06 July 2022, 12:14 WIB

Polisi: Crimo Lepaskan 70 Peluru ke Arah Penonton Parade 4 Juli


Cahya Mulyana |

TERSANGKA penembakan massal Robert Crimo melepaskan 70 peluru ke kerumunan penonton perayaan hari kemerdekaan Amerika Serikat (AS) di Highland Park, Senin, (4/7). Dia juga tercatat pernah berupaya melakukan bunuh diri.

“Kami percaya Crimo menembakkan lebih dari 70 peluru dari senapannya ke kerumunan orang yang tidak bersalah,” kata Juru Bicara Satuan Tugas Kejahatan Besar Lake County Chris Covelli.

Menurut dia, Crimo disinyalir telah merencanakan aksi brutalnya. Sebab Crimo menggunakan pakaian perempuan untuk mengelabui kejaran petugas.

Baca juga: Pelaku Penembakan Saat Parade Hari Kemerdekaan AS Diganjar Tujuh Dakwaan Pembunuhan

"Pakaian itu dimanfaatkannya untuk menutupi tato di wajahnya dan membantunya lari dari kejaran polisi," jelasnya.

Covelli menambahkan, pada April 2019, polisi dihubungi pihak keluarga karena Cirmo berupaya bunuh diri. Lima bulan kemudian, Crimo juga dilaporkan keluarganya karena mengancam akan membunuh.

"Polisi telah menyita 16 pisau, belati, dan pedang disita dari Crimo. Tapi setelah kejadian itu Crimo dapat membeli senjata api secara legal," ungkapnya.

Crimo, yang berusia 21 tahun itu, menembakan senjatanya ke arah kerumunan penonton parade yang menewaskan tujuh orang dan melukai sedikitnya 30 orang. Aksinya ini diyakini dipersiapkan beberapa minggu sebelumya. 

"Dia membawa senapan bertenaga tinggi ke parade ini. Crimo membidik warga yang tidak bersalah dari atap gedung yang masuk melalui tangga darurat,” kata Covelli.

Namun, menurut dia, belum ada indikasi pelaku lain yang membantu Crimo dalam penembakan brutalnya. Pihaknya juga masih menyelidiki motif yang mendorong Crimo menambah panjang daftar penembakan massal di Amerika.

Gedung Putih mengumumkan pengibaran bendera setengah tiang untuk menghormati seluruh korban tindakan Crimo. Sementara Wakil Presiden AS Kamala Harris akan menemui keluarga korban untuk menyampaikan belasungkawa.

Gubernur Illinois JB Pritzker mengatakan kesedihan tidak akan membawa para korban kembali. 

"Dan doa saja tidak akan menghentikan teror kekerasan senjata yang merajalela di negara kita. Kita harus dan kita akan mengakhiri wabah kekerasan senjata ini," pungkasnya. (Aljazeera/OL-1)

BERITA TERKAIT