22 June 2022, 20:28 WIB

Sedikitnya 1.000 Tewas akibat Gempa Afghanistan, PBB dan UE Siapkan Bantuan


Mediaindonesia.com |

GEMPA kuat melanda wilayah perbatasan terpencil Afghanistan semalam menewaskan sedikitnya 1.000 orang dan melukai ratusan lain. Jumlah korban diperkirakan meningkat ketika para penyelamat berupaya menggali reruntuhan tempat tinggal.

Gempa berkekuatan 5,9 melanda paling parah di timur yang berbatu. Di sana orang-orang sudah menjalani kehidupan yang sulit karena negara yang dilanda bencana kemanusiaan yang diperburuk oleh pengambilalihan Taliban pada Agustus.

"Orang-orang menggali kuburan demi kuburan," kata Mohammad Amin Huzaifa, Kepala Departemen Informasi dan Kebudayaan di Paktika yang dilanda bencana. Ia menambahkan bahwa setidaknya 1.000 orang meninggal di provinsi itu saja.

"Di sini hujan juga dan semua rumah hancur. Orang-orang masih terjebak di bawah reruntuhan," katanya kepada wartawan.

Korban tewas terus meningkat sepanjang hari ketika berita tentang korban diperoleh dari daerah-daerah yang sulit dijangkau di pegunungan. Pemimpin tertinggi negara itu, Hibatullah Akhundzada, memperingatkan kemungkinan jumlah korban meningkat lebih lanjut.

Baca juga: MBS Temui Erdogan yang Terbelit Khashoggi, Ekonomi, Ikhwanul Muslimin

Sebelumnya, seorang pemimpin suku dari Paktika mengatakan para penyintas dan penyelamat berjuang keras untuk membantu mereka yang terkena dampak. "Pasar lokal ditutup dan semua orang bergegas ke daerah yang terkena dampak," kata Yaqub Manzor kepada AFP melalui telepon.

Foto-foto dan klip video yang di-posting di media sosial menunjukkan sejumlah rumah berlumpur yang rusak parah di daerah perdesaan terpencil. Beberapa rekaman menunjukkan penduduk setempat membawa korban ke helikopter militer.

Tawaran bantuan 

Sebelum pengambilalihan Taliban, tim tanggap darurat Afghanistan dikerahkan untuk menangani bencana alam yang sering melanda negara itu. Namun dengan hanya beberapa pesawat dan helikopter yang layak terbang tersisa sejak kelompok garis keras Islam kembali berkuasa, tanggapan segera terhadap bencana terbaru semakin terbatas.

"Pemerintah bekerja sesuai kemampuannya," cuit Anas Haqqani, seorang pejabat senior Taliban. "Kami berharap komunitas internasional dan lembaga bantuan juga akan membantu orang-orang kami dalam situasi yang mengerikan ini."

PBB dan Uni Eropa dengan cepat menawarkan bantuan. "Tim penilai antarlembaga dikerahkan ke sejumlah daerah yang terkena dampak," tulis Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (UNOCHA) di Afghanistan.

Baca juga: Daftar Gempa paling Mematikan di Afghanistan

Tomas Niklasson, utusan khusus UE untuk Afghanistan, men-tweet, "UE sedang memantau situasi dan siap mengoordinasikan dan memberikan bantuan darurat UE kepada orang-orang dan komunitas yang terkena dampak."

Afghanistan sering dilanda gempa bumi, terutama di pegunungan Hindu Kush yang terletak di dekat persimpangan lempeng tektonik Eurasia dan India. Puluhan orang tewas dan terluka pada Januari ketika dua gempa melanda daerah perdesaan di provinsi barat Badghis dan merusak ratusan bangunan.

Pada 2015, lebih dari 380 orang tewas di Pakistan dan Afghanistan ketika gempa berkekuatan 7,5 SR mengguncang kedua negara. Sebagian besar angka kematian di Pakistan.

Baca juga: Gempa di Afghanistan Tewaskan Sedikitnya 920 Orang

Dari Kota Vatikan, Paus Fransiskus memanjatkan doa untuk para korban gempa terbaru. "Saya mengungkapkan kedekatan saya dengan yang terluka dan mereka yang terkena dampak," kata paus berusia 85 tahun itu di akhir audiensi mingguannya.

Badan-badan bantuan dan PBB mengatakan Afghanistan membutuhkan miliaran dolar tahun ini untuk mengatasi krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung. Badan-badan bantuan secara khusus menekankan kesiapsiagaan bencana yang lebih besar di Afghanista karena sangat rentan terhadap gempa bumi, banjir, dan tanah longsor.

Gempa itu dirasakan hingga ke Lahore di Pakistan, 480 kilometer dari pusat gempa. Ini menurut tanggapan yang diposting di situs web USGS dan European Mediterranean Seismological Center (EMSC). (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT