15 August 2022, 11:50 WIB

Mantan Presiden Afganistan Salahkan AS


Cahya Mulyana |

Mantan Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani menyalahkan eks Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump atas kekerasan yang terjadi di negaranya. Menurut dia Washington memberikan kekuasaan kepada Taliban dan menarik pasukan menjadi sumber bencananya.

"Kami dikeluarkan dari meja perdamaian, dan proses perdamaian sangat cacat. Asumsi bahwa Taliban telah berubah adalah khayalan," katanya.

Konteks pembicaraan Ghani terkait kesepakatan AS dengan negara tersebut. Dia mengkritik pemerintah Afghanistan yang dikeluarkan dari pembicaraan itu di awal dialog terjadi.

Ia menuturkan jika kesepakatan Trump dengan Taliban adalah bencana. Terdapat pembajakan kekuasaan yang seharusnya diputuskan dan dijalankan oleh pemerintah Afghanistan yang dibajak.

"Prosesnya melanggar segala hal dari Acheson dan Marshall hingga Kissinger dan Baker, mengenai persiapan, mengenai organisasi, kami tidak pernah diajak berdiskusi," sambungnya.

Ghani mengatakan, Trump awalnya mengatakan proposal yang diajukan Afghanistan dan Asia Selatan akan menjadi landasan kesepakatan. "Perjanjian ini seharusnya bersyarat. Tapi tak satu pun dari kondisi inti tidak hanya diamati. Pemerintah, mitra kami, pemerintah AS menjadi penegak perjanjian Taliban pada kami, mengancam kami dengan penghentian bantuan, dengan segala bentuk tekanan yang mungkin untuk membebaskan 5.000 penjahat paling kejam, dan sebagainya," ungkap Ghani.

Pernyataan Ghani satu tahun setelah penarikan AS yang dari Afghanistan. Penarikan itu menyebabkan Taliban menguasai Afghanistan.

Negara ini kini memiliki tingkat pengangguran yang tinggi, kerawanan pangan yang melonjak dan kemunduran bagi perempuan yang mencari pendidikan.

Ghani, yang melarikan diri dari negara itu di tengah kekacauan dan berharap untuk kembali ke Afghanistan dalam waktu dekat. "Saya ingin bisa membantu negara saya sembuh dan saya berharap dapat melakukan itu dari tempat di mana setiap sel tubuh saya berada dan tanpanya saya selalu merasa asing," pungkasnya. (CNN/OL-12)

BERITA TERKAIT