02 November 2020, 02:55 WIB

Pemilu 2020 AS, Nilai, Prinsip dan Praktik Trumpism


Suzie S. Sudarman Ketua Pusat Kajian Wilayah Amerika Universitas Indonesia | Kolom Pakar

AMERIKA sejak tahun 1990 memiliiki blok pemilih yang jelas menunjukkan perbedaan tajam antara yang mengutamakan soal pendapatan dan yang lebih mementingkan isu moral. Banyak pemuka agama menentang banyak tindakan afirmatif pemerintah atau keputusan politik yang dipandang menentang nilai-nilai tradisional Amerika.


Perilaku pemilih AS dan perubahan demografi

Sekalipun Trumpism (ideologi politik, cara memerintah, sebuah gerakan yang diasosiasikan dengan Presiden Trump) lebih menyuarakan keluhan kelompok kulit putih. Namun, dukungan kelompok Kristen berkulit putih nyata, karena yang menyebutkan dirinya Kristen mayoritas lebih cenderung menjadi pemilih Partai Republik, hanya separuhnya yang menjadi pemilih Partai Demokrat.

Di tahun 2020 ini, terjadi peningkatan pendaftaran untuk menjadi pemilih di seluruh negara bagian Amerika Serikat. Juga, telah terjadi pergeseran jumlah orang yang memilih dengan cara meminta surat dalam surat-surat suara (mail in ballot). Biasanya, yang melakukan pemilihan dengan cara ini ialah pemilih Partai Republik. Kini, tampaknya lebih banyak pemilih Partai Demokrat.

Pemilih ini, datang lebih awal dan jumlahnya jauh lebih besar daripada tahun 2016. Diperkirakan, 150 juta rakyat Amerika akan berpartisipasi dalam pemilu kali ini. Sekalipun, banyak penghalang (voter suppression) dan penyalahgunaan kantor pos oleh pemerintah Trump.

Mayoritas pemilih akan melakukan pemilihan partai politik yang sama di setiap tingkat pemerintahan (straight party ticket). Sampai sekarang sudah mencapai jumlah 100 juta rakyat A merika yang memilih.

Negara bagian sabuk karat (rust belt states) yakni negara bagian di bagian Utara AS yang tadinya industrial dan kemudian mengalami kemunduran ekonomi, di tahun 2016 memilih Donald Trump, polling terakhir menunjukkan bahwa Wakil Presiden Joe Biden unggul di Pennsylvania, Michigan, dan Wisconsin.

Kelompok pemilih baru kaum millennials dan generasi Z atau zillen nials menjadi titik lemah Partai Republik saat ini, karena pengaruh perilaku Trumpism. Wakil Presiden Biden meluaskan daya tarik Partai Demokrat bagi para pemilih muda. Padahal mereka akan memilih dan cenderung negatif terhadap Donald Trump, dan Partai Republik, sebagaimana telah terjadi dalam pemilihan umum 2008 yang memenangkan Presiden Obama.

Telah terjadi transisi generasi dari kelompok baby boomers, sekalipun. Generasi yang berusia lanjut cenderung masih mengungguli pemilih muda. Presiden Trump lebih mengutamakan para pemilih berusia lanjut, tinggal di kota-kota, tidak berpendidikan tinggi, dan para penginjil.

Partai Republik menjadi sangat resah karena mayoritas generasi muda AS. 55% millennials berkulit putih, 22% orang Hispanik, sedangkan kaum zillennials 14% berkulit hitam, 5% Asia, 5% lainnya. Ada 23 juta generasi muda yang punya hak pilih, 16 juta memilih di tahun 2016, dan sekarang ada 63 juta yang punya hak pilih.

Penting menunggu hasil negara bagian yang berayun (swing states) Texas, Georgia, Ohio, Iowa, North Carolina, Florida, Arizona, Pennsylvania, Wisconsin, Michigan, dan Minnesota, dan saat ini Biden unggul sedangkan Trump unggul tipis di Florida dan Arizona. Presiden Trump harus menang di 7 negara bagian, sedangkan Wakil Presiden Biden hanya butuh untuk unggul di satu negara bagian yang diperebutkan.

Yang menguntungkan saat ini, belum tampak gangguan dari Rusia, sekalipun Dan Coats, mantan Direktur Inteligen Nasional, mengatakan bahwa Rusia masih akan intervensi. Calon ketiga yang mengganggu kemungkinan suara terpecah juga tidak ada. Kelompok lanjut usia tampaknya kecewa dengan cara Donald Trump menangani pandemi covid-19, dan pelanggarannya atas nilai-nilai, prinsip, dan praktik yang selama ini membuat Amerika menjadi tempat yang didambakan rakyat negeri lain, dan menjadi suar (beacon) seluruh dunia.

Presiden Trump, dianggap telah melanggar kelaziman bangsa Amerika untuk berbuat baik (decent) dan berempati. Kecenderungan untuk mengutamakan kepentingan partai dan melakukan kebohongan publik telah membuat banyak para pemilih Presiden Trump untuk tidak memilihnya kembali.

