03 August 2022, 09:33 WIB

Pelosi, Sejak Dulu Gemar Provokasi Tiongkok


Basuki Eka Purnama |

KETUA DPR Amerika Serikat (AS) Nancy Pelosi memiliki sejarah panjang memprovokasi Tiongkok terkait catatan demokrasi dan hak asasi manusia negara mereka, mulai dari membentangkan spanduk di Lapangan Tiananmen atau menggelar pertemuan rutin dengan pemimpin spiritual Tibet, Dalai Lama.

Pelosi memicu ketegangan baru dalam hubungan AS-Tiongkok ketika dia berkunjung ke Taiwan, Selasa (2/8). Perempuan itu menjadi pejabat tertinggi AS yang pernah datang ke pulau itu dalam tempo 25 tahun.

Ini bukanlah kali pertama Pelosi memancing kemarahan Tiongkok. Perempuan berusia 82 tahun itu telah berulang kali sepanjang kariernya memprovokasi Beijing.

Baca juga: Tiongkok Murka atas Kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taiwan

Saat baru saja menjabat sebagai anggota DPR, tepatnya dua tahun setelah terpilih, Pelosi bersuara lantang mengenai sikap keras militer Tiongkok terhadap demonstran prodemokrasi di Tianamen pada 4 Juni 1989.

Pelosi menyebut insiden di Tiananmen sebagai pembantaian dan menuding militer Tiongkok melakukan eksekusi secara tersembunyi.

"Hak asasi warga Tiongkok bukanlah masalah dalam negeri. Itu adalah masalah seluruh warga dunia," tegasnya kala itu.

Sejak saat itu, Pelosi berulang kali menyentil Beijing dengan berulang kali bertemu dengan lawan politik Tiongkok, termasuk Dalai Lama, serta menyebut perlakuan 'Negeri Tirai' Bambu' itu terhadap warga minoritas mulsim di Xinjiang sebagai genosida.

Dua tahun setelah peristiwa Tiananmen, Pelosi berkunjung ke Tiongkok bersama dua anggota DPR AS lainnya dalam sebuah kunjungan remsi.

Dia memicu kemarahan Beijing dengan berkunjung ke Lapangan Tiananmen, meletakkan bunga yang menampilkan tulisan, "Untuk mereka yang mati demi demokrasi di Tiongkok'.

Setelah ditahan dua hari oleh polisi Tiongkok, Pelosi mengatakan, "Kami diberi tahu bahwa ada kebebasan berpendapat di Tiongkok. Hal ini tidak mencerminkan hal itu."

Aksi Pelosi itu dilakukan karena dia berasal dari Negara Bagian San Francisco, negara bagian dengan populasi Tiongkok yang besar, yang pada 1980-an didominasi oleh mereka yang melarikan diri dari Tiongkok atau berasal dari Taiwan dan Hong Kong yang lebih bebas.

Namun, 35 tahun kemudian, Pelosi tetap merupakan pembela HAM di Tiongkok dan tidak peduli akibat dari tindakannya terhadap hubungan Washington dan Beijing.

Dia berulang kali menentang Tiongkok menjadi tuan rumah Olimpiade.

Pada 2010, Pelosi bertolak ke Oslo untuk menghadiri penyerahan Nobel Perdamaian kepada tokoh politik Tiongkok yang ditahan Liu Xiaobo. 

Dalam sidang DPR AS setiap tahunnya, Pelosi selalu menyinggung mengenai insiden Tiananmen, menggarisbawahi kekerasan yang dialami oleh warga Tiongkok di tangan militer. (AFP/OL-1)

BERITA TERKAIT