04 August 2022, 15:00 WIB

Iran dan AS Kembali ke Meja Perundingan Nuklir


Cahya Mulyana |

Perwakilan Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali ke Wina untuk merundingkan kembali Kesepakatan Nuklir 2015. Putaran diskusi baru ini dimediasi Uni Eropa (UE).

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Nasser Kanani, mengatakan Teheran serius untuk mencapai kesepakatan yang berkelanjutan. Dia mengharapkan pihak-pihak lain juga memiliki komitmen serupa.

"Itu akan menciptakan kondisi untuk memajukan pembicaraan secara efektif melalui keputusan yang diperlukan dan secara serius berfokus pada penyelesaian masalah yang tersisa," paparnya.

Koordinator UE untuk perundingan ini, Enrique Mora dan negosiator utama dari Teheran dan Washington, dilaporkan kembali ke ibu kota Austria, Wina. Dia berencana akan memulai pembicaraan tidak langsung yang diperkirakan akan dimulai pada Kamis (4/8).

Mora mengatakan, bahwa teks yang diusulkan oleh Kepala Kebijakan Luar Negeri UE, Josep Borrell, dua minggu lalu akan menjadi dasar diskusi dan perwakilan blok itu sekali lagi melakukan diplomasi bolak-balil antara Iran dan AS.

Tiongkok, Rusia, Prancis, Jerman dan Inggris yang telah telah membentuk komisi gabungan untuk memulai pembicaraan pemulihan kesepakatan nuklir pada April 2021 akan mendahului pertemuan. Seluruhnya akan mempersiapkan puncak perundingan yang akan dihadiri Iran dan AS.

Kepala negosiator Rusia, Mikhail Ulyanov menulis di Twitter bahwa pembicaraan akan segera dilanjutkan. Negosiator Rusia siap untuk pembicaraan konstruktif dan menyelesaikan kesepakatan.

Delegasi Iran akan dipimpin oleh Ali Bagheri Kani, yang akan mengajukan gagasan Teheran tentang pencabutan sanksi AS dan menjaga penyelidikan program nuklir Iran. Nantinya akan ditanggapi Kepala Perunding AS Robert Malley.

Iran dan AS telah mengadakan pembicaraan selama dua hari yang dimediasi oleh Mora di Qatar pada bulan Juni, tetapi berakhir tanpa kemajuan. Negosiasi terhenti sejak Maret, dengan masing-masing pihak menuduh pihak lain tidak cukup serius.

Perkembangan terbaru itu dicapai setelah seminggu ketegangan dan ketidakpastian mengenai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) atau yang dikenal sebagai kesepakatan nuklir secara resmi.

Beberapa jam setelah AS memberlakukan serangkaian sanksi baru yang menargetkan ekspor petrokimia Iran pada hari Senin (1/8), Teheran menanggapi dengan mengeluarkan perintah untuk memasukkan gas ke dalam ratusan sentrifugal canggih, sehingga mempercepat program nuklirnya. (Aljazeera/OL-12)

BERITA TERKAIT