10 October 2022, 18:28 WIB

Air France dan Airbus Hadapi Dakwaan Pembunuhan Massal


Cahya Mulyana |

AIR France dan Airbus menghadapi dakwaan pembunuhan atas kecelakaan fatal pada 2009. Pesawat di bawah dua entitas itu jatuh saat menempuh penerbangan dari Paris menuju Brasil yang menewaskan seluruh penumpang.

Keluarga korban dan beberapa pakar penerbangan mengatakan pilot tidak cukup terlatih. Akibatnya gagal mengatasi data kecepatan yang mati karena gangguan cuaca.

Pesawat dengan kode penerbangan AF 447 dari Rio de Janeiro jatuh di Samudra Atlantik pada 1 Juni 2019 dini hari. Itu setelah memasuki zona dekat khatulistiwa yang dikenal dengan turbulensi yang kuat.

Airbus A330 membawa 12 awak dan 216 penumpang. Insiden ini menjadi kecelakaan paling mematikan dalam sejarah kedua entitas tersebut.

Butuh waktu hampir dua tahun untuk menemukan sebagian besar badan pesawat dan menganalisa kotak hitam. Air France dan Airbus didakwa karena kesalahan yang dibuat oleh pilot yang disorientasi.

Namun, hakim investigasi yang mengawasi kasus tersebut membatalkan dakwaan pada 2019, sebuah keputusan yang membuat marah seluruh keluarga korban.

Jaksa mengajukan banding atas keputusan tersebut dan pada 2021 di pengadilan Paris dan memutuskan adanya kecukupan bukti untuk melanjutkan kasus ini.

Ophelie Toulliou, yang kehilangan saudara laki-lakinya dalam penerbangan itu, mengatakan bahwa sangat penting mengungkap kebenaran dan meminta Air France dan Airbus disanksi tegas.

"Tetapi pesannya juga untuk membuat perusahaan yang berpikir bahwa mereka tidak tersentuh mengerti, Anda seperti orang lain dan jika Anda membuat kesalahan, mereka akan dihukum," katanya.


Baca juga: Ilmuwan Argentina Khawatir setelah Serentetan Kematian Paus


Pengadilan akan mendengarkan kesaksian dari lusinan pakar penerbangan dan pilot selama dua bulan persidangan, dan masing-masing perusahaan menghadapi denda maksimum 225.000 Euro (US$220.000). Juga akan ada analisis menit-menit terakhir rekaman di kokpit sebelum pesawat jatuh.

Dalam rekaman di kokpit terdapat percakapan yang menyatakan, "Kami kehilangan kecepatan," ujar seorang pilot.

Pilot memutuskan untuk menaikan ketinggian pesawat dan mengabaikan peringatan 'Stall' yang berbunyi karena mencapai 11.600 meter (38.060 kaki).

"Saya tidak tahu apa yang terjadi," timpal salah satu pilot.

Kecelakaan itu mendorong perombakan protokol pelatihan di seluruh industri penerbangan sipil. Khususnya untuk mempersiapkan pilot menangani tekanan hebat dari keadaan yang tidak terduga.

Pilot juga sekarang diharuskan untuk terus melatih respons macet pada simulator. "Itu adalah perubahan besar setelah kecelakaan ini untuk semua perusahaan penerbangan sipil. Sebelumnya, itu adalah sesuatu yang dipelajari pilot dalam pelatihan dasar dan kemudian mereka tidak pernah dilatih lagi," kata seorang eksekutif maskapai kepada AFP, tanpa menyebut nama.

Kesaksian perwakilan dari 476 anggota keluarga korban akan turut diperdengarkan. Tapi Nelson Faria Marinho, presiden asosiasi kerabat korban Brasil, mengatakan, "Saya tidak mengharapkan apa pun dari persidangan ini. Bahkan jika ada hukuman, siapa yang akan dihukum? CEO? Mereka sudah lama diganti di Airbus dan Air France," katanya.

Dia akan diwakili oleh mantan pilot Prancis Gerard Arnoux, yang telah memberi nasihat kepada beberapa keluarga korban dan menulis sebuah buku berjudul Rio-Paris tidak Merespons: AF447, Kecelakaan yang Seharusnya tidak Terjadi. (OL-16)

 

BERITA TERKAIT