11 August 2022, 14:45 WIB

Dubes Ukraina Mohon Jakarta Bela Muslim Tatar


Mediaindonesia.com |

DUTA Besar Ukraina untuk Indonesia Vasil Hamianin berharap pascakunjungan Presiden Indonesia Joko Widodo ke Ukraina dapat dilanjutkan dengan bantuan nyata yang terfokus bagi minoritas Muslim Tatar. Pasalnya, kondisi komunitas Muslim Tatar di wilayah Semenanjung Krimea sangat berat.

"Pada momentum Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia (HIMAS) dirayakan pada 9 Agustus, kami berharap komunitas Muslim Indonesia dapat memberikan dukungan nyata bagi komunitas Muslim Tatar di wilayah Krimea yang sangat menderita akibat invasi Rusia," tuturnya, Selasa (9/8).

Vasil Hamianin menjelaskan sejak 2014, wilayah tersebut dijajah Rusia dan hingga kini keseharian mereka terus menerus mengalami represi. "Muslim Tatar direpresi oleh Moskow yang merupakan mayoritas Kristen Ortodoks. Ironinya mereka juga tidak dilindungi Muslim Rusia karena mereka dianggap berbeda sehingga mereka kesulitan menjalankan ibadah," tuturnya.

Kondisi kehidupan Muslim Tatar semakin memprihatinkan akibat intensitas perang yang meningkat sejak Februari 2022 hingga kini. Tidak saja masjid yang rusak, umat Islam Tatar pun kesulitan beribadah akibat tekanan. Untuk itu tahun ini Ukraina yang akan memperingati Hari Kemerdekaan pada 24 Agustus menggelar Ukraine Platform Summit, ajang penggalangan bantuan secara daring (online) yang ditujukan bagi pembangunan kembali Ukraina. 

Vasil berharap Indonesia dapat memberikan bantuan nyata bagi bangsa Ukraina khususnya bagi minoritas Muslim Tatar yang membutuhkan sarana dan prasarana ibadah. "Kami berharap Yang Mulia Bapak Jokowi (Presiden Joko Widodo) dapat terlibat dalam Ukraine Platform Summit khususnya bagi umat Muslim Tatar di wilayah Krimea yang paling terdampak oleh serangan Rusia," tuturnya.

Presiden Joko Widodo (Jokowi), yang masuk dalam jajaran The Muslim 500: The World's 500 Most Influential Muslims 2022 atau tokoh muslim paling berpengaruh pada 2022, telah berkunjung ke Ukraina di tengah kekhawatiran terdampak konflik akibat serangan sepihak Rusia. Aksi Jokowi berkunjung ke wilayah konflik menyamai keberanian Presiden Soeharto ketika pada 1995 berkunjung ke Sarajevo ketika kondisi Bosnia dan Herzegovina masih bergejolak akibat perang saudara yang melibatkan Bosnia, Kroasia, dan Serbia.

Namun nama Indonesia dan Presiden Soeharto terpatri kuat bagi bangsa Bosnia dan Herzegovina karena menyumbang pembangunan Masjid Istiklal D┼żamija di Sarajevo. Hingga kini masjid tersebut kerap disebut sebagai Masjid Indonesia atau Masjid Soeharto.

Tidak seperti Soeharto, Jokowi memilih membangun masjid di Afghanistan yang bergejolak sebelum berkunjung. Pada 2014, Jokowi meneken Keputusan Presiden (Kepres) tentang pemberian hibah sebesar sebesar Rp5 miliar untuk membiayai pembangunan masjid di Ahmad Shah Baba Mina, Kabul, Afghanistan.

Namun itu bukan program Jokowi karena sekadar meneruskan komitmen Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk membangun Indonesian Islamic Center (IIC) yang terdiri dari masjid, poliklinik, guest house, dan perpustakaan di Afghanistan.
Hal tersebut ialah hasil kesepakatan dalam pertemuan antara Richard Holbrooke, utusan khusus Presiden Barrack Obama untuk Afghanistan dan Pakistan, dengan Wakil Presiden Boediono pada 2010 di Washington DC, Amerika Serikat. (RO/OL-14)

BERITA TERKAIT