24 June 2022, 14:40 WIB

Ukraina Diberikan Senjata Baru oleh Uni Eropa dan AS


Cahya Mulyana |

PARA pemimpin Uni Eropa pada Kamis (23/) memberikan status kandidat kepada Ukraina dan Moldova sebagai bentuk dukungan yang kuat melawan invasi Rusia. Di saat bersamaan Amerika Serikat (AS) mengatakan akan mengirim lebih banyak sistem roket presisi tinggi ke Kyiv.

Upaya terbaru Barat untuk mendukung Ukraina datang ketika Rusia mendekati kota-kota utama di timur negara itu dan memicu kekhawatiran global yang berkembang dengan pembatasan ekspor gas dan biji-bijian.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memuji keputusan Uni Eropa di negaranya dan Moldova sebagai momen unik dan bersejarah. Meskipun kedua bekas republik Soviet itu menghadapi jalan panjang sebelum bergabung dengan blok tersebut dan keuntungannya dari pergerakan bebas dan pasar bersama.

"Masa depan Ukraina ada di dalam UE," kata Zelenskyy.

"Kami akan menang, membangun kembali, memasuki UE dan kemudian akan beristirahat. Atau mungkin kami tidak akan beristirahat,” tegasnya.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan bahwa keputusan para pemimpin Uni Eropa mengirim sinyal yang sangat kuat ke Rusia bahwa Eropa mendukung Ukraina.

Presiden Vladimir Putin telah menyatakan Ukraina sebagai bagian dari lingkup Moskow dan bersikeras menentang negara itu menjadi baguan NATO.

Kekuatan Eropa sebelum invasi telah menjauhkan diri dari dukungan AS untuk aspirasi NATO Ukraina dan keanggotaan Uni Eropa setidaknya beberapa tahun lagi.

Ukraina dan Moldova harus melalui negosiasi yang berlarut-larut dan Uni Eropa telah menetapkan langkah-langkah yang harus diambil Kyiv bahkan sebelum itu, termasuk memperkuat supremasi hukum dan memerangi korupsi.

Senjata untuk melawan Rusia

Gedung Putih mengumumkan bahwa mereka mengirim lagi USD450 juta dalam bentuk senjata baru ke Ukraina termasuk sistem Roket Artileri Mobilitas Tinggi baru, yang telah berada di urutan teratas proposal yang diajukan Kyiv.

Empat unit awal telah dikirim berikut tentara Ukraina yang telah dilatih untuk mengoperasikannya. Namun Presiden Joe Biden meminta Kyiv tidak menggunakannya untuk menembak wilayah Rusia.

Baca juga: Israel Apresiasi Turki Gagalkan Rencana Pembunuhan Intel Iran

Kebutuhan Ukraina semakin mendesak saat Rusia, yang gagal merebut Kyiv segera setelah invasi pada 24 Februari, maju ke timur, mempererat cengkeramannya di Severodonetsk dan Lysychansk di seberang sungai Donets.

Merebut kota akan memberi Moskow kendali atas seluruh Lugansk, memungkinkan Rusia untuk menekan lebih jauh ke wilayah Donbas dan berpotensi lebih jauh ke barat.

Ukraina mengaku telah kehilangan kendali dua daerah sehingga Rusia lebih mudah untuk mengepung pusat industri tersebut.

Kementerian Pertahanan Inggris mengatakan beberapa unit pasukan Ukraina mungkin terpaksa mundur untuk menghindari pengepungan oleh Rusia.

“Peningkatan kinerja Rusia di sektor ini kemungkinan merupakan hasil dari penguatan unit baru-baru ini dan konsentrasi tembakan yang tinggi,” katanya dalam pembaruan data intelijen terbaru.

Seorang perwakilan separatis pro-Rusia di Ukraina mengatakan kepada AFP bahwa perlawanan pasukan Ukraina yang berusaha mempertahankan Lysychansk dan Severodonetsk tidak ada gunanya dan sia-sia.

"Dengan kecepatan tentara kita bergerak, segera seluruh wilayah Republik Rakyat Lugansk akan dibebaskan," ucap Andrei Marochko, Juru Bicara Tentara Lugansk.

Tentara Rusia juga mengatakan Kamis bahwa pengebomannya di kota selatan Mykolaiv telah menghancurkan 49 tangki penyimpanan bahan bakar dan tiga depot perbaikan tangki, setelah serangan menewaskan beberapa tentara Ukraina Rabu.(OL-4)

BERITA TERKAIT