Negera-negara sekutu Amerika Serikat juga diperlakukan Trump dengan tidak baik. Kalau Wakil Presiden Biden bisa menang telak, hal itu akan menguntungkan Partai Republik juga karena GOP akan terhindarkan dari melanjutkan taktik pembelahan negeri melalui cara-cara yang rasis dan memolarisasi. Banyak kalangan Partai Republik, kaum militer AS, dan mantan pejabat dalam administrasi Partai Republik yang menyatakan dukungan pada Joe Biden.

 

MI/Seno

Ilustrasi MI

 


Makna pemilu AS

Pertama-tama jelas bahwa pergeseran paradigma yang lebih mengutamakan nilai-nilai agama tidak seperti apa yang diharapkan

Sebab, perilaku Donald Trump yang dianggap kurang baik. Keabsahan program-program untuk membuat A merika jaya lagi tampak semakin hari semakin tidak terwujud. Perang dagang banyak merugikan para petani AS. di wilayah perdesaan, kalangan yang tinggal di kota kecewa dengan perilaku Presiden Trump yang tidak menghargai kaum perempuan, Presiden Trump memperlakukan kaum perempuan Amerika seperti berada di tahun 50-an.

Yang utama ketidakmampuan Presiden Trump untuk menjadi pemimpin yang baik, dalam menanggulangi pandemi menjadi ketakutan tersendiri dari para pemilih Amerika, karena sudah banyak korbannya. Ratusan ribu rakyat Amerika meninggal dunia dan sampai saat ini belum ada rencana untuk mempersiapkan soal perawatan kesehatan. Padahal, Partai Republik ingin mengakhiri Affordable Care Act atau Obama Care.

Warga yang sudah memiliki penyakit (pre-existing condition) akan semakin sulit mendapatkan perawatan kesehatan. Kebijakan imigrasi akan tetap sama dalam pemerintahan Trump yang kedua, dan Trump tidak banyak mengusulkan hal-hal baru yang diharapkan warga Amerika.

Bagi sebagian besar kalangan liberal. masa depan mereka dibayangi Hakim Agung yang sekarang jumlahnya menjadi 6–3 dan akan mengubah banyak hal dengan doktrin konservatif originalism, yakni mengembalikan Konstitusi Amerika Serikat ke saat di tetapkan tahun 1787. Semua rasa waswas yang diungkapkan para pemilih bisa dibayangkan akan memindahkan pilihan mereka ke calon Partai Demokrat.


Bagaimana hubungan luar negeri jika Biden menang

GDP growth dari kepresidenan Donald Trump ternyata sangat mengecewakan sejak Presiden Eisenhower hingga kini Presiden Trump hanya berhasil meningkatkan 1,2% GDP Amerika dan semakin besar jumlah orang yang kehilangan mata pencaharian.

Amerika Serikat membutuhkan sebuah cara baru untuk menggerakkan perekonomiannya yang mau tidak mau berkaitan dengan hubungan A.S. dengan negara-negara lainnya. Globalisasi tampaknya kini lebih akrab dimaknai sebagai globalisasi yang dirantai (chained globalization). Sebagai contoh, nyata bahwa perekonomian AS dan China terlalui erat berkaitan dan sulit dipisahkan (decoupled).

Di bawah pengaruh globalisasi yang dirantai itu, pemahaman soal keterkaitan ekonomi dan risiko yang muncul dibutuhkan jika ingin memisahkannya. Karena, kesalahan yang dilakukan bisa mengeskalasi akibatnya dan menimbulkan permusuhan.

Banyak sudah terwujud jaringan global (global networks), dan dengan lebih memahami bagaimana jaringan ini berfungsi, dan bagaimana satu dan lain hal saling berkaitan. Amerika Serikat harus mampu menyatukan soal ekonomi dan keamanan, Departemen Perdagangan harus memahami isu keamanan dan Departemen Pertahanan harus mulai tertarik pada hal yang berkembang di sektor swasta. Kongres harus mewujudkan kembali kantor untuk menimbang teknologi (Office of Technology Assessment) yang dihapus tahun 1990-an karena konflik antarpartai.

Presiden Biden akan kembali menghubungi para sekutu Amerika Serikat, mendorong upaya mengatasi perubahan iklim, Biden juga tidak menginginkan perang dengan China, Perjanjian Non Proliferasi atau START Treaty yang baru dengan Rusia akan diprioritaskan Presiden Biden.

Mengenai Afghanistan, belum ada tanda-tanda bahwa AS akan berkaitan dengan kelompok Taliban. Namun, kemungkinan akan mengurangi keterlibatan militer AS soal Yaman, Biden akan mengurangi dukungan pada Arab Saudi untuk berperang di Yaman.

Korea Utara diharapkan dapat mengurangi kekuatan senjata nuklirnya. Soal Timur Tengah, Presiden Biden akan menggerakkan kembali usulan lama, yakni Dua Negara Palestina dan Israel (Two State Solution). Untuk melakukan semua inisiatif baru, Presiden Biden akan membangun State Department kembali. Indonesia akan memainkan peran penting sebagai mitra AS di bidang ekonomi dan keamanan.

BERITA TERKAIT