19 October 2022, 15:19 WIB

AS, Inggris, dan Prancis Bahas Penjualan Drone Iran ke Rusia


Cahya Mulyana |

Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Prancis membahas dugaan penjualan pesawat udara nirawak atau drone Iran ke Rusia pada pertemuan tertutup Dewan Keamanan PBB pada Rabu (19/10). Ukraina menuduh Moskow menggunakan pesawat tak berawak asal Iran untuk menyerang warga sipil.

"Meskipun kami tidak akan mengomentari kebocoran intelijen yang diklaim, kami telah memperingatkan sejak Juli bahwa Iran berencana untuk memberikan senjata ke Rusia untuk digunakan melawan Ukraina," kata seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS.

Ia mengatakan banyak bukti bahwa drone Iran telah digunakan untuk menyerang warga sipil Ukraina dan sasaran militer. "Meskipun Iran terus berbohong tanpa malu-malu tentang keterlibatannya," tambahnya.

Ia mengatakan kehadiran pelatih Iran di Krimea akan lebih jauh melibatkan Iran dalam membantu Rusia. AS memperingatkan sanksi terhadap mereka yang memberikan amunisi ke Rusia.

Dua pejabat senior Iran dan dua diplomat Iran mengatakan Iran telah berjanji untuk memberi Rusia rudal permukaan ke permukaan juga drone. Ukraina telah mengundang para ahli PBB untuk memeriksa drone asal Iran yang digunakan oleh Rusia. Iran pun terancam sanksi Resolusi 2231. "Kami ingin mengundang para ahli PBB untuk mengunjungi Ukraina pada kesempatan sedini mungkin untuk memeriksa UAV asal Iran yang ditemukan untuk memfasilitasi implementasi resolusi Dewan Keamanan PBB 2231," ungkap surat Duta Besar Ukraina untuk PBB kepada Dewan Keamanan PBB.

Surat itu, tertanggal 14 Oktober, turut menceritakan pada akhir Agustus pesawat drone Iran seri Shahed dan Mohajer dipindahkan ke Rusia.

Iran juga telah mengirim pelatih ke Ukraina untuk membantu Rusia membimbing penggunaan drone. Para pelatih Iran beroperasi dari pangkalan militer Rusia di Krimea.

Mereka berasal dari Korps Pengawal Revolusi Islam, bagian dari militer Iran yang dianggap Washington sebagai organisasi teroris. (CNA/OL-12)

BERITA TERKAIT