28 June 2022, 20:24 WIB

G7 Minta Dunia tidak Termakan Narasi Putin


Andhika Prasetyo |

KANSELIR Jerman Olaf Scholz meminta dunia tidak termakan narasi yang dilontarkan Presiden Rusia Vladimir Putin, yang menyebut dunia terbagi menjadi dua kelompok.

Dalam hal ini, Putin menyoroti negara-negara barat alias G7 beserta seluruh mitra di Eropa dan negara-negara lain di luar kelompok tersebut.

“Kita tidak boleh masuk ke jebakan yang dibuat Putin, yang menyebut dunia sudah terpecah. Itu tidak benar. Negara-negara demokasi memiliki perspektif yang sangat mirip,” ujar Scholz pada KTT G7 di Elmau, Jerman, Senin (27/6).

Baca juga: Kunjungi Ukraina dan Rusia, Indonesia Buka Jalan Rekonsiliasi

Untuk membantah tuduhan tersebut, G7 dalam KTT kali ini pun mengundang lima negara di luar keanggotaan, yaitu Indonesia, India, Afrika Selatan, Senegal dan Argentina.

Namun ternyata, negara-negara undangan tidak sepenuhnya memberi dukungan kepada kelompok barat. Presiden Senegal Macky Sall, selaku ketua Uni Afrika, lebih menggarisbawahi nasib negara miskin di Afrika. Menurutnya, mereka kini semakin terjebak dalam kondisi yang sulit.

Selepas KTT G7, Sall bahkan bertolak menuju Rusia untuk bertemu Putin. Dirinya berupaya membujuk Presiden Rusia untuk membuka kembali ekspor sereal dan pupuk demi keberlangsungan negara-negara Afrika.

Baca juga: AS Ajak Sekutunya Bersama-sama Melawan Rusia

Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa pun memilih menghindari kritik kepada Putin. Dia justru menyerang negara-negara barat, karena tidak mematuhi prinsip solidaritas dan kerja sama terkait pemerataan akses vaksin.

Masyarakat Afrika tampak begitu kecewa atas kegagalan G7 dalam memenuhi komitmen untuk mengurangi kemiskinan dan kelaparan di dunia. Pada 2015, pemimpin G7 berjanji untuk mengangkat 500 juta orang di negara berkembang untuk keluar dari kelaparan dan kekurangan gizi.

Namun, saat komitmen tersebut disampaikan, Oxfam, lembaga nirlaba yang fokus pada penanggulangan kemiskinan, mencatat 630 juta orang dilanda kelaparan di seluruh dunia. Alih-alih kian berkurang, pada 2021, angka itu justru bertambah menjadi 950 juta orang.(Guardian/OL-11)

BERITA TERKAIT