11 August 2022, 09:17 WIB

Ukraina Tuding Rusia Serang Sekitar PLTN Zaporizhzhia


Cahya Mulyana |

UKRAINA menuduh Rusia melakukan serangan roket yang menewaskan 14 warga sipil di daerah dekat pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Zaporizhzhia. Negara-negara kaya dalam G7 memperingatkan kendali Rusia atas fasilitas itu membahayakan kawasan.

"Serangan semalam di wilayah Dnipropetrovsk di Ukraina tengah menewaskan 13 orang dan melukai 11 lainnya, dengan lima dilaporkan dalam kondisi serius," tulis Gubernur Dnipropetrovsk, Valentin Reznichenko di Telegram, Rabu (10/8).

Sebagian besar korban berada di kota Marganets, kata dia, tepat di seberang Sungai Dnipro dari PLTN Zaporizhzhia. "Itu adalah malam yang mengerikan," kata Reznichenko.

Ia pun mendesak warga untuk berlindung ketika mereka mendengar sirene serangan udara. "Saya meminta dan memohon kepada Anda, jangan biarkan Rusia membunuh Anda," tulisnya.

Gubernur Zaporizhzhia, Oleksandr Starukh mengatakan seorang wanita lain tewas setelah rudal Rusia menghantam sebuah desa di wilayah Zaporizhzhia pada Rabu (10/8), pagi.

Kepala dewan regional Mykola Lukashuk mengatakan serangan itu telah menghantam saluran listrik lokal, menyebabkan ribuan orang kehilangan listrik. Namun pihak militer Ukraina dan Rusia saling menuduh atas penembakan di sekitar PLTN yang memiliki enam reaktor itu.

Ukraina mengatakan Rusia telah menempatkan ratusan tentara dan menyimpan amunisi di fasilitas itu sejak mengambil alihnya pada 4 Maret.

Ketegangan ini menghidupkan kembali bencana nuklir Chernobyl 1986 di Ukraina pada era Soviet yang menewaskan ratusan orang dan menyebarkan kontaminasi radioaktif ke sebagian besar Eropa.

G7 mengutuk pendudukan Rusia dan meminta Moskow untuk segera mengembalikan kendali penuh atas pabrik tersebut. Staf Ukraina yang mengoperasikan pabrik harus dapat bekerja tanpa ancaman atau tekanan dan kendali Rusia atas pabrik itu membahayakan kawasan.

Dewan Keamanan PBB akan mengadakan pertemuan darurat Kamis untuk mengatasi krisis di PLTN tersebut. Pengawas keselamatan nuklir PBB, Badan Energi Atom Internasional (IAEA), mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa Direktur Jenderal Rafael Grossi akan memberi pengarahan singkat kepada pertemuan Dewan Keamanan.

Serangan itu terjadi sehari setelah ledakan besar di lapangan terbang Saki, pangkalan militer utama di semenanjung Krimea yang dicaplok Rusia. Moskow bersikeras bahwa ledakan itu disebabkan oleh amunisi yang meledak bukan karena tembakan Ukraina.

Penembakan

Pertempuran juga terjadi di Ukraina timur, di mana pasukan Rusia secara bertahap maju. Serangan di kota Bakhmut menewaskan sedikitnya enam orang dan melukai tiga lainnya, kata gubernur regional Pavlo Kyrylenko di Telegram, menambahkan bahwa 12 bangunan tempat tinggal rusak.

Kota itu diselimuti asap hitam dan putih yang timbul dari artileri dan serangan udara. Beberapa dari penduduk kota itu tinggal di bawah tanah dan tempat perlindungan bom. "Sebagian besar telah pergi. Ini sangat menakutkan. Ada banyak penembakan," kata Svitlana Klymenko, 62 tahun.

"Saya hanya ingin pergi untuk menjadi tua dengan cara yang normal, mati dengan kematian yang normal, bukan terbunuh oleh rudal," pungkasnya. (AFP/OL-13)

Baca Juga: Republik Bela Trump yang Rumahnya Digeledah FBI

BERITA TERKAIT