18 January 2021, 05:15 WIB

Meniti Harapan di Tahun 2021


Fithra Faisal Hastiadi Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Direktur Eksekutif Next Policy | Kolom Pakar

SAYA ingat di kala itu, 20 tahun yang lalu. Berjalan di malam yang gelap dari kampus UI Depok, melintasi persilangan antara rel dan Jalan Margonda ketika hendak mengisi perut. Dalam pelintasan itu, saya mesti melewati gang sempit yang hanya cukup untuk dua orang berdiri berjejeran. Diapit di antara dua bangunan yang tinggi, gang itu seakan sebuah lorong sempit yang panjang.

Di tengah gelap malam, tak ada yang bisa menduga apakah akan berpapasan dengan gadis cantik menambat hati atau begal bengis mencacah harta. Menengok tahun 2020, lorong sempit tersebut sudah berhasil kita lalui dengan baik, tapi pergulatan belum selesai. Tahun 2021 masih menyisakan tantangan yang besar meski semburat optimisme berpendaran.

Pertumbuhan

 Tidak bisa dimungkiri bahwatahun 2020 adalah tahun penuhgejolak. Perekonomian terhantamberat, hingga katanya resmi resesi,meski tak jelas siapa pejabat yanggunting pita dalam peresmian itu.Setelah ekonomi hanya tumbuhrendah pada kuartal pertamatahun 2020 (2,97%), covid-19 kemudianmenghajar kita hinggatergelepar di minus 5,32% danminus 3,49% berturut-turut dikuartal II dan kuartal III.

Akan tetapi, jika kita melihat tren kuartalan, sejatinya sudah ada titik infl eksi di mana justru terjadi pertumbuhan 5,05% secara kuartalan. Titik infleksi positif ini sepertinya akan berlanjut di kuartal IV, meskipun sepanjang 2020 akan sulit keluar dari zona negatif. Perhitungan kami, untuk tahun 2020 ini akan berada dalam rentang minus 1,8% hingga minus 2%.

Yang jelas, pemerintah sudah berpeluh basah. Berdasarkan perhitungan kami, stimulus fi skal sepanjang tahun 2020 memberikan tambahan dorongan hingga 3%. Dengan begitu, tanpa adanya stimulus fi skal tersebut, bisa jadi pertumbuhan ekonomi di 2020 terjerembap lebih dalam lagi.

Yang juga tak kalah pentingnya ialah intervensi nonfi skal yang bisa dilihat dari kebijakan relaksasi perdagangan dalam bentuk Peraturan Presiden (Perpres) tentang Penataan dan Penyederhanaan Perizinan Impor yang diberlakukan sejak awal April. Hal ini terbukti efektif membalikkan kinerja industri yang sempat terpuruk.

Tengok saja angka purchasing manager index (PMI), meski sempat anjlok dalam di bulan Maret, kemudian berangsur membaik walaupun harus anjlok lagi di bulan September (47,2) akibat PSBB ketat jilid 2. Namun, jika dibandingkan dengan bulan April (27,5) akibat PSBB jilid 1, industri kita sudah terhitung tahan digedor. Ini adalah buah dari kebijakan relaksasi impor tersebut sehingga industri mudah untuk mendapatkan akses bahan baku dan barang modal.

Tren ini kemudian terus berlanjut hingga bulan Desember, dengan mencapai salah satu titik tertingginya selama pandemi di level 51,3, hanya kalah jika dibandingkan dengan bulan Februari yang tertambat di level 51,9. Artinya tanda-tanda pembalikan itu sudah terlalu kentara.

Moncernya angka PMI kemudian beresonansi erat dengan kinerja perdagangan internasional. Surplus neraca dagang yang kita alami di tahun 2020 (US$21.74 miliar) merupakan yang tertinggi sejak 2011. Geliat surplus ini merupakan sesuatu yang patut menjadi perhatian karena didorong juga oleh naiknya angka ekspor bulanan secara persisten. Tercatat hanya pada bulan April, Mei, dan Agustus ekspor turun tajam secara bulanan, sisanya menunjukkan tren yang konsisten naik.

Surplus memang sempat dibantu oleh melemahnya impor. Namun, berdasarkan pantauan anekdotal, impor yang jatuh di beberapa bulan tertentu ialah karena faktor strategi inventori,
tidak terlalu didominasi oleh pelemahan tersebut. Tren ini juga selaras dengan survei kegiatan dunia usaha (SKDU) yang mulai menunjukkan tren perbaikan serta mulai menanjaknya data sentimen positif dari lebih dari 10 juta data points yang kami kelola.

Tahun 2020 juga ditandai oleh reshuffl e di posisi menteri perdagangan, menteri pariwisata dan ekonomi kreatif, menteri sosial, menteri agama, dan menteri KKP. Di antara enam, saya ingin menyoroti yang dua. Pergantian pemain kadang merupakan strategi, tidak semata-mata dipicu oleh faktor kinerja.

Menilik kinerja, Mendag terdahulu Agus Suparmanto sedang sangat cespleng kinerjanya dengan mengawal surplus dan mengonkretkan perjanjian-perjanjian ekonomi kelas berat. Adapun Menparekraf Wishnutama memang tidak didukung keadaaan, dengan terbatasnya kegiatan pariwisata selama covid-19. Namun, penggantinya merupakan sosok yang sangat bisa diharapkan.

Mendag Lutfi yang saya kenal selama interaksi saya sebagai Ketua Umum Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang merupakan sosok yang tidak rumit birokrasi. Ruang kerjanya terbuka kapan saja untuk teman-teman aktivis PPI. Ditopang pengetahuan dengan kedua sekutu dekat Indonesia yaitu Jepang dan Amerika Serikat, Mendag Lutfi bisa memberikan
warna baru bagi strategi diplomasi Indonesia.

