24 August 2022, 10:46 WIB

Ukraina Ancam Balas Rusia Jika Diserang saat Rayakan HUT


Cahya Mulyana |

UKRAINA merayakan kemerdekaan dari kekuasaan Soviet pada tahun 1991 pada Rabu (24/8) atau bertepatan dengan enam bulan diinvasi pasukan Rusia. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky memperingatkan risiko serangan brutal oleh Rusia dan mengatakan setiap serangan akan memicu respons yang kuat.

"Mereka akan menerima tanggapan, tanggapan yang kuat,” katanya dalam konferensi pers, Selasa (23/8).

Zelensky mengatakan Ukraina akan memulihkan kekuasaan atas wilayah Krimea yang dianeksasi oleh Rusia pada 2014. Zelensky telah memperingatkan pada akhir pekan bahwa Moskow mungkin mencoba sesuatu yang sangat buruk.

"Saya ingin mengatakan bahwa setiap hari respons ini akan tumbuh, itu akan menjadi lebih kuat dan lebih kuat," tambahnya.

Menurut dia, hari suka cita semua rakyat Ukraina itu dijadikan target oleh Rusia untuk melancarkan serangan yang paling besar. “Besok adalah hari penting bagi kita semua sayangnya, juga penting bagi musuh kita. Kita harus sadar bahwa provokasi Rusia yang menjijikkan dan serangan brutal mungkin terjadi besok.”

Kegelisahan berkembang di antara sekutu Ukraina karena menduga Moskow akan menargetkan serangan terhadap fasilitas pemerintah dan sipil. Amerika Serikat memperkuat kekhawatiran itu dengan kedutaan besarnya di Kyiv mengeluarkan peringatan keamanan.

Amerika memiliki informasi bahwa Rusia meningkatkan upaya untuk meluncurkan serangan terhadap infrastruktur sipil dan fasilitas pemerintah Ukraina dalam beberapa hari mendatang. "Departemen Luar Negeri memiliki informasi bahwa Rusia sedang meningkatkan upaya untuk melancarkan serangan terhadap infrastruktur sipil dan fasilitas pemerintah Ukraina dalam beberapa hari mendatang," kata Kedutaan Besar Amerika Serikat di Kyiv.

Warga Amerika harus meninggalkan Ukraina sesegera mungkin dengan cara mereka sendiri, lanjut perintah kedutaannya. “Kedutaan Besar AS mendesak warga AS untuk meninggalkan Ukraina sekarang menggunakan opsi transportasi darat yang tersedia secara pribadi jika aman untuk melakukannya.”

Spekulasi bahwa Rusia merencanakan serangan besar-besaran diantisipasi Ukraina dengan melarang acara peringatan kemerdekaan di Kyiv. Kekhawatiran itu juga meningkat di tengah klaim Rusia bahwa intelijen Ukraina bertanggung jawab atas bom mobil yang menewaskan Darya Dugina, 29, putri seorang analis politik sayap kanan Rusia.

Teresa Bo dari Al Jazeera, melaporkan dari Kyiv, mengatakan bahwa kota-kota Ukraina dalam siaga tinggi menjelang hari kemerdekaan. “Semua kota besar di Ukraina, termasuk Kyiv, dalam siaga tinggi, terutama setelah Presiden Zelensky memperingatkan bahwa Rusia mungkin mencoba melakukan serangan ganas setelah peringatan oleh badan intelijen Amerika Serikat bahwa Rusia mungkin merencanakan serangan terhadap gedung dan infrastruktur pemerintah. Dan juga setelah Rusia menyalahkan Ukraina – seorang wanita Ukraina berada di balik pembunuhan Darya Dugina,” kata Bo.

“Jadi, tentu saja, orang-orang di sini waspada. Tetapi Presiden Zelensky juga mengatakan hari ini bahwa jika Rusia melakukan serangan, Ukraina akan siap untuk merespons,” katanya.

Kantor Hak Asasi Manusia PBB mencatat 5.587 warga sipil telah tewas dan 7.890 terluka sejak 24 Februari hingga 21 Agustus. Penyebabnya karena serangan artileri, roket dan rudal.

UNICEF, badan anak-anak PBB, mengatakan sedikitnya 972 anak tewas atau terluka selama enam bulan perang di Ukraina. “Penggunaan senjata peledak telah menyebabkan sebagian besar korban anak-anak. Senjata-senjata ini tidak membedakan antara warga sipil dan kombatan, terutama bila digunakan di daerah berpenduduk,” kata pernyataan UNICEF.

Secara terpisah, kepala angkatan bersenjata Ukraina, Jenderal Valerii Zaluzhnyi mengatakan hampir 9.000 tentara Ukraina tewas selama melawan Rusia. Staf Umum Ukraina memperkirakan jumlah korban tewas dari militer Rusia mencapai 45.400 orang. (Aljazeera/OL-13)

Baca Juga: HUT Ukraina, Rusia Dituduh Serang PLTN Zaporizhia

BERITA TERKAIT