26 October 2022, 10:38 WIB

PBB Ungkap Dampak Nyata Pemanasan Global


Cahya Mulyana |

KEMATIAN satwa banyak disebabkan akibat cuaca panas dampak dari krisis iklim yang semakin meningkat. Sementara pemerintah di sebagian besar negara kaya terus memberikan anggaran lebih banyak untuk subsidi bahan bakar fosil daripada kompensasi untuk negara-negara miskin yang tersiksa perubahan iklim.

Hampir setengah triliun jam kerja hilang pada 2021 karena panas ekstrem. Ini sebagian besar mempengaruhi pekerja pertanian di negara-negara miskin, memotong pasokan makanan dan pendapatan.

Laporan itu disusun kelompok Lancet Countdown yang fokus pada isu kesehatan dan perubahan iklim dan berjudul Health at the Mercy of Fossil Fuels. Catatan ini dibuat 100 ahli dari 51 institusi yang tersebar di setiap benua dan diterbitkan menjelang KTT iklim UN Cop27 di Mesir.

“Krisis iklim membunuh kita,” kata Sekretasi Jenderal PBB Antonio Guterres menanggapi laporan tersebut.

“Ini merusak tidak hanya kesehatan planet kita, tetapi kesehatan orang-orang di mana pun melalui polusi udara, berkurangnya ketahanan pangan, risiko wabah penyakit menular yang lebih tinggi, rekor panas ekstrem, kekeringan, banjir, dan banyak lagi,” imbuhnya.

Dia mengatakan kesehatan manusia, mata pencaharian, anggaran rumah tangga dan ekonomi nasional sedang terpukul, karena kecanduan bahan bakar fosil yang lepas kendali.

“Ilmunya jelas, investasi besar-besaran dan masuk akal dalam energi terbarukan dan ketahanan iklim akan menjamin kehidupan yang lebih sehat dan aman bagi orang-orang di setiap negara,” ucapnya.

Baca juga:  Jutaan Emisi Karbon dari Kebakaran Hutan Perparah Krisis Iklim

Kepala Lancet Countdown di University College London (UCL), Marina Romanello, melihat kecanduan terus-menerus terhadap bahan bakar fosil. Pemerintah dan perusahaan terus mendukung industri bahan bakar fosil yang merugikan kesehatan masyarakat.

Laporan tersebut melacak 43 indikator kesehatan dan iklim, termasuk paparan panas yang ekstrem. Ditemukan kematian terkait panas pada populasi yang paling rentan, bayi di bawah satu tahun dan orang dewasa di atas 65 tahun meningkat sebesar 68% selama empat tahun terakhir dibandingkan dengan 2000-2004.

“Gelombang panas tidak hanya sangat tidak nyaman, tetapi juga mematikan bagi orang-orang yang memiliki kerentanan yang meningkat,” kata Romanello.

Panas yang ekstrem juga menyebabkan orang tidak dapat bekerja, dengan 470 miliar jam kerja hilang secara global pada tahun 2021.

“Ini adalah peningkatan sekitar 40% dari tahun 1990-an dan kami memperkirakan pendapatan terkait dan kerugian ekonomi sekitar US$700 miliar,” ucapnya.

Sekitar 30% lebih tanah mengalami kekeringan ekstrem dibandingkan dengan 1950-an. Dampak ini menyebabkan meningkatnya kelaparan, kata laporan itu.

Periode panas pada 2020 dikaitkan dengan 98 juta lebih banyak orang yang tidak dapat memperoleh makanan yang mereka butuhkan, dibandingkan dengan rata-rata dari 1981 hingga 2010, dan proporsi populasi global yang mengalami kerawanan pangan juga meningkat.

“Pendorong terbesar dari ini adalah perubahan iklim,” tukasnya.

Strategi dari 15 perusahaan minyak dan gas terbesar sangat bertentangan dengan mengakhiri darurat iklim, kata laporan itu. Peneliti London School of Economics Elizabeth Robinson mengatakan dampak perubahan iklim sangat memprihatinkan mengingat rantai pasokan rentan terhadap guncangan yang bermanifestasi dalam harga pangan yang meningkat pesat. (The Guardian/OL-5)

BERITA TERKAIT