlu diperhatikan, faktor apa saja yang bisa mendorong kemajuan PT hingga mampu go international. Salah satunya ialah penguatan kolaborasi dengan institusi internasional yang bereputasi. Bisa melalui program dual degrees, twinning degrees, proyek penelitian, dan pertukaran mahasiswa dan pengajar.

Kolaborasi lain yang bisa dijalankan ialah pengembangan kurikulum yang terpusat pada mahasiswa (student oriented) dan sistem pembelajaran virtual yang peluangnya justru terbuka lebar dalam kondisi pandemi sekarang meski sampai tahun kedua pandemi ini pendidikan ala virtual kita masih gagap.

 

Riset kolaboratif baru

Di samping soal elemen utama lainnya, tonggak kemajuan PT ialah kualitas riset atau penelitian. Karena itu, dosen dan mahasiswa harus semangat untuk memacu penelitian yang berkualitas. Program hibah penelitian, misalnya, harus menjadi budaya kompetisi untuk menunjukkan kualitas penelitian. Bukan semata untuk mengejar uang proyek atau pengumpulan kredit untuk naik pangkat.

Ruang lingkup penelitian sebaiknya merambah ke area keahlian interdisipliner baru, membuka peluang bagi penciptaan pengetahuan baru, dan relevan bagi kemajuan Indonesia. Bidang bioscience, nanoteknologi, material komposit, aeronautika, propelant, energi terbarukan, stem cell, dan teknologi ramah lingkungan ialah contoh sektor yang sangat menantang untuk dikembangkan pengetahuan dan teknologinya, yang ujungnya akan memperkuat proses transformasi sistem pendidikan.

Berbagai universitas bisa bersinergi, menggabungkan keunggulan masing-masing untuk riset bersama. Dengan demikian, riset bisa lebih terfokus, terintegrasi, menjangkau lebih banyak PT dan lebih hemat biaya. Contoh mutakhir, yang membangkitkan harapan ialah gotong royong atau kolaborasi riset oleh beberapa PT yang sukses menghasilkan temuan untuk mengatasi pandemi covid-19. Seperti ventilator, GeNose, robot 'perawat', tes antigen, vaksin, donor plasma, metode stem cell, sampai pemetaan genome varian baru mutasi virus.

Peluang kolaborasi itu tidak terbatas antar-PT dalam negeri, tetapi juga dengan PT luar negeri yang berkualitas. Dengan demikian, PT kita diharapkan tidak hanya menjadi jago kandang, tetapi juga jago di kancah internasional.

Selama ini, mungkin kita merasa sistem pendidikan kita baik-baik saja karena merasa cukup dengan beberapa gelintir PT masuk rangking 1.000 atau bahkan 500 PT terbaik dunia. Namun, di balik itu, setelah dihajar pandemi, semua sektor kehidupan berubah total, babak belur, tak terkecuali sektor pendidikan. Inilah yang memaksa hampir semua PT untuk beradaptasi, menemukan cara dan format baru yang pas agar proses pendidikan tetap bisa berlangsung dalam situasi pandemi.

Harapannya, pergeseran paradigma yang dialami berbagai sektor di seluruh dunia ini bisa menjadi peluang kolaboratif dan sinergis hingga bisa menuju Indonesia Emas 2045. Dalam konteks ini, perlunya dukungan tata kelola yang mengutamakan regulating outcome dari pada input monitoring, hasil dari dana yang digunakan lebih ditekankan daripada konsumsi dana yang dialokasikan, tetapi masih tetap mengutamakan prinsip efisien-efektif.

 

Riset dan alumni profesional 

Perlu diingat, universitas yang benar-benar berbasis riset mungkin jumlahnya masih sedikit. Selain memicu perluasan universitas riset, perlu memacu yang masuk kategori universitas riset, yakni dengan dorongan khusus agar mampu menjadi rujukan bagi seluruh perguruan tinggi. Baik itu pada konten kurikulum, metode pengajaran, tata laksana riset, maupun hingga ke aktivitas ekstrakurikuler mahasiswanya, yang ditarget untuk mempunyai sikap lifelong learning.

Agar terjadi kolaborasi, perpustakaan, kurikulum, konten akademik, serta hasil riset jangan sampai hanya bisa dinikmati dosen dan mahasiswa di universitas tersebut. Namun, itu juga bisa menjadi rujukan bagi jutaan mahasiwa lainnya melalui model massive open online courses (MOOCs). Dengan cara itu, universitas riset menjadi lebih terbuka pada kalangan di luar sivitas akademika mereka. Utamanya, akses pada konten akademis dan hasil riset.

Riset menjadi jantung kemajuan PT. Namun, dalam konteks negara berkembang, PT juga sangat diharapkan menjadi lembaga yang mencetak alumni profesional yang siap kerja. PT diharapkan menjadi pencetak alumni yang memiliki pengetahuan, keterampilan teknis, wawasan makro, serta kemampuan memecahkan masalah.

Itulah yang diperlukan dunia industri. Sebagai contoh, seorang insinyur sipil memimpin proyek membangun jembatan. Dia tidak hanya berkutat dari sudut teknik dan manfaat ekonominya, tetapi juga memperhatikan, misalnya, dampak sosialnya dan meminimalkan korban penggusuran dengan kompensasi yang manusiawi.

Sejarah kemerdekaan kita menunjukkan, para founding father dulu rata-rata para ilmuwan dan intelektual pada zaman mereka. Buku menjadi santapan sehari-hari. Persidangan di BPUPKI sebelum proklamasi, misalnya, menjadi perdebatan intelektual yang sangat berkualitas hingga bisa dinikmati sampai kini. Para intelektual aktivis itulah yang mengantarkan bangsa ini ke kemerdekaan. Setelah proklamasi kemerdekaan, tahap selanjutnya ialah mempertahankan kemerdekaan, saat peran negarawan intelektual sangat dibantu perjuangan militer bersenjata.

Bagaimanapun, arah perjuangan negara sangat ditentukan pergumulan intelektual para negarawannya dalam menyelesaikan masalah bangsa. Perguruan tinggi semakin penting untuk menjadi pemasok ilmuwan, dokter, ekonom, teknolog, dan intelektual yang mengisi dan memaknai nikmat kemerdekaan dengan tetap menjunjung tinggi etika-moral.

Karena itu, menyongsong visi Indonesia Emas 2045, PT perlu terus memacu diri, meningkatkan kualitas riset, peka terhadap situasi nasional, serta memihak kepentingan rakyat. Secara institusional di level negara, kementerian pendidikan dan kebudayaan sudah digabung dengan riset dan teknologi. Ini bagus juga. Namun, sukses atau tidaknya jelas bergantung pada mutu leadership nakhodanya.

BERITA TERKAIT