27 December 2022, 09:30 WIB

Palestina Bukan Ukraina, AS dan Eropa Tutup Mata atas Kekejian Israel


Cahya Mulyana |

BENTROKAN, penggerebekan, dan pembunuhan salah satu jurnalis, hanya sedikit serpihan kekerasan Israel terhadap rakyat Palestina selama 2022. Kutukan, kecaman dan keberatan penduduk dunia tidak digubris oleh negara Yahudi itu, sekalipun datang dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang enggan menjatuhkan sanksi.

Organisasi semua negara-negara di planet Bumi itu menyatakan tahun ini sebagai tahun paling mematikan bagi warga Palestina. Khususnya mereka yang hidup di Tepi Barat yang telah dijajak Israel sejak 2006.

Sedikitnya terdapat enam peristiwa besar yang memilukan bagi rakyat Palestina yang suaranya telah hilang di teling Israel dan dunia. Pertama konflik di Gaza. Kurang dari 15 bulan setelah pengeboman di Israel, Jalur Gaza menjadi bulan-bulanan tentara Zionis.

Aksi yang kebal hukum itu merenggut 49 warga Palestina, termasuk 17 anak-anak. Penangkapan seorang pemimpin Jihad Islam Palestina (PIJ) di Tepi Barat oleh pasukan Israel menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi, yang menyebabkan Israel memperkuat kehadiran militernya di perbatasan antara Israel dan Gaza.

Pada 5 Agustus, pesawat tempur Israel melancarkan gelombang serangan udara ke Gaza, yang ditanggapi oleh PIJ dengan menembakkan roket ke Israel. Konflik tersebut akhirnya berhenti setelah tiga hari, setelah gencatan senjata yang dimediasi oleh Mesir mulai berlaku.

Salah satu alasan utama konflik tidak meningkat adalah keputusan Hamas yang telah memerintah Gaza selama 15 tahun, untuk menghindari pertempuran. Namun kota yang sempat direnovasi itu kembali hancur oleh kebiadaban Israel yang tanpa satu pun sanksi diberikan dunia..

Ketidakadilan lain yang dirasakan warga Palestina adalah serangan militer Israel di Tepi Barat yang berpusat di kota Jenin dan Nablus. Fenomena tersebut dimulai pada September 2021 dengan pembentukan kelompok pertama, Brigade Jenin, di kamp pengungsi kota setelah pembunuhan pejuang Israel Jamil al-Amouri pada bulan Juni.

Setelah itu diikuti pembentukan Brigade Nablus, Sarang Singa, Brigade Balata, Brigade Tubas, dan Brigade Yabad. Sementara kelompok-kelompok tersebut terdiri dari anggota berbagai partai tradisional Palestina, kelompok-kelompok baru ini menolak untuk bergabung dengan partai atau gerakan besar.

Sementara kelompok-kelompok itu fokus pada bentrok dengan pasukan Israel sebagai tanggapan atas serangan yang dilakukan hampir setiap hari. Mereka juga melakukan penembakan di pos pemeriksaan militer Israel.

Kemunculan kelompok-kelompok ini adalah yang pertama kali sejak Intifada kedua pada 2000-2005, kelompok-kelompok terorganisir melawan pasukan Israel di Tepi Barat. Pada akhir Intifadah, atau pemberontakan itu, sebagian besar senjata di wilayah itu berada di bawah kepemilikan Otoritas Palestina (PA).

Aksi brutal Israel yang diabaikan PBB lainnya adalah penggerebekan dan pembunuhan kepada warga Palestina yang dilakukan setiap hari. Pada Maret, Israel meluncurkan kampanye militer yang disebut Break the Wave yang mencakup penggerebekan, penangkapan massal, dan pembunuhan di Tepi Barat, dengan fokus pada Jenin dan Nablus.

Warga sipil yang menghadapi tentara Israel selama penggerebekan dan orang-orang yang tidak terlibat telah terbunuh. Pejuang Palestina menjadi sasaran utama pembunuhan yang ditargetkan Israel.

Pasukan Israel menewaskan sedikitnya 170 warga Palestina di Tepi Barat dan menduduki Yerusalem Timur pada 2022, termasuk lebih dari 30 anak. Sebanyak 9.000 lainnya telah terluka.

Beberapa pembunuhan telah menyebabkan kemarahan khusus di kalangan warga Palestina, termasuk baru-baru ini pada 12 Desember, ketika seorang anak berusia 16 tahun di Jenin ditembak mati saat berdiri di atap rumahnya menonton serangan tentara Israel.

