06 July 2022, 18:14 WIB

Pembongkaran Rumah Muslim India Terus Berlanjut


Cahya Mulyana |

PEMUKIMAN muslim terus menjadi sasaran penghancuran oleh pemerintah India yang dipertontonkan kepada dunia. Salah satunya kediaman Somaiya Fatima, yang ayahnya ialah Javed Mohammad dituduh menjadi dalang kerusuhan dalam aksi protes penghinaan Nabi Muhammad di Allahabad.

Setelah keluar usai ditahan dua malam oleh kepolisian setempat, perempuan berusia 19 tahun itu harus menonton excavator dan buldoser meratakan rumahnya. Kediamannya menjadi satu dari puluhan rumah yang dihancurkan otoritas India dengan dalih pembersihan bangunan ilegal.

"Kami adalah muslim dan itulah mengapa kami menjadi sasaran penghancuran," kata Fatima kepada AFP.

Gadis berusia 19 tahun itu ditangkap bersama keluarganya setelah ayahnya dituduh mendalangi protes publik besar-besaran di utara Kota Allahabad bulan lalu. Demonstrasi itu adalah salah satu dari beberapa aksi unjuk rasa di seluruh India yang mengutuk politisi yang menghina Nabi Muhammad.

Fatima mengatakan sebelum alat berat menghancurkan rumahnya, keluarganya mengalami teror. Sejumlah panggilan telepon menanamkan rasa takut kepada keluarganya.

"Semua orang sekarang melihat ke rumah mereka dan berpikir bahwa jika itu terjadi pada kita, itu juga bisa terjadi pada mereka."

Penghancur pemukiman muslim didalangi seorang biksu dan digadang-gadang sebagai penerus Perdana Menteri India Narendra Modi. Dia menyuarakan perang terhadap muslim India lewat simbol menyediakan buldoser.

Pembantu Adityanath merayakan keberhasilannya seusai terpilih kembali sebagai ketua menteri awal tahun ini dengan menaiki excavator. Para pendukungnya dari Partai Bharatiya Janata yang berkuasa ramai-ramai menggambar buldoser di tubuh mereka.

Sejak itu politik buldoser telah menyebar di di negara itu dan pembongkaran pemukiman penduduk muslim pun terus berlanjut. Pihak berwenang di Delhi merobohkan hampir dua lusin etalase toko milik muslim.

Para pejabat mengatakan serentetan pembongkaran itu sah karena mereka hanya menargetkan bangunan yang dibangun tanpa persetujuan hukum. Tetapi para korban menyangkal bahwa tempat tinggal mereka ilegal.

Rumah Fatima dihancurkan "di hadapan ratusan polisi dan ratusan kamera, tanpa empati. Tidak ada perbandingan untuk kekejaman ini," kata KK Rai, pengacara ayah Fatima, kepada AFP

Ia mengatakan partai penguasa di India berupaya menjadikan muslim sebagai warga kelas dua. "Mereka memiliki komitmen ideologis bahwa di India mereka harus menjadikan Muslim sebagai warga negara kelas dua, mempermalukan mereka secara sosial dan menghancurkan properti mereka," kata Rai.

Amnesty International mengatakan pembongkaran adalah bagian dari tindakan keras dan kejam. Banyak muslim yang tinggal di Uttar Pradesh khawatir rumah mereka akan dihancurkan setelah anggota keluarga mereka berpartisipasi dalam protes bulan lalu.

"Sekarang kami mengalami malam-malam tanpa tidur dan hari-hari yang gelisah," kata Mohd Javed, seorang penduduk Saharanpur. (OL-8)

BERITA TERKAIT