16 March 2023, 09:52 WIB

Balas Jasa, Suriah Tawarkan Bantuan untuk Rusia


Cahya Mulyana |

DALAM kunjungan ke Moskow, Rabu (15/3), Presiden Suriah Bashar al-Assad menawarkan dukungan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin dalam konflik dengan Ukraina

Pertemuan antara kedua pemimpin di Moskow itu terjadi ketika ribuan warga Suriah berdemonstrasi di Suriah barat laut yang dikuasai pemberontak untuk menandai 12 tahun sejak dimulainya protes prodemokrasi pada 2011.

Dalam pertemuan yang disiarkan televisi itu, Assad mengatakan Rusia memerangi neo-Nazi dan Nazi lama di Ukraina. Tanpa memberikan bukti, Assad mengatakan Barat telah menerima para Nazi lama dan sekarang mendukung mereka.

Baca juga: Rusia Bantah Serang Drone AS di Laut Hitam

Kyiv dan Barat mengatakan tuduhan Rusia bahwa Ukraina telah menjadi sarang Nazisme adalah dalih tidak berdasar untuk perang agresi yang tidak beralasan di Ukraina. 

Menyambut Assad di awal pertemuan yang diadakan pada peringatan 12 tahun pemberontakan yang berubah menjadi perang saudara di Suriah, Putin menekankan kontribusi yang menentukan militer Rusia.

Assad berterima kasih kepada Putin karena mendukung kedaulatan Suriah dan integritas teritorial, mencatat bahwa dukungan Kremlin tetap kuat meskipun terjadi pertempuran di Ukraina. 

Baca juga: Vladimir Putin Sebut Jerman Masih Dijajah AS

“Meskipun Rusia sekarang juga melakukan operasi khusus, posisinya tetap tidak berubah,” kata Assad.

Ia menggunakan istilah operasi militer khusus Kremlin untuk perang di Ukraina. Moskow telah memberikan dukungan politik yang kuat kepada Assad di PBB dan secara aktif memediasi untuk membantu memperbaiki hubungan pemerintahnya dengan kekuatan regional.

Dukungan militer Rusia untuk Assad juga membantunya membalikkan keadaan dalam perang saudara yang dimulai pada 2011 sebagai gerakan prodemokrasi. 

Penindasan brutal yang dimulai selama pemberontakan Musim Semi Arab, memicu perang saudara berdarah dan kompleks yang telah merenggut lebih dari 500.000 jiwa dan menyebabkan jutaan orang mengungsi.

Di Kota Idlib, para demonstran mengibarkan bendera revolusioner dan memegang spanduk bertuliskan 'Rakyat menuntut jatuhnya rezim' dan 'Kebebasan dan martabat untuk semua warga Suriah'. 

Daerah Idlib adalah benteng pemberontak besar terakhir di luar kendali pasukan Assad yang didukung Rusia.

Daerah yang dikuasai pemberontak di utara dan barat laut Suriah, yang dikendalikan oleh kelompok Islamis dan pejuang yang didukung Turki, adalah rumah bagi lebih dari empat juta penduduk, setidaknya setengahnya telah mengungsi dari bagian lain negara itu.

Bencana melanda wilayah itu bulan lalu, ketika gempa dahsyat melanda Suriah dan Turki, menewaskan hampir enam ribu orang di seluruh Suriah. 

Rusia berupaya memperbaiki hubungan Suriah-Turki. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov sebelumnya mengatakan bahwa pembicaraan akan fokus pada hubungan bilateral Turki-Suriah.

Perang saudara Suriah 2011 membuat tegang hubungan antara Damaskus dan Ankara, yang telah lama mendukung kelompok pemberontak yang menentang Assad. Turki memutuskan hubungan diplomatik dengan Suriah segera setelah perang dimulai.

Analis mengatakan Moskow sekarang ingin menjembatani kesenjangan antara kedua negara yang melihat musuh bersama dalam kelompok Kurdi di Suriah utara, digambarkan sebagai teroris oleh Ankara dan didukung oleh Washington. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah mengindikasikan dia dapat bertemu dengan Assad.

Diplomat dari Rusia, Turki, Suriah dan Iran akan bertemu di Moskow minggu ini untuk membuka jalan bagi pertemuan para menteri luar negeri. Namun, pertanyaan kompleks perlu diselesaikan, terutama seputar kehadiran pasukan Turki di Suriah utara.

Pemerintahan Assad telah diisolasi secara politik sejak awal perang, tetapi dia telah menerima telepon dan bantuan dari para pemimpin Arab setelah gempa Februari. 

Simpati internasional setelah gempa tampaknya telah mempercepat pemulihan hubungan regional, dengan beberapa menyerukan dialog dengan Suriah dan membawa negara itu kembali ke Liga Arab yang beranggotakan 22 negara.

Sebagai bagian dari pemulihan hubungan yang sedang berlangsung, menteri luar negeri Mesir dan Yordania melakukan kunjungan pertama mereka ke Damaskus sejak konflik dimulai pada Maret 2011 dan bertemu dengan Assad. 

Dia juga berterima kasih kepada Putin karena telah mengirimkan tim penyelamat dan melibatkan militernya yang berbasis di Suriah untuk melakukan upaya penyelamatan dan membantu mengatasi dampak gempa. (AFP/Z-1)

BERITA TERKAIT