01 July 2022, 20:22 WIB

Eksekusi Mati Di Iran Melonjak Lebih dari Dua Kali Lipat


Mediaindonesia.com |

EKSEKUSI di Iran meningkat lebih dari dua kali lipat pada paruh pertama 2022. Lembaga swadaya masyarakat (LSM) memperingatkan bahwa lonjakan hukuman gantung ditujukan untuk menyebarkan ketakutan pada saat protes.

Dari 1 Januari hingga 30 Juni, 251 orang digantung di Iran dibandingkan dengan 117 pada paruh pertama tahun lalu. Ini disebutkan Hak Asasi Manusia Iran (IHR) yang berbasis di Norwegia dalam suatu laporan.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres telah menyatakan keprihatinan bulan lalu atas meningkatnya eksekusi itu. Iran kembali mengeksekusi pelaku narkoba dalam jumlah tinggi dan banyak orang dari etnis minoritas.

Iran selama beberapa bulan terakhir menyaksikan protes nasional atas keluhan ekonomi seperti kenaikan biaya bahan pokok termasuk roti. "Tidak ada keraguan bahwa menyebarkan ketakutan untuk melawan protes antirezim yang semakin populer merupakan tujuan utama dari eksekusi ini," kata pendiri IHR Mahmood Amiry-Moghaddam kepada AFP.

"Hanya reaksi internasional dan seruan domestik yang lebih kuat terhadap eksekusi yang dapat meningkatkan biaya politik bagi pihak berwenang dan menghentikan tren yang meningkat," katanya. Dia mencatat bahwa 137 eksekusi terjadi sejak gelombang protes baru dimulai pada 7 Mei. 

Baca juga: Qatar Bantu Militer Libanon yang Butuh Dana US$60 Juta

Enam wanita juga termasuk di antara mereka yang dieksekusi. Menurut IHR, delapan tahanan dieksekusi atas tuduhan pemerkosaan dan pembunuhan di penjara Rajai Shahr di luar Teheran pada Rabu saja.

Minoritas 

Ada juga kekhawatiran khusus di kalangan aktivis atas jumlah minoritas etnis non-Persia Iran yang tidak proporsional--terutama Baluch dan Kurdi--yang dieksekusi. IHR mengatakan bahwa pada periode ini telah menghitung eksekusi 67 tahanan dari minoritas Baluch yang menganut aliran Islam Suni di Iran yang mayoritas Syiah dan tinggal di tenggara negara itu.

Aktivis juga menyatakan kekecewaannya atas eksekusi 20 Juni terhadap seorang pria Kurdi bernama Firuz Musalou. Ia dihukum atas tuduhan keanggotaan Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang dilarang dan melancarkan pemberontakan di negara tetangga Turki. Hukumannya dilakukan secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan keluarganya.

Laporan tahunan Amnesty International tentang hukuman mati mengatakan pada 2021 jumlah eksekusi meningkat 28% menjadi 314. Ini tertinggi sejak 2017 dan membalikkan penurunan sejak saat itu.

Disebutkan bahwa setidaknya 19% dari eksekusi yang tercatat ialah anggota etnis minoritas Baluch. Etnis ini hanya mencapai 5% dari populasi Iran secara keseluruhan.

Baca juga: Lagi, Pembicaraan Nuklir Iran-AS Buntu

Eksekusi di Iran turun sejak 2017 ketika amendemen undang-undang antinarkotika negara itu mulai berlaku yang mengurangi jumlah terpidana mati atas tuduhan terkait narkoba. "Sekjen sangat prihatin dengan peningkatan eksekusi, termasuk untuk pelanggaran terkait narkoba," kata Nada Al-Nashif, wakil komisaris tinggi PBB untuk hak asasi manusia, saat dia mempresentasikan laporan Guterres tentang Iran pada Juni.

"Hukuman mati terus dijatuhkan atas dasar dakwaan yang tidak termasuk kejahatan paling serius dan dengan cara yang tidak sesuai dengan standar pengadilan yang adil," tambahnya. IHR mengatakan penghitungan eksekusi hanya mencakup yang dipublikasikan di media resmi atau yang dikonfirmasi oleh setidaknya dua sumber independen yang berarti jumlah sebenarnya bisa lebih tinggi. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT