30 August 2022, 10:25 WIB

Lagi, Rudal Hantam PLTN Zaporizhzhia yang Dikuasai Militer Rusia


Cahya Mulyana |

PEMBANGKIT Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhzhia kembali diserang rudal. Sebuah satelit menunjukkan kerusakan akibat serangan artileri yang menghantam atap gedung di sebelah reaktor nuklir yang dikepung pasukan Ukraina.

Serangan tersebut terjadi di saat tim dari pengawas nuklir PBB berencana mengunjungi PLTN Zaporizhzhia.

Citra satelit dengan resolusi tinggi milik perusahaan Amerika Serikat (AS), Maxar Technologies menunjukkan kerusakan di PLTN terbesar di Eropa ini.

PLTN yang berlokasi Enerhodar tersebut juga terancam oleh kebakaran hutan. Pemerintah wilayah yang didirikan Rusia mengklaim pasukan Ukraina menghantam atap gedung yang digunakan untuk menyimpan bahan bakar reaktor.

Kantor berita RIA Novosti mengutip pejabat yang ditempatkan di Rusia mengungkapkan tingkat radiasi di pembangkit listrik itu masih normal dan situasinya sudah terkendali.

Tim dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA) meninggalkan Austria dan telah tiba di ibukota Ukraina, Kyiv, Senin (30/8).

“Diharapkan misi itu akan mulai bekerja di pembangkit nuklir Zaporizhzhia dalam beberapa hari mendatang,” tulis Juru Bicara Kementerian Ukraina, Oleg Nikolenko.

Namun Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov mengatakan Rusia akan memastikan keamanan misi IAEA dan meminta negara-negara lain untuk meningkatkan tekanan pada pihak Ukraina untuk menghentikan potensi bencana di benua Eropa.

Baca juga: G7 Minta IAEA Diizinkan Pantau PLTN Zaporizhzhia

PLTN itu dikuasai pasukan Rusia sejak Maret lalu tetapi dijalankan oleh staf Ukraina.

Zaporizhzhia pun menjadi titik panas dalam konflik yang telah berubah menjadi perang gesekan yang terjadi terutama di timur dan selatan Ukraina enam bulan setelah Rusia melancarkan invasi.

“Kita harus melindungi keselamatan dan keamanan fasilitas nuklir terbesar di Ukraina dan Eropa,” kata Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi.

Tim IAEA yang dia pimpin mengunjungi PLTN Zaporizhzhia baru bisa bekerja akhir pekan ini. IAEA akan menilai kerusakan fisik, mengevaluasi kondisi para pekerja, mengukir standar keselamatan, dan keamanan.

“Tanpa berlebihan, misi ini akan menjadi yang tersulit dalam sejarah IAEA,” kata Menteri Luar Negeri Ukraina, Dmytro Kuleba.

PBB dan Ukraina telah menyerukan penarikan peralatan militer dan personel dari kompleks nuklir untuk memastikan itu bukan target.

Kedua belah pihak selama berhari-hari saling bertukar tudingan tentang serangan mereka.

Juru Bicara Kementerian Pertahanan Rusia, Igor Konashenkov mengatakan,"Saat ini, personel teknis penuh waktu sedang memantau kondisi teknis pembangkit nuklir dan memastikan operasinya. Situasi radiasi di area pembangkit listrik tenaga nuklir tetap normal,” katanya.

Sementara Badan Energi Nuklir Ukraina, Energoatom memperingatkan upaya Rusia untuk membersihkan alat militer mereka di pembangkit tersebut.

“Penjajah, mempersiapkan kedatangan misi IAEA, meningkatkan tekanan pada personel … untuk mencegah mereka mengungkapkan bukti kejahatan penjajah di pabrik dan penggunaannya sebagai pangkalan militer,” kata seorang pejabat Energoatom.

Gedung Putih melalui Juru Bicara Dewan Keamanan Nasional DPR John Kirby meminta Rusia harus menyetujui zona demiliterisasi di sekitar pembangkit nuklir Ukraina. Penutupan pabrik yang terkendali akan menjadi pilihan paling aman.

“Seperti yang telah kami katakan berkali-kali, pembangkit listrik tenaga nuklir bukanlah lokasi yang tepat untuk operasi tempur,” kata Kirby. (Aljazeera/Cah/OL-09)

BERITA TERKAIT