21 July 2022, 09:11 WIB

Sunak dan Truss Perebutkan Kursi PM Inggris


Cahya Mulyana |

MANTAN Menteri Keuangan Rishi Sunak dan Menteri Luar Negeri Liz Truss akan bertarung untuk menjadi Perdana Menteri (PM) Inggris. Keduanya menjadi finalis dalam voting terakhir anggota parlemen dari Partai Konservatif (Tory).

Sunak berada di atas Truss di setiap tahapan pemungutan suara di anggota parlemen Tory. Tetapi Truss mendapatkan dukungan dari partai lain.

Keduanya akan ditentukan untuk menjadi pengganti Boris Johnson oleh 200.000 anggota parlemen Inggris. 

Baca juga: Eks Menkeu Raih Suara Terbanyak untuk Gantikan Boris Johnson

Sunak merupakan mantan bankir di Goldman Sachs, yang telah menaikkan beban pajak ke level tertinggi sejak 1950-an sementara Truss adalah seorang pendukung Brexit yang telah berjanji memotong pajak.

Siapa pun yang memenangkan voting, yang akan diumumkan pada 5 September, akan mewarisi beberapa kondisi paling sulit di Inggris dalam beberapa dekade terakhir. 

Inggris tengah mengalami inflasi mencapai 11%, pertumbuhan terhenti, dan nilai tukar pound mendekati posisi terendah terhadap dolar.

Pada putaran pertama terdapat 11 kandidat, kemudian di babak terakhir di internal Tory, Menteri Perdagangan Junior Penny Mordaunt tersingkir karena berada di posisi ketiga dengan 105 suara. 

Karena fase ini menjaring dua kandidat teratas, Sunak dengan 137 suara dan Truss 113 yang lolos untuk dipilih salah satunya oleh seluruh anggota parlemen Inggris menjadi PM.

Truss berterima kasih kepada para pendukungnya. "Saya siap untuk memulai dari hari pertama," katanya di akun Twitter-nya.

Sementara Sunak mengatakan,” Bersyukur rekan-rekan saya telah mempercayai saya hari ini. Saya akan bekerja siang dan malam untuk menyampaikan pesan kami di seluruh negeri."

Mordaunt, yang hanya delapan suara di belakang Truss, yang berada di posisi kedua, meminta partai itu untuk bersatu setelah kontes kepemimpinan yang sering kali meninggalkan perpecahan.

"Politik tidak mudah. Ini bisa menjadi tempat yang memecah belah dan sulit. Kita semua sekarang harus bekerja sama untuk menyatukan partai kita dan fokus pada pekerjaan yang perlu dilakukan,” imbuh Mordaunt.

Kampanye

Kedua finalis akan memulai kampanye selama beberapa minggu ke depan di hadapan seluruh anggota parlemen Inggris. 

"Ini telah menjadi salah satu kontes yang paling tidak terduga untuk menjadi pemimpin Konservatif berikutnya dalam sejarah baru-baru ini," kata Direktur Riset Politik di Perusahaan Jajak Pendapat Savanta ComRes, Chris Hopkins.

"Ini sangat berbeda dengan kontes baru-baru ini di mana Anda memiliki satu favorit yang jelas hanya bisa memilih dengannya,” tuturnya. (AFP/OL-1)

BERITA TERKAIT