28 September 2022, 14:03 WIB

Zelensky Kecam Hasil Referendum pro-Rusia sebagai Lelucon


Ferdian Ananda Majni |

Presiden Volodymyr Zelensky mengutuk referendum yang dipentaskan Rusia di empat wilayah pendudukan Ukraina yang melaporkan mayoritas besar mendukung bergabung dengan Rusia sebagai "lelucon”.

Hasil referendum datang di tengah meningkatnya ketegangan antara Rusia dan Barat atas dugaan sabotase dua pipa gas Laut Baltik antara Rusia dan Eropa.

Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengatakan dia bermaksud untuk menjatuhkan sanksi baru atas referendum "palsu" Rusia di wilayah pendudukan Ukraina.

"Kanada tidak dan tidak akan pernah mengakui hasil referendum palsu ini atau upaya aneksasi ilegal Rusia atas wilayah Ukraina," kata Trudeau dalam sebuah pernyataan.

Sabotase adalah penyebab paling mungkin kebocoran di dua pipa gas Laut Baltik antara Rusia dan Eropa, kata para pemimpin Eropa Selasa, setelah seismolog melaporkan ledakan di sekitar pipa Nord Stream.

Para pemimpin dan pakar Eropa mengutip kemungkinan campur tangan yang disengaja dengan jaringan pipa di tengah pertikaian energi dengan Rusia yang dipicu oleh perang di Ukraina. Baik pipa Nord Stream saat ini memasok energi ke Eropa.

Ketua Uni Eropa Ursula Von der Leyen mengatakan "sabotase" menyebabkan kebocoran. Dia mengancam respons sekuat mungkin terhadap gangguan yang disengaja terhadap infrastruktur energi Eropa.

Denmark mengatakan sebelumnya bahwa mereka percaya tindakan yang disengaja oleh pelaku tak dikenal berada di balik kebocoran besar di dua pipa gas alam yang mengalir di bawah Laut Baltik dari Rusia ke Jerman.

Ukraina akan membela warganya di wilayah-wilayah yang menurut pihak berwenang Rusia memilih untuk bergabung dengan Rusia, kata Presiden Volodymyr Zelensky, Selasa.

"Kami akan bertindak untuk melindungi rakyat kami: baik di wilayah Kherson, di wilayah Zaporizhia, di Donbas, di wilayah yang saat ini diduduki di wilayah Kharkiv dan di Krimea," katanya dalam sebuah video yang diposting di Telegram.

"Lelucon di wilayah pendudukan ini bahkan tidak bisa disebut tiruan dari referendum” pungkasnya. (AFP/OL-12)

BERITA TERKAIT