Seorang warga Palestina berusia 23 tahun juga dibunuh oleh seorang tentara Israel di depan umum pada 2 Desember. Pembunuhan itu difilmkan dan warga Palestina menggambarkannya sebagai eksekusi.

PBB hanya Prihatin

Pengamat, diplomat, dan kelompok hak asasi manusia (HAM) hanya menyatakan keprihatinan atas penggunaan kekuatan mematikan yang berlebihan oleh Israel di Tepi Barat tahun ini, yang menyebabkan tingginya jumlah pembunuhan. Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Ham sebelumnya telah mencatat bahwa pasukan Israel sering menggunakan peluru tajam dan membunuh warga Palestina hanya dengan dalih curiga atau tindakan pencegahan.

Tidak cukup sampai di situ, tindakan yang melanggar nilai-nilai kemanusiaan terus ditunjukkan Israel di Palestina. Itu seperti dalam pembunuhan Shireen Abu Akleh pada 11 Mei.

Pasukan Israel menembak mati jurnalis veteran Al Jazeera Shireen Abu Akleh saat meliput serangan militer di kamp pengungsi Jenin. Abu Akleh adalah koresponden TV berdarah Palestina-Amerika berusia 51 tahun dan bekerja selama 25 tahun untuk Al Jazeera Arabic.

Pembunuhannya menyebabkan protes internasional dan mengirimkan gelombang kejutan ke seluruh dunia. Lagi dan lagi, Israel seolah tidak pernah merasa bersalah dan takut akan sanksi yang tidak pernah dijatuhkan PBB.

Pasukan Israel menyerang para pelayat Abu Akleh. Terlepas dari upaya otoritas Israel, ribuan warga Palestina memenuhi jalan-jalan Yerusalem untuk pemakaman.

Berbagai investigasi telah menemukan Israel bertanggung jawab atas pembunuhannya, dan Israel akhirnya mengakui pada September. Namun, otoritas Israel menolak untuk meluncurkan penyelidikan kriminal.

Kekerasan akan lebih dekat dengan warga Palestina di 2023 karena Israel dikuasai oleh pemimpin yang membenci Ramallah. Mereka berasal dari partai paling kanan dengan komandannya Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Dia didukung partai Likud dan membentuk aliansi dengan partai-partai Zionis dan ultraortodoks religius, memenangkan 64 mayoritas di Knesset yang beranggotakan 120 orang. Blok terbesar ketiga dalam hasil pemilu adalah Aliansi Zionis Religius – penggabungan partai dengan nama yang sama yang dipimpin oleh Bezalel Smotrich, dan partai Kekuatan Yahudi yang dipimpin oleh Itamar Ben-Gvir.

Kedua tokoh kontroversial itu dikenal sering menghasut kekerasan terhadap warga Palestina dan secara terbuka mendorong pembangunan permukiman ilegal di Tepi Barat. Sementara Ben-Gvir, yang sebelumnya menyerukan deportasi warga Palestina.

Kisah tragis lain, serangan pemukim Israel yang menargetkan warga Palestina di Tepi Barat. Itu meningkat dan menjadi lebih berani dan terkoordinasi pada 2022. Setidaknya tiga warga Palestina dibunuh oleh pemukim Israel tahun ini.

“Bukti yang mengganggu dari pasukan Israel sering memfasilitasi, mendukung dan berpartisipasi dalam serangan pemukim, membuat sulit untuk membedakan antara pemukim Israel dan kekerasan negara,” kata pejabat PBB dalam sebuah pernyataan pada 15 Desember.

Selama 2022 menjadi tahun keenam dari peningkatan serangan pemukim Israel di Tepi Barat yang terjajah. “Pemukim Israel bersenjata dan bertopeng menyerang warga Palestina di rumah mereka, menyerang anak-anak dalam perjalanan ke sekolah, menghancurkan properti dan membakar kebun zaitun, dan meneror seluruh komunitas dengan impunitas penuh.”

Antara 600.000 dan 750.000 pemukim Israel tinggal di 250 komplek pemukiman ilegal yang tersebar di Tepi Barat dan Yerusalem Timur. (Aljazeera/OL-13)

Baca Juga: Raja Belanda Sampaikan Maaf kepada Korban Perbudakan

BERITA TERKAIT