14 June 2022, 14:20 WIB

Lawan Rusia, Ukraina Minta Negara Barat Pasok Senjata Lebih Banyak


Nur Aivanni |

PRESIDEN Ukraina Volodymyr Zelensky membuat permohonan yang berapi-api kepada sekutu Barat untuk mempercepat pengiriman senjata.

Apalagi, wilayah Severodonetsk dan Lysychansk telah menjadi sasaran selama berminggu-minggu. Itu merupakan daerah terakhir di wilayah Donbas timur Lugansk, yang masih di bawah kendali Ukraina.

Zelensky mengungkapkan korban jiwa dari pertempuran di kawasan itu benar-benar menakutkan. Pihaknya optimistis dapat merebut kembali wilayah, dengan menyerukan sekutu negara untuk mengirim pasokan senjata lebih banyak.

Baca juga: Zelensky Klaim Ukraina Kehilangan Hingga 100 Tentara Per Hari

"Kami hanya membutuhkan senjata yang cukup untuk memastikan semua ini. Mitra kami memilikinya," pungkasnya.

Penasihat Presiden Ukraina, Mikhaylo Podolyak, mendaftarkan barang-barang yang dibutuhkan tentara Ukraina. Termasuk, ratusan howitzer, tank dan kendaraan lapis baja.

"Untuk mengakhiri perang kita membutuhkan senjata berat," bunyi cuitannya di akun Twitter.

Gubernur regional Sergiy Gaiday menyebut pasukan Ukraina telah didorong mundur dari pusat Severodonetsk, setelah serangan Rusia selama berminggu-minggu.

"Mereka menghancurkan semua jembatan. Masuk ke kota sudah tidak mungkin lagi. Evakuasi juga tidak mungkin," jelas Gaiday.

Baca juga: Harga Minyak Menguat akibat Sanksi terhadap Rusia

Pasukan Rusia dikatakannya menguasai 70-80% wilayah kota, namun belum merebut atau mengepungnya. Menteri Pertahanan Ukraina mengungkapkan bahwa 100 tentara tewas setiap hari dan 500 lainnya luka-luka. 

Dengan pengetatan di wilayah Lugansk, pasukan Ukraina memiliki dua pilihan: "menyerah atau mati," cetus Eduard Basurin, seorang perwakilan separatis pro-Rusia.

Penaklukan Severodonetsk akan membuka jalan ke Sloviansk dan kota besar lainnya, seperti Kramatorsk. Itu dalam upaya Moskow untuk menaklukkan Donbas, wilayah yang sebagian besar dikuasai separatis pro-Rusia sejak 2014.(AFP/OL-11)

 

BERITA TERKAIT