04 August 2022, 23:02 WIB

Penyelidik PBB Minta Maaf atas Pernyataan Lobi Yahudi


Mediaindonesia.com |

SEORANG penyelidik PBB dengan tegas meminta maaf pada Kamis (4/8) karena menggunakan istilah lobi Yahudi. Ini memicu tuduhan antisemitisme Israel dan menyerukan pengunduran dirinya.

Miloon Kothari, salah satu dari tiga anggota Komisi Penyelidikan PBB (COI) yang menyelidiki pelanggaran hak di Israel dan wilayah Palestina, memicu kemarahan setelah wawancara dengan publikasi online Mondoweiss, yang keluar pada 25 Juli. Ditanya tentang kritik negara-negara anggota terhadap komisi tersebut, Kothari menunjuk pada upaya yang lebih luas untuk melemahkan penyelidikan.

"Kami sangat kecewa dengan media sosial yang sebagian besar dikendalikan oleh lobi Yahudi atau LSM tertentu. Banyak uang yang dicurahkan untuk mencoba mendiskreditkan kami," katanya.

Baca juga: Blokade Israel Berkepanjangan Berpotensi Tutup Pembangkit Listrik Gaza

Kothari meminta maaf dalam surat kepada Federico Villegas, presiden Dewan Hak Asasi Manusia yang mengamanatkan COI.
"Saya ingin dengan tulus mengungkapkan penyesalan saya dan dengan tegas meminta maaf karena menggunakan kata-kata lobi Yahudi. Pelanggaran yang saya sebabkan dengan menggunakan kata-kata ini sangat membuat saya tertekan," katanya.

Dalam surat yang diterbitkan secara online oleh PBB, Kothari mengatakan dia sangat serius, "Kekhawatiran bahwa kata-kata saya dianggap dan dialami sebagai antisemitisme. Niat saya mengecam serangan pribadi tanpa henti dan pedas terhadap anggota komisi di media sosial dan beberapa publikasi yang diluncurkan untuk mendelegitimasi dan merusak pekerjaannya," katanya.

"Benar-benar salah bagi saya untuk menggambarkan media sosial sebagai sebagian besar dikendalikan oleh lobi Yahudi. Pilihan kata ini tidak benar, tidak pantas, dan tidak sensitif."

Baca juga: Israel Tuntut Penyelidik PBB Mundur karena Dituding Antisemitisme

Meirav Eilon Shahar, duta besar Israel di Jenewa, menulis kepada Villegas untuk memprotes komentar keterlaluan Kothari, termasuk beberapa yang terbukti antisemitisme. Beberapa duta besar, termasuk dari Inggris dan Amerika Serikat, juga mentweet kemarahan mereka. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT