07 June 2022, 21:49 WIB

Kupas Tuntas Kehadiran Tiongkok Lewat Buku China in the Global South: Impact and Perceptions


Mediaindonesia.com |

TIONGKOK menjelma menjadi salah satu kekuatan global di dunia di era Presiden Xi Jinping. Secara diplomatik, Tiongkok menjalin hubungan baik dengan negara-negara di dunia. Namun, di negara penerima, kehadirian Tiongkok terkadang masih menjadi pro-kontra, bahkan di kalangan elite, perbendaan pandangan juga terasa.

Hal itu menjadi salah satu bahasan dalam bunga rampai pemikiran mengenai Tiongkok bertajuk China in the Global South: Impact and Perceptions, yang diterbitkan oleh Springer pada Mei 2022, dengan editor Theodor Tudoroiu dan Anna Kuteleva. 

“Tiongkok merupakan sebuah kekuatan normatif. Tiongkok selalu berusaha untuk menentukan apa yang dianggap normal dalam hubungan dengan negara-negara lain,” kata Tudoroiu, ahli dari University of West Indies, Trinidad and Tobago, dalam webinar “Book Talk: China’s Rise in the Global South and Indonesia yang digelar Forum Sinologi Indonesia (FSI).

Menurut Tudoroiu, upaya Tiongkok untuk menentukan norma makin terlihat sejak Presiden Xi Jinping berkuasa. Dalam pandangannya, sejak itu, Tiongkook makin terlihat memproyeksikan kekuatan normatif di atas, khususnya dalam hubungan dengan negara-negara yang tidak sekuat dia. 

Tujuan dari proyeksi kekutan normatif tersebut adalah agar para elit di negara-negara tersebut mengubah pandangan yang mereka yakini dan mendefinisikan ulang kepentingan nasional mereka sehingga menguntungkan bagi Tiongkok. 

"Dengan demikian, kebijakan-kebijakan di negara negara tersebut menjadi sejalan dengan kepentingan Tiongkook di tingkat lokal, regional, dan bahkan global. Salah satu cara yang Tiongkok gunakan untuk mencapai tujuan itu adalah dengan menyediakan pinjaman finansial untuk membangun projek projek infrastruktur yang prestisius di negara-negara penerima,” kata Tudoroiu. 

Bila upaya itu berhasil, maka Tiongkok akan menjadi kekuatan yang dominan dalam negara-negara tersebut. Meski demikian, Tudoroiu berargumen bahwa keberhasilan Tiongkok memproyeksikan kekuatan normatif tersebut masih tergantung pada dinamika yang berkembang di negara-negara penerima. 

Baca juga : Laporan PBB: Mengakhiri Pendudukan Israel Kunci Hentikan Kekerasan

Ketua FSI yang juga pengamat Tiongkok Universitas Pelita Harapan JOhanes Herlijanto mengatakan, kelompok elit di Indonesia masih memiliki pandangan yang berbeda-beda terhadap hadirnya Tiongkok sebagai kekuatan global. 

Sebagian kelompok elite di pemerintahan Presiden Joko Widodo memang memiliki pandangan positif terhadap Tiongkok, namun antipati terhadap meningkatnya kehadiran Tiongkok di Indonesia masih cukup dominan, khususnya di kalangan elit yang berada di luar pemerintah.

“Meski sebagian kelompok elit yang berada di pemerintahan Presiden Jokowi memiliki pandangan positif terhadap Tiongkok, kekhawatiran, bahkan antiapati terhadap meningkatnya kehadiran Tiongkok di Indonesia masih cukup dominan, khususnya di kalangan elit yang berada di luar pemerintah,” katanya. 

Guru Besar purnabakti Universitas Indonesia A Dahana, yang juga salah seorang pendiri Forum Sinologi Indonesia, menyambut dengan hangat diterbitkannya buku berjudul China in the Global South: Impact and Perceptions ini. 

Dalam pandangannya, buku yang berisi studi kasus pada 9 negara dari kawasan-kawasan yang berbeda ini memberi informasi yang kaya mengenai dampak dari kehadiran Cina pada negara-negara yang berbeda beda itu. 

Dalam pandangan A. Dahana, dampak kehadiran Tiongkok ini menjadi penting karena para pemerhati Indonesia seharusnya tidak hanya memperhatikan apa yang terjadi dalam hubungan antara Tiongkok dan Indonesia saja, tetapi juga perlu untuk mempelajari apa yang terjadi di negara-negara lain terkait dengan fenomena kebangkitan Tiongkok. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT