16 August 2022, 18:53 WIB

Infeksi Covid-19 Meningkat di Xinjiang, Diduga Dari Turis Tiongkok


mediaindonesia.com |

PIHAK berwenang Tiongkok di Xinjiang, menegaskan kepada siapapun yang kedapatan atau berani melanggar undang-undang karantina (tidak keluar rumah selama tiga pekan) akan dihukum. Hal ini menyusul wabah baru COVID-19 yang terkonformasi meningkat tajam sejak awal bulan ini.

Peringatan otoritas China ini dilakukan ketika ibu kota Daerah Otonomi Tibet (TAR) Lhasa, masuk dalam fase keadaan penguncian de facto selama tiga hari, di tengah meningkatnya jumlah kasus Covid-19 di sana.

Pihak berwenang mengumumkan telah menemukan 410 infeksi COVID-19 tanpa gejala baru di Xinjiang. Jumlah itu menambah warga yang terjangkit total menjadi 1.727 orang. Akibatnya, akses keluar masuk harus ke wilayah ini dikunci.

Kepada Radio Free Asia (RFA), Seorang pejabat di Kota Praja Langar Kabupaten Qorghas (dalam bahasa China, Huocheng), mengaku saat ini tengah mengawasi 10 keluarga di desa Yengiavat.

Pihak berwenang berjaga-jaga untuk memastikan tidak ada satu pun dari 10 keluarga itu yang meninggalkan rumah mereka. Juga memberi tahu penduduk bahwa sipapun termasuk 10 keluarga yang telah diawasi, akan ditahan hingga tiga minggu jika mereka keluar rumah.

“Kami memberi tahu warga bahwa mereka yang melanggar sistem, yaitu mereka yang turun ke jalan, akan dihukum dan dikirim ke 15-20 hari untuk ‘pendidikan ulang,'” kata pejabat yang enggan disebut namanya kepada RFA.

Salah satu Pemimpin Komite Perempuan Desa yang juga menolak disebutkan namanya, mengatakan kepada RFA bahwa obat-obatan dari Pemerintah China sedang didistribusikan kepada warga melalui pihak berwenang, meskipun dia tidak yakin jenis apa.

"Warnanya krem dan katanya bisa mencegah penyakit,” ungkapnya.

Awal pekan ini, media pemerintah China melaporkan bahwa pihak berwenang telah memerintahkan penduduk untuk dikarantina di kota Urumqi (Wulumuqi), Ghulja (Yining), Aksu (Akesu), Kumul (Hami), Chochek (Tacheng), Bortala (Bole), dan Kashgar (Kashi).
 
Seorang pejabat komunitas mengatakan bahwa infeksi baru diperkirakan dibawa oleh turis Tiongkok dari provinsi Gansu, dan wabah virus pertama di Ghulja ditemukan di desa Uchon Dungan.

Kepada RFA, beberapa masyarakat mengatakan penguncian di wilayah tersebut mulai berdampak buruk pada kehidupan sehari-hari penduduk, seperti petani yang tidak dapat mengurus ladang mereka, atau pemilik toko kelontong yang tidak dapat menjual bahan makanan atau barang-barang yang mudah rusak karena harus dijual dalam kurun waktu tertentu.

Beberapa Video yang diposting di media sosial dari wilayah tersebut, menunjukkan produk busuk di pasar yang telah ditutup akibat penguncian, sementara penduduk mengatakan mereka tidak dapat memperoleh sayuran segar saat dikurung di rumah mereka.

RFA berbicara dengan direktur keamanan desa Mazar di Ghulja, yang mengatakan bahwa hanya petani yang harus memperbaiki sistim irigasi atau harus segera memanen hasil pertanian atau perkebunan lah yang diizinkan meninggalkan rumah.

“Pintu rumah-rumah warga telah disegel, petani dengan kebutuhan mendesak yang diperbolehkan keluar secara bergilir. Petani terlebih dahulu harus mendapatkan persetujuan dari perangkat desa untuk pergi ke ladang,” Kata direktur keamanan tersebut.

Direktur keamanan mengatakan mereka yang terbukti melanggar penguncian menghadapi setidaknya 24 jam penahanan.

Seorang pejabat pemerintah di Desa Samyuzi Ghulja mengatakan kepada RFA bahwa para petani diizinkan untuk bekerja di ladang mereka di bawah pengawasan, dimana kamera keamanan telah dipasang di seluruh area untuk memantau apakah ada orang yang meninggalkan rumah mereka tanpa izin.

