01 December 2022, 09:25 WIB

Usai Bentrokan, Guangzhou Cabut Aturan Pembatasan Sosial Covid-19


 Cahya Mulyana |

PIHAK berwenang Tiongkok mencabut pembatasan Covid-19 di Kota Guangzhou dan Chongqing. Kedua kota itu sempat menjadi tempat bentrokan antara demonstran dan polisi pada Selasa (29/11).

Setelah berhari-hari protes luar biasa di negara itu yang juga memicu aksi solidaritas internasional.

Misalnya, Amerika Serikat dan Kanada mendesak Tiongkok untuk tidak menyakiti atau mengintimidasi pengunjuk rasa yang menentang penguncian Covid-19.

Pada Rabu (30/11) sore, pihak berwenang tiba-tiba mengumumkan pencabutan penguncian di sekitar setengah distrik di selatan kota Guangzhou. Pengumuman resmi memerintahkan pejabat lokal untuk menghapus pengetatan.

Baca juga: Protes Kebijakan Nol-Covid Tiongkok Tingkatkan Tekanan Ekonomi

Mereka juga mengumumkan penghentian pengujian PCR massal. Seorang penduduk mengatakan bahwa dalam waktu satu jam setelah pengumuman, mereka melihat staf keamanan apartemen dengan cepat pergi, dan banyak warga bergegas keluar dengan barang bawaan untuk melarikan diri.

Kota Chongqing di barat daya akan mengizinkan kontak dekat pasien Covid-19 yang memenuhi persyaratan tertentu dan izin karantina di rumah. Pelonggaran pembatasan, yang terjadi meski kasus meningkat di kota, tidak meluas ke semua distrik.

Beberapa daerah, termasuk bagian Haizhu, tempat pengunjuk rasa bentrok dengan polisi pada Selasa (29/11) malam, menurut saksi dan rekaman, tetap berada di bawah pembatasan. Kota ini mencatat hampir 7.000 kasus Covid pada Selasa.

Di Haizhu telah terjadi beberapa protes dan bentrokan dengan polisi selama sebulan terakhir, dan menjadi tempat protes terbaru dalam gelombang pembangkangan sipil yang meningkat secara dramatis sejak pekan lalu.

Seorang penduduk Guangzhou menyaksikan sekitar 100 petugas polisi berkumpul di desa Houjiao di distrik Haizhu dan menangkap tiga pria.

Haizhu, sebuah distrik berpenduduk lebih dari 1,8 juta orang, telah menjadi penyumbang besar kasus Covid-19 di Guangzhou dan telah dikunci sejak akhir Oktober.

Juru Bicara Keamanan Nasional Gedung Putih John Kirby mengatakan AS membela pengunjuk rasa damai Tiongkok.

"Kami tidak ingin melihat pengunjuk rasa dilukai secara fisik, diintimidasi, atau dipaksa dengan cara apa pun. Itulah yang dimaksud dengan protes damai dan itulah yang terus kami perjuangkan apakah itu di Tiongkok atau Iran atau di tempat lain di seluruh dunia, ”katanya.

Perdana Menteri (PM) Kanada. Justin Trudeau, mengatakan bahwa setiap orang di Tiongkok harus diizinkan untuk memprotes dan menikmati kebebasan berekspresi, dan bahwa warga Kanada mengawasi dengan cermat protes terhadap kebijakan nol-Covid negara itu.

“Kami akan terus memastikan bahwa Tiongkok tahu kami akan membela hak asasi manusia, kami akan mendukung orang-orang yang mengekspresikan diri mereka sendiri," ujarnya.

Ketidakpuasan dengan strategi pencegahan Covid yang ketat di Tiongkok selama tiga tahun pandemi telah memicu protes di banyak kota. Pihak berwenang Tiongkok telah mencari orang-orang yang berkumpul pada protes akhir pekan.

Jumlah orang yang ditahan pada demonstrasi dan tindak lanjut tindakan polisi tidak diketahui. Kementerian luar negeri Tiongkok mengatakan hak dan kebebasan harus dilaksanakan dalam kerangka hukum.

Polisi dikerahkan di Beijing dan Shanghai pada untuk mencegah protes lebih lanjut terhadap pembatasan pandemi yang telah mengganggu kehidupan jutaan orang dan merusak ekonomi.

Hugh Yu, yang mengatakan dia berpartisipasi dalam protes Lapangan Tiananmen 1989 dan sekarang tinggal di Kanada, meminta warga Kanada dan pemerintah Kanada untuk berbicara menentang tindakan Tiongkok.

“Banyak orang tidak ingin mati dalam diam. Saya tidak ingin berdiri di sini dan berbicara dengan kalian. Tapi aku tidak punya pilihan,” jelasnya.

Tiongkok memulangkan mahasiswa dan membanjiri jalan dengan polisi dalam upaya untuk membubarkan protes anti-pemerintah yang paling besar dalam beberapa dekade terakhir.

Dalam upaya nyata untuk mengatasi kemarahan pada kebijakan nol-Covid, pihak berwenang juga mengumumkan rencana untuk meningkatkan vaksinasi orang tua. (The Guardian/Cah/OL-09)

BERITA TERKAIT