06 July 2022, 11:45 WIB

Kekuatan Politik Boris Johnson Semakin Lemah


Cahya Mulyana |

KEKUATAN politik Perdana Menteri Inggris Boris Johnson semakin lemah. Pasalnya publik hingga orang-orang terdekatnya sudah tidak mempercayainya seperti ditunjukkan Menteri Kesehatan Sajid Javid dan Menteri Keuangan Rishi Sunak yang mengundurkan diri.

"Bagi saya, mundur di saat dunia sedang mengalami konsekuensi ekonomi dari pandemi, perang di Ukraina dan berbagai tantangan lainnya, merupakan keputusan yang tidak mudah," tulis Sunak dalam akun Twitter-nya.

Meskipun sudah beranjak dari lingkaran kekuasaan, Sunak meminta publik tidak terpengaruh dengan keputusannya. Rakyat Inggris harus tetap mempercayai dan membantu pemerintah.

"Namun, publik mengharapkan pemerintah berjalan dengan baik, kompeten dan serius. Mungkin ini adalah pekerjaan menteri saya yang terakhir, tapi saya yakin standar seperti yang sudah saya sampaikan tadi layak diperjuangkan, dan itulah mengapa saya mengundurkan diri," terangnya.

Sementara Javid mengatakan publik Inggris sudah kehilangan kepercayaan terhadap Johnson. Begitu juga dengan dirinya walaupun sempat membantu Johnson membuat kebijakan tidak populer.

"Sayangnya, dalam situasi saat ini, publik menyimpulkan bahwa kami tidak seperti itu. Mosi tidak percaya bulan lalu memperlihatkan bahwa banyak dari kolega kami setuju akan hal tersebut," ungkap Javid.

Baca juga: Pelanggaran Lockdown oleh PM Boris Johnson Jadi Bumerang

Skandal terbaru yang menjerat Johnson adalah tuduhan dirinya tidak jujur mengenai seorang politikus yang ditunjuk menduduki posisi senior meski adanya klaim pelecehan seksual.

Johnson juga belum dapat menjelaskan alasan pengunduran diri Deputi Kepala Chris Pincher. Disinyalir, Pincher melecehkan dua pria di sebuah klub malam.

Beberapa menit sebelum pengunduran diri Javid dan Sunak, Johnson mengatakan kepada awak media Pincher seharusnya dipecat atas insiden yang terjadi pada 2019 tersebut.

"Saya rasa itu (memberikan kepercayaan kepada Pincher) sebuah kesalahan dan saya memohon maaf. Itu adalah sebuah hal yang keliru untuk dilakukan," pungkas Johnson.(France24/OL-5)

BERITA TERKAIT