25 October 2022, 11:20 WIB

Militer Myanmar Kerahkan 2 Jet Serang Konser Musik dan 60 Orang Tewas


Cahya Mulyana |

JUNTA militer Myanmar mengerahkan dua pesawat jet tempur meluncurkan beberapa rudal ke tengah pertunjukkan musik yang dihadiri 500 orang dan merupakan perayaan ulang tahun kelompok pemberontak Kachin.

Sebanyak 60 orang tewas seketika dan hampir seratus orang lainnya luka-luka yang dilarang mendapatkan perawatan medis.

"Sekitar 50 orang tewas termasuk anggota Tentara Kemerdekaan Kachin (KIA) di Negara Bagian Kachin dan warga sipil,” kata Kolonel Naw Bu.

Ia mengatakan acara itu merupakan perayaan ulang tahun kelompok pemberontak etnis terkemuka yang menjadi musuh junta Myanmar. Konser yang berlangsung pada Minggu (23/10) itu pun berakhir dengan tumpahan darah dan jeritan massal.

Junta Myanmar, kata dia, menyerang kerumunan massa itu dengan menggunakan dua jet militer Myanmar upacara yang diadakan oleh KIA pada Minggu (23/10), sekitar pukul 20:40 waktu setempat. "Sekitar 70 orang terluka," tambahnya.

Baca juga: Paket Berisi Bom Meledak di Penjara Myanmar, 8 Tewas dan 18 Terluka

Seorang juru bicara KIA, menyebutkan korban tewas lebih dari 60 orang, dengan sekitar 100 terluka dalam serangan pada hari perayaan berdirinya Organisasi Kemerdekaan Kachin.

Acara tersebut diadakan di sebuah pangkalan yang juga digunakan untuk pelatihan militer oleh KIA, sayap bersenjata organisasi tersebut.

Dia mengatakan pesawat militer junta menjatuhkan empat bom pada perayaan itu yang dihadiri 300 hingga 500 orang. Seorang penyanyi Kachin dan pemain keyboard termasuk di antara yang tewas.

"Mereka yang tewas termasuk perwira dan tentara Kachin, musisi dan pemilik bisnis penambangan batu giok dan warga sipil lainnya," katanya.

Mereka juga termasuk 10 orang yang hadir dengan status VIP militer dan bisnis Kachin yang duduk di depan panggung, dan juru masak yang bekerja di belakang panggung, katanya.

Kantor PBB di Myanmar mengaku sangat prihatin dengan laporan serangan udara tersebut.

"Apa yang tampak sebagai penggunaan kekuatan yang berlebihan dan tidak proporsional oleh pasukan keamanan terhadap warga sipil yang tidak bersenjata tidak dapat diterima dan mereka yang bertanggung jawab harus dimintai pertanggungjawaban," kata Wakil Direktur Regional Amnesty International, Hana YoungYoung.

Ia mengungkapkan kekhawatirannya bahwa serangan udara itu adalah bagian dari pola serangan udara yang melanggar hukum oleh militer.

“Militer telah menunjukkan ketidakpedulian yang kejam terhadap kehidupan sipil dalam kampanye yang meningkat melawan lawan. Sulit dipercaya bahwa militer tidak mengetahui kehadiran warga sipil yang signifikan di lokasi serangan ini," jelasnya.

"Militer harus segera memberikan akses ke tenaga medis dan bantuan kemanusiaan kepada mereka yang terkena dampak serangan udara ini dan warga sipil lainnya yang membutuhkan,” kata  Hana YoungYoung.

Myanmar telah berada dalam kekacauan politik sejak pengambilalihan militer Februari 2021, yang disambut dengan protes nasional yang damai.

Setelah tentara dan polisi membunuh para demonstran yang menentang kekuasaan militer, warga sipil di seluruh negeri membentuk unit-unit bersenjata sebagai bagian dari Angkatan Pertahanan Rakyat untuk melawan kekuasaan militer.

Menurut kelompok hak asasi Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik, yang mendokumentasikan pembunuhan dan pelanggaran hak asasi manusia di Myanmar, setidaknya 2.370 orang telah tewas dan lebih dari 15.900 ditangkap sejak kudeta.

KIA telah bertempur secara teratur dengan militer selama beberapa dekade, dan pertempuran sengit juga meletus setelah perebutan kekuasaan militer tahun lalu.

Pemerintah Persatuan Nasional Myanmar di pengasingan, yang didirikan oleh politisi terpilih secara demokratis yang dicopot dari jabatannya dalam kudeta, mengutuk serangan yang dilaporkan. (Aljazeera/Cah/OL-09)

BERITA TERKAIT