07 August 2022, 14:29 WIB

Militan Palestina Targetkan Jerusalem setelah 29 Tewas di Gaza


Mediaindonesia.com |

MILITAN Palestina di Jalur Gaza menembakkan roket ke Jerusalem pada Minggu (7/8) untuk pertama kali sejak konflik meningkat. Ini terjadi ketika Israel membombardir posisi Jihad Islam untuk hari ketiga dalam kekerasan yang telah menewaskan 29 orang.

Hitungan terbaru dari otoritas kesehatan di daerah kantong yang dikelola Islam itu mengatakan enam anak termasuk di antara mereka yang tewas sejak dimulainya agresi Israel pada Jumat (5/8), di samping 253 orang terluka. Pada Minggu Israel melanjutkan dengan pengeboman posisi militan Jihad Islam yang telah membalas dengan rentetan roket.

Tentara Israel mengatakan seluruh, "Kepemimpinan senior sayap militer Jihad Islam di Gaza telah dinetralisasi." Perdana Menteri Yair Lapid berjanji pada Minggu bahwa operasi akan berlanjut selama diperlukan.

Di Gaza, kementerian awalnya mengatakan 32 orang telah meninggal sejak Jumat, tetapi kemudian merevisi angkanya menjadi 29. Israel mengatakan memiliki bukti tak terbantahkan bahwa roket nyasar dari gerilyawan Jihad Islam bertanggung jawab atas kematian beberapa anak di Jabalia, Gaza utara, pada Sabtu (6/8).

Tidak segera jelas jumlah anak yang tewas dalam insiden di Jabalia. Seorang fotografer AFP melihat enam mayat di rumah sakit daerah, termasuk tiga anak di bawah umur.

Di Jerusalem, wartawan AFP mendengar dua ledakan saat roket dicegat di udara. Brigade Al Quds, sayap militer gerakan Jihad Islam, mengatakan telah menembakkan roket ke kota itu, tempat sirene serangan udara meraung.

Orang-orang Yahudi pada Minggu menandai hari peringatan Tisha Be'av dengan mengunjungi kompleks masjid Al Aqsa, yang dikenal dalam Yudaisme sebagai Temple Mount, di Jerusalem timur yang dicaplok Israel. Ketegangan di sana sebelumnya memicu kekerasan yang lebih luas. 

Kepala Hamas yang berbasis di Doha, Ismail Haniyeh, memperingatkan agar tidak mengizinkan orang Yahudi untuk menyerbu kompleks itu pada Minggu. Menurutnya, hal itu dapat menyebabkan krisis keamanan yang tidak terkendali. (OL-14)

BERITA TERKAIT