06 November 2022, 13:00 WIB

AS Kerahkan Pesawat B-1B dalam Latihan Militer, Korut Sebut Tindakan Intimidasi


 Cahya Mulyana |

AMERIKA Serikat (AS) mengerahkan pesawat pengebom supersonik B-1B dalam latihan militer terbesar dengan Korea Selatan (Korsel). Korea Utara (Korut) menilainya sebagai intimidasi yang dibalas dengan rentetan uji coba rudal balistik.

"Setidaknya satu pembom B-1B berpartisipasi pada hari terakhir latihan angkatan udara gabungan AS-Korea Selatan yang berakhir pada Sabtu (5/11)," kata Kementerian Pertahanan Korsel.

Militer Korsel juga mengatakan Korut menembakkan empat rudal balistik jarak pendek ke laut. Latihan militer dengan nama Vigilant Storm melibatkan sekitar 240 pesawat tempur termasuk jet tempur canggih F-35 dari kedua negara telah memicu reaksi kemarahan dari Korut.

Pyongyang selama sepekan terakhir meluncurkan lusinan rudal ke laut, termasuk rudal balistik antarbenua (ICBM) yang memicu peringatan evakuasi di Jepang utara.

Kementerian Luar Negeri Korut menggambarkan tindakan militer itu sebagai tanggapan yang tepat terhadap Vigilant Storm, yang disebutnya sebagai histeria konfrontasi militer AS.

Baca juga: Korut Tembakkan Rentetan Artileri ke Zona Penyangga

Pyongyang mengatakan akan menanggapi dengan setiap upaya oleh pasukan musuh jika melanggar kedaulatan atau kepentingan keamanannya. AS telah menempatkan empat pembom di Guam sejak akhir Oktober, menurut kantor berita Korea Selatan, Yonhap.

Korsel telah meminta AS untuk meningkatkan penyebaran aset strategis, yang meliputi kapal induk, kapal selam nuklir, dan pembom jarak jauh seperti B-1B.

Setelah pembicaraan dengan kepala Pentagon Lloyd Austin di Washington, Menteri Pertahanan Korsel Lee Jong-sup mengatakan AS setuju untuk menggunakan aset strategis AS ke tingkat yang setara dengan penyebaran konstan melalui peningkatan frekuensi dan intensitas penyebaran aset strategis di dalam dan sekitar Semenanjung Korea.

Pesawat-pesawat itu terakhir kali muncul di wilayah itu pada 2017 selama aksi provokatif Korut. Pyongyang membenci pertunjukan kekuatan militer Amerika seperti itu dari jarak dekat dan menggambarkan B-1B sebagai pembom strategis nuklir meskipun pesawat itu dialihkan ke persenjataan konvensional pada pertengahan 1990-an.

Latihan militer Vigilant Storm dijadwalkan berakhir pada Jumat (4/11), tetapi AS memutuskan untuk memperpanjang pelatihan hingga Sabtu (5/11), sebagai tanggapan atas serangkaian peluncuran balistik Korut.

Korsel pada Jumat (4/11) meluncurkan 80 pesawat militer setelah melacak sekitar 180 penerbangan oleh pesawat tempur Korut.

Kepala Staf Gabungan Korea Selatan mengatakan pesawat-pesawat tempur Korut terdeteksi di berbagai daerah pedalaman dan di sepanjang pantai timur dan barat negara itu, tetapi tidak terlalu dekat dengan perbatasan Korea.

Militer Korsel melihat sekitar 180 jalur penerbangan, tetapi tidak jelas berapa banyak pesawat Korut yang terlibat.

Pyongyang menuduh Washington memobilisasi sekutunya dalam kampanye menggunakan sanksi dan ancaman militer untuk menekan Korut agar melucuti senjata secara sepihak.

"Provokasi yang berkelanjutan pasti akan diikuti oleh tindakan balasan yang berkelanjutan," kata pernyataan itu.

Pejabat Korea Selatan mengatakan ada indikasi Korut dalam beberapa minggu mendatang dapat meledakkan perangkat uji coba nuklir pertamanya sejak 2017.

Analis mengatakan Korut berusaha memaksa AS untuk menerimanya sebagai kekuatan nuklir dan berusaha untuk menegosiasikan konsesi ekonomi dan keamanan dari posisi yang kuat. (Aljazeera/Cah/OL-09)

BERITA TERKAIT