Sementara itu, untuk Menparekraf pun setali tiga uang. Sosok yang membawa dimensi baru secara politik dan kinerja. Sandiaga yang saya tahu merupakan sosok yang berkarakteristik get things done. Seorang sosok yang penuh energi, juga teman sepelari an yang baik. Sebagai sesama pelari, mengikuti rombongan Sandiaga, membuat saya
sering terengah-engah, dan saya rasa ritme itulah yang akan dibawa pada birokrasi di Parekraf.


Tiga skenario


Bagaimana penerawangan 2021? Forecast kami menunjukkan tiga skenario, yaitu pesimistis, moderat, juga optimistis. Skenario pesimistis di 3,8%, moderat di 4,4%, dan optimistis di 6%. Hal ini juga sejalan dengan proyeksi IMF di 6% dan Fitch yang 6,6%. Bagaimana bisa?

M e nilik gejolak ekonomi di periode sebelumnya, yaitu pada tahun 1998 dan 2008, resesi 2020 adalah sesuatu yang berbeda. Jika pada 1998 dan 2008 perekonomian jatuh akibat overheating, di 2020 sebabnya adalah faktor eksternal berupa pandemi. Akibatnya, perekonomian berjalan di bawah kapasitas dan akan bisa menciptakan sebuah baseline effect. Baseline effect ini akan memicu pembalikan solid di 2021. Bisa kita katakan, covid-19 adalah necessary evil dalam perekonomian. Karenanya, resesi tidak selalu berujung krisis.

Harapan bangkit memang berasal dari dua sektor penghela ini, yaitu perdagangan dan parekraf. Buah dari hilirisasi nikel membuat kita digdaya di sektor besi baja hingga bisa mengerek ekspor di sektor tersebut, meski mendapat tentangan dari Uni Eropa.

Hilirisasi tersebut dituduh sebagai objek countervailing, meski dasar tuduhannya bisa saja kita mentahkan dengan kuat di sidang sengketa WTO. Pangkal masalahnya ialah industri besi nirkarat Uni Eropa yang kalah saing dari sisi akses bahan baku. Teknologi nya pun terhitung terlalu mahal ketimbang yang dipakai Indonesia, yang mayoritas berasal dari Tiongkok.

Solusinya sebenarnya mudah, Uni Eropa seharusnya bisa masuk ke Indonesia dan berinvestasi sebagaimana layaknya Tiongkok. Ini adalah hasil yang seharusnya bisa menyenangkan semua pihak. Sebelumnya kita juga mendapatkan hambatan berupa safeguard atas ekspor mobil kita ke Filipina. Industri domestik di Filipina kewalahan akibat pertumbuhan impor mobil asal Indonesia sehingga harus ditangkis dengan biaya penjaminan berjumlah P70.000 per unit (Rp20,5 juta) untuk mobil penumpang dan P110.000 (Rp32,2
juta) per unit untuk kendaraan komersial ringan.

Kasus di Filipina ini pun sebenarnya tidak terlalu berdasar dan akan mudah dimentahkan dalam sidang sengketa. Namun, perlu dipahami bahwa dua kasus dari Uni Eropa dan Filipina ini sepertinya akan memicu efek ikutan (bandwagon effect) mengingat strategi banyak negara pulih dari pandemi sepertinya akan berujung pada strategi yang paling pragmatis, yakni proteksionisme. Namun tidak mengapa, ini artinya pertumbuhan ekspor dan juga daya saing industri kita berada pada jalur yang tepat.

Sementara itu, sektor ekonomi kreatif memberikan efek pengganda yang besar untuk perekonomian sebagaimana hasil perhitungan kami. Kaum milenial kreatif dan juga UMKM go digital ala Sandinomics sepertinya akan berperan besar di 2021. Sembari, juga membuka bubble pariwisata seiring dengan harapan berhasilnya vaksinasi massal. Tentu kita masih harap-harap cemas karena ini bukan perkara mudah. Seperti menari di lantai yang licin, mudah terpeleset.


Peluang


Peluang tumbuh di 2021 juga berasal dari dua sebab, yaitu faktor Tiongkok dan faktor relokasi. Tiongkok yang terus tumbuh, dan bahkan berhasil melangkahi resesi, berhasil mendorong ekspor kita ke ‘Negeri Tirai Bambu’ tersebut.

Hal ini terjadi karena industri mereka masih suboptimal sehingga diperlukan barang baku dari Indonesia dan juga beberapa negara ASEAN demi menopang pertumbuhan mereka di jangka pendek dan menengah. Serenceng produk-produk ekspor andalan Indonesia ke Tiongkok antara lain minyak nabati, batu bara, ferro alloy, dan produk kertas.

Yang berikutnya ialah faktor relokasi. Selama pandemi, negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Jepang tampaknya sadar bahwa ketergantungan produksi yang berlebihan pada Tiongkok bisa jadi menyakitkan apabila terjadi gejolak di masa mendatang. Oleh karena itu, mereka kini mencoba untuk memindahkan basis industrinya dari Tiongkok ke tempat-tempat alternatif. Selama pandemi kita melihat adanya perkembangan ekspor yang cukup meyakinkan ke negara-negara tersebut. Momentum ini tentu harus terus dipacu sehingga melimpahi manfaat bagi ekonomi Indonesia di jangka menengah dan panjang.

Pada akhirnya, lorong sempit itu berhasil kita lalui. Meski di ujung lorong ternyata tersemburat tantangan baru. Lantas, siapa yang kita temui di lorong tersebut, gadis cantik atau begal bengis? Tidak ada tafsir tunggal, karena ini sangat personal.

BERITA TERKAIT