04 August 2022, 19:02 WIB

Sejarah Kelam Bom Atom Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus


Meilani Teniwut |

BOM atom yang jatuh pada 6 dan 9 Agustus 1945 di Hirosima dan Nagasaki menjadi hari yang bersejarah bagi Jepang dan masyarakat di dunia. Aksi pengeboman tersebut dilakukan oleh Amerika Serikat sebagai bentuk balasan dari pihak AS yang lebih dulu diserang oleh Jepang pada 7 Desember 1941. 

Amerika Serikat menjatuhkan bom dengan persetujuan dari Britania Raya sebagaimana tertuang dalam Perjanjian Quebec. Dua operasi pengeboman yang menewaskan sedikitnya 129.000 jiwa ini merupakan penggunaan senjata nuklir masa perang untuk pertama kali dan satu-satunya dalam sejarah.

Sebelum pengeboman terjadi, ketegangan antara AS dan Jepang telah meningkat selama beberapa dekade sebelum Perang Dunia II. Jepang menduduki wilayah Tiongkok timur yang menyebabkan perang antara kedua negara pada 1937.

AS dan Jepang telah berperang selama hampir empat tahun, tepatnya sejak April 1941. Konflik berdarah dan pertempuran sengit di Pasifik telah merenggut nyawa jutaan orang Jepang dan AS. Perang di Eropa telah selesai hampir dua bulan sebelumnya, tepatnya Mei 1945, setelah Jerman menyerah tanpa syarat. AS sedang mempersiapkan invasi darat ke Jepang yang akan sangat sulit diperjuangkan. Setidaknya 500 ribu orang Amerika saja kemungkinan besar akan mati, menurut perkiraan pemerintah AS pada saat itu. Pada saat yang sama, AS sedang mengembangkan pembuatan bom nuklir sejak akhir 1930-an. Bom sudah siap pada musim panas 1945. 

Sekutu menyerukan Jepang untuk menyerah pada akhir Juli 1945 dan mengancam akan terjadi kehancuran total jika Jepang tak menyerah. Karena Jepang tak kunjung mengibarkan bendera putih, pada 6 Agustus 1945, satu bom uranium yang dijuluki Little Boy dijatuhkan di Hiroshima. Kota itu hancur, puluhan ribu orang tewas seketika, dan sebanyak 146.000 orang tewas tiga bulan setelah serangan. Banyak korban yang dilaporkan menderita kanker dan bentuk penyakit lain yang disebabkan oleh radiasi bom. Sejumlah besar bangunan hancur total atau rusak. Pihak berwenang Jepang menyadari serangan lain bisa terjadi setelah Hiroshima, tetapi memutuskan untuk bertahan daripada menyerah.

Serangan berikutnya, bom plutonium berjuluk Fat Man, jatuh di Nagasaki pada 9 Agustus. Sebanyak 80.000 orang tewas. Di kedua kota tersebut, sebagian besar orang yang meninggal ialah warga sipil. Jepang menyerah pada 15 Agustus, enam hari setelah serangan di Nagasaki. 

Kedua kota tersebut dibangun kembali setelah perang, meskipun Hiroshima dilanda angin topan pada September 1945 yang juga menyebabkan kehancuran besar. Sekitar 145.000 orang yang selamat dari salah satu pengeboman--disebut hibakusha dalam bahasa Jepang--masih hidup pada Maret 2019, menurut pemerintah Jepang. Peringatan telah dipasang di kedua kota untuk para korban pengeboman.

Alasan sekutu mengebom Hiroshima dan Nagasaki

Alasan sekutu memilih Kota Hiroshima dan Nagasaki sebagai target ledakan bom yaitu dua kota itu merupakan kota penting bagi militer Jepang. Hiroshima merupakan markas militer Jepang, sehingga sangat tepat menjadi target utama Amerika Serikat untuk melemahkan pihak Jepang. Hiroshima juga dikenal sebagai kota pelabuhan besar di Jepang. Oleh sebab itu, pada 6 Agustus 1945, Pesawat B-29 Enola Gay AS menjatuhkan bom uranium seberat 4,4 ton yang dinamai Little Boy di Hiroshima. Hiroshima dan Nagasaki dipilih sebagai target karena menjadi pusat militer dan industri. Kedua wilayah ini memasok sumber daya angkatan bersenjata Jepang, pembuatan senjata, dan teknologi militer lain. 

