29 November 2022, 21:03 WIB

Rusia Sebut AS dan Eropa Tengah Bertikai


Cahya Mulyana |

RUSIA menduga hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) tengah renggang. Penyebabnya akibat pertikaian dan perbedaan pandangan menyangkut kerja sama bisnis.

"(AS) tidak berniat membagi pendapatannya. Sebaliknya, dia mencuri simpanan terakhir dari mitranya yang sudah tua dan mengantongi uang tanpa keraguan," kata mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev.

Menurutnya, hubungan antara AS dan UE kemungkinan besar akan berakhir dengan perselisihan. Pernyataan tersebut dibuat di tengah sejumlah laporan yang menyatakan negara-negara UE keberatan dengan sikap AS yang oportunis menyikapi krisis di Ukraina.

Washington disebut makin membuat kondisi bisnis di dalam negeri menarik bagi perusahaan UE dan mendorong negara lain untuk membeli produknya. Sementara itu, pasar barang-barang Eropa menyusut, sebagian karena keputusannya untuk memisahkan diri dari Rusia.

Baca juga: Rusia Gunakan Musim Dingin Sebagai Senjata

"Kamu tidak bisa benar-benar mempercayai pelanggan kaya itu. Persis seperti itu, UE tidak dibolehkan. UE dapat memutuskan diri dengan pasangannya yang curang dan memulai kehidupan baru yang bebas", imbuhnya.

Namun UE, kata dia, belum memiliki keberanian melawan kecurangan AS tersebut. Pekan lalu, media Rusia Politico menggambarkan kemarahan Eropa karena persepsi bahwa Washington mendapat untung dari krisis energi.

Beberapa pejabat senior blok itu kesal dengan fakta bahwa pemasok energi AS menjual gas alam cair (LNG) ke negara-negara UE dengan harga empat kali lebih tinggi daripada di dalam negeri, sementara kontraktor militer diuntungkan dengan menjual lebih banyak senjata ke Ukraina.

Pejabat UE juga menunjuk pada Undang-Undang Pengurangan Inflasi AS dan dampak insentif keuangan untuk bisnis ramah lingkungan yang diberikannya terhadap perusahaan-perusahaan Eropa yang mencoba bersaing. (Russia Today/OL-4)

BERITA TERKAIT