04 October 2022, 11:21 WIB

Jepang Minta Rakyatnya Berlindung dari Rudal Korut


Cahya Mulyana |

KOREA Utara (Korut) yang bersenjata nuklir menembakkan rudal balistik ke Jepang pada Selasa (4/10). Aksi ini menjadi yang pertama kalinya dalam lima tahun terakhir dan mendorong peringatan bagi penduduk Jepang serta menghentikan operasi kereta api untuk wilayah utara.

"Itu tindakan Korut barbar, pemerintah akan terus mengumpulkan dan menganalisis informasi," kata Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida.

Pemerintah Jepang memperingatkan warganya untuk berlindung ketika rudal itu melintas dan jatuh di Samudra Pasifik. Itu adalah rudal Korut pertama yang mengikuti lintasan seperti itu sejak 2017 dan Tokyo mengatakan jangkauan 4.600 km (2.850 mil).

Rudal itu menjadi senjata yang dimuntahkan Korut dengan daya jelajah terjauh yang melintasi negara tetangga. Peluncuran rudal ini merupakan kali kelima oleh Pyongyang dalam 10 hari.

Itu dilakukan di tengah ketegangan militer Korut dengan Amerika Serikat (AS), Korea Selatan dan Jepang. Pekan lalu, ketiga negara melakukan latihan trilateral anti-kapal selam yang mencakup kapal induk AS, yang berhenti di Korea Selatan untuk pertama kalinya sejak 2017.

Uji coba rudal Korut tersebut menarik tanggapan dari Washington. Militer AS juga telah unjuk kekuatan di wilayah tersebut.

Tokyo tidak mengambil langkah untuk menembak jatuh rudal itu. Menteri Pertahanan Yasukazu Hamada mengatakan Jepang tidak akan mengesampingkan opsi apa pun, termasuk kemampuan serangan balik.

Korea Selatan juga mengatakan akan meningkatkan militernya dan meningkatkan kerja sama sekutu.

"Serangkaian tindakan Korea Utara, termasuk peluncuran rudal balistiknya yang berulang, mengancam perdamaian dan keamanan Jepang, kawasan, dan komunitas internasional, dan menimbulkan tantangan serius bagi seluruh komunitas internasional, termasuk Jepang," kata Juru Bicara Pemerintah Jepang Hirokazu Matsuno.

Sementara Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol menyebut tes rudal itu sembrono dan akan membawa tanggapan tegas dari militer negaranya, sekutunya, dan komunitas internasional. Dia telah mendorong lebih banyak kekuatan militer untuk menghalangi Korut.

Asisten Sekretaris Departemen Luar Negeri AS untuk urusan Asia Timur dan Pasifik, Daniel Kritenbrink, mengatakan Tiongkok perlu berbuat lebih banyak untuk memerangi penghindaran sanksi oleh Korut di perairan pantainya. Beijing dan Rusia harus bekerja untuk menutup jaringan pengadaan Pyongyang.

"Kami mendesak (Korut) untuk mengambil jalan dialog, berkomitmen untuk diplomasi yang serius dan berkelanjutan, dan menahan diri dari kegiatan destabilisasi lebih lanjut," kata Kritenbrink.

Baca juga: Lagi, Korea Utara Tembakkan Rudal Balistik

Dia mengatakan Washington tetap terbuka untuk berdialog dengan Korut tanpa prasyarat. Para pejabat di Tokyo dan Seoul mengatakan rudal itu terbang antara 4.500 hingga 4.600 kilometer (2.850 mil) hingga ketinggian maksimum sekitar 1.000 km.

Kepala Staf Gabungan Korea Selatan (JCS) mengatakan itu merupakan rudal balistik jarak menengah (IRBM) yang diluncurkan dari Provinsi Jagang Korut. Korut telah menggunakan provinsi itu untuk meluncurkan beberapa tes baru-baru ini, termasuk beberapa rudal yang diklaim hipersonik.

Tes tersebut mendorong East Japan Railway Co 9020.T menangguhkan operasi kereta api di wilayah utara. Tidak ada laporan kerusakan pesawat atau kapal dari rudal tersebut.

"Rincian penerbangan awal menunjukkan rudal itu mungkin adalah IRBM Hwasong-12, yang diluncurkan Korut pada 2017 sebagai bagian dari rencananya yang mengancam untuk menyerang pangkalan militer AS di Guam," ungkap mantan Perwira Angkatan Laut Korea Selatan yang sekarang mengajar di Universitas Kyungnam, Kim Dong-yup.

Hwasong-12 digunakan dalam tes 2017 yang melintasi Jepang, dan Kim mencatat bahwa itu juga diuji coba dari Provinsi Jagang pada Januari 2022. Menerbangkan rudal jarak jauh memungkinkan para ilmuwan Korut untuk menguji rudal di bawah kondisi yang lebih realistis.

"Dibandingkan dengan lintasan tinggi yang biasa, ini memungkinkan mereka mengekspos kendaraan masuk kembali jarak jauh ke beban termal dan tekanan masuk kembali atmosfer yang lebih mewakili kondisi yang akan mereka alami dalam penggunaan dunia nyata," kata Ankit Panda dari Carnegie Endowment for International Peace yang berbasis di AS.(AFP/OL-5)

BERITA TERKAIT