Nagasaki sebenarnya bukan menjadi target awal dari Amerika Serikat. Setelah pidato Presiden Truman, pada 25 Juli 1945, diputuskan Kyoto dihapus dari target pengeboman Amerika Serikat dan diganti Nagasaki. Nagasaki saat itu menjadi pangkalan militer angkatan laut dan selam Jepang yang cukup kuat. Nagasaki dibom menggunakan bom atom plutonium yang disebut Fat Man, tiga hari setelah Hiroshima, tepatnya pada 9 Agustus 1945. Tragedi bom atom Hiroshima dan Nagasaki menewaskan ratusan ribu jiwa, yang kemudian menandai berakhirnya Perang Pasifik.

Akibat bagi Jepang

Dengan penjatuhan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, banyak dampak negatif terhadap masyarakat Jepang seperti hancurnya bangunan karena kebakaran, luka bakar serius, efek radiasi yang dialami oleh korban sehingga para korban yang terkena radiasi dari bom atom dilabeli sebagai hibakusha atau yang diartikan sebagai orang yang terkena ledakan. Menurut Science Mag, bom Hiroshima menewaskan sekitar 90.000 sampai 120.000 orang yang meninggal baik seketika atau selama beberapa minggu dan bulan berikutnya karena cedera atau penyakit radiasi akut, akibat kerusakan sumsum tulang dan saluran usus. Bom yang meratakan Nagasaki 3 hari kemudian merenggut 60.000 hingga 70.000 nyawa. 

Perkiraan jumlah kematiannya kasar karena tidak ada mayat yang tersisa untuk dihitung di dekat hiposenter. "Panas dan energi secara harfiah menguapkan orang-orang di dekatnya. Banyak mayat hanyut ke laut, setelah korban luka bakar yang sekarat mencari bantuan di banyak sungai di Hiroshima," ujar sosiolog sains Susan Lindee dari University of Pennsylvania menulis dalam bukunya pada 1994 Suffering Made Real: American Science and the Survivors at Hiroshima.

Salah satu kekhawatiran yang paling mendesak adalah kemungkinan dampak radiasi pada anak-anak penyintas. Jelas bahwa pengeboman itu berdampak pada anak-anak yang masih dalam kandungan pada Agustus 1945, mengakibatkan peningkatan jumlah bayi yang lahir dengan ukuran kepala kecil. Radiasi pada orang dewasa menyebabkan perubahan genetik yang diwariskan dan cacat lahir pada keturunannya menunjukkan bahwa mungkin ada efek jangka panjang. Para penyintas bom nuklir, telah lama mengalami diskriminasi karena khawatir mereka mungkin mengalami gangguan fisik atau psikologis dan anak-anak mereka mungkin mewarisi cacat genetik. 

Stigma telah memengaruhi korban perempuan lebih besar daripada laki-laki. Peristiwa ini menjadi perdebatan di dunia, karena tetap menjadi satu-satunya bom nuklir yang digunakan dalam perang. Ada yang mengatakan kejadian ini mengakhiri Perang Dunia II lebih awal, yang akan menyebabkan lebih banyak korban di kedua belah pihak jika AS menginvasi Jepang. Yang lain mengatakan, penggunaan bom nuklir dalam perang pada dasarnya tidak etis dan beberapa menyebut serangan itu sebagai kejahatan perang. Yang lain berpendapat ada cara yang lebih damai untuk mengakhiri perang daripada pengeboman nuklir atau invasi, seperti blokade militer di Jepang. Bom-bom itu membuat bayangan panjang selama paruh kedua abad ke-20, dengan Perang Dingin antara AS dan Uni Soviet didominasi oleh kekhawatiran bahwa salah satu negara dapat menyerang yang lain dengan bom nuklir. (OL-14)

BERITA TERKAIT