“Jika mereka ingin keluar untuk keperluan bertani, mereka akan didampingi aparat desa ke sawah. Kami telah memasang kamera keamanan di setiap rumah, untuk memastikan tidak ada yang mengabaikan penguncian,” jelasnya.

Sementara itu, penguncian de facto di Daerah Otonomi Tibet (TAR), di mana pihak berwenang China mengatakan mereka telah mendokumentasikan 20 infeksi COVID-19 bergejala dan 127 tanpa gejala.

Atas temuan tersebut, pejabat di ibu kota Lhasa memerintahkan operasi disinfeksi seluruh kota mulai 12-15 Agustus lalu, di mana siapapun tidak diperbolehkan meninggalkan rumah mereka.

Sumber-sumber di kota itu mengatakan perintah itu merupakan penguncian tiga hari secara de facto, meskipun para pejabat telah menahan diri untuk tidak menggunakan istilah itu.

Sementara warga yang telah dikonfirmasi positif  langsung dikarantina dan pengujian kepada warga lainnya juga diterapkan meskipun pihak berwenang tidak dapat atau gagal memastikan bahwa penduduk telah menjaga jarak yang tepat saat itu.

“Karena kasus COVID meningkat di Lhasa dan beberapa wilayah lain, orang-orang yang tinggal di hotel dan penginapan di daerah ini dan mungkin memiliki kontak dengan yang terinfeksi sekarang dikarantina untuk keselamatan,” kata seorang sumber di Tibet kepada RFA Tibetan.

“Orang-orang sedang menjalani pengujian terus menerus, Istana Potala dan situs keagamaan lainnya ditutup, sekolah telah menunda pembukaan kembali, dan orang-orang menimbun bahan makanan dan membeli masker wajah.” Lanjutnya.

Sementara itu, musim pariwisata musim panas terus berjalan lancar di Lhasa meskipun ada kekhawatiran bahwa ada penyebaran wabah dari pengunjung atau para pelancong Tiongkok yang tiba berbondong -bondong dengan pesawat, kereta api, dan mobil dari bagian lain Tiongkok, kata sumber itu.

“Peziarah religius Tibet yang ingin mengunjungi Lhasa dari seluruh wilayah mengalami kesulitan mendapatkan izin perjalanan, sementara turis China tidak memiliki masalah untuk mendapatkan izin untuk mengunjungi Tibet,” tambahnya.

Sumber lain dari Lhasa mengatakan kepada RFA bahwa mereka khawatir bandara Tibet tetap buka, dan dapat menyebabkan impor kasus tambahan ke wilayah tersebut.

 “Saya mengerti bahwa Lhasa akan dikunci mulai 12 Agustus, tetapi belum ada pemberitahuan resmi dari pemerintah dan Bandara Gonkar tetap buka seperti biasa,” kata sumber itu.

Selama lonjakan COVID-19 sebelumnya, pemerintah China tidak membatasi turis memasuki Tibet, terlepas dari kekhawatiran warga Tibet.  

Sekarang, karena kami melihat semakin banyak wabah COVID-19 dan situasinya tetap tidak pasti, kami khawatir tentang apa yang akan terjadi dalam beberapa hari ke depan.”

 Menurut peraturan setempat, hanya pelancong yang keluar dari Lhasa melalui Bandara Gonkar yang harus menjalani tes COVID-19 48 jam sebelum keberangkatan mereka dan memberikan bukti hasil negatif sebelum mereka dapat pergi.

Sementara jumlah infeksi terus meningkat di Lhasa, informasi tentang wabah semakin sulit didapat.

Pada hari Rabu, seorang pejabat China di Lhasa mengirimkan pemberitahuan yang memperingatkan orang-orang untuk tidak membagikan berita apa pun terkait COVID-19 di daerah tersebut, dan postingan media sosial tentang wabah tersebut menjadi jarang.

Pada hari Jumat, media pemerintah China melaporkan bahwa lima pejabat di Shigatse, kota terbesar kedua di Tibet dengan populasi sekitar 800.000 orang, telah diberhentikan karena tanggapan yang gagal terhadap wabah di wilayah tersebut.

Laporan itu mengatakan bahwa lima pejabat dicopot dari jabatan mereka karena “implementasi yang tidak memadai dari pekerjaan pencegahan dan pengendalian epidemi virus corona baru.”

Para pejabat tersebut telah menjabat sebagai kader di kabupaten yang telah ditetapkan sebagai daerah berisiko tinggi atau berisiko menengah untuk penyebaran COVID-19. (RFA/OL-13)

Baca Juga: Tiongkok Kembali Unjuk Kekuatan di Selat Taiwan

BERITA TERKAIT