26 May 2022, 10:15 WIB

Putin Keluarkan Dekret untuk Kherson dan Zaporizhzhia


Cahya Mulyana |

PRESIDEN Rusia Vladimir Putin menandatangani dekret untuk mempercepat proses bagi penduduk di wilayah Kherson dan Zaporizhzhia memperoleh paspor dan kewarganegaraan Rusia. Dekret tersebut menandai langkah lebih lanjut menuju Rusifikasi dari dua wilayah itu.

Keinginan Moskow menyambungkan wilayah kekuasaan ke Semenanjung Krimea, yang direbutnya dari Ukraina pada 2014 pun segera terealisasi. Namun Kyiv mengatakan dekret itu merupakan pelanggaran hukum internasional dan menuduh Kremlin bertindak kriminal.

“Penerbitan paspor secara ilegal merupakan pelanggaran mencolok terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Ukraina, serta norma dan prinsip hukum humaniter internasional,” kata Kementerian Luar Negeri Ukraina dalam sebuah pernyataan, Rabu (25/5).

Langkah Putin memperluas skema yang tersedia untuk penduduk daerah yang dikendalikan oleh separatis yang didukung Rusia di wilayah Donetsk dan Luhansk Ukraina, di mana Moskow telah mengeluarkan sekitar 800.000 paspor sejak 2019.

Pemohon paspor tidak diharuskan untuk tinggal di Rusia dan tidak perlu memberikan bukti uang yang cukup atau lulus tes bahasa Rusia. Kementerian Luar Negeri Ukraina mengatakan inisiatif itu adalah bukti lebih lanjut dari tujuan perang kriminal Moskow, yaitu integrasi wilayah yang dipegang oleh tentara Moskow dan penguasaan bidang hukum, politik, dan ekonomi Rusia.

Rusia mengklaim kendali penuh atas wilayah Kherson, utara Krimea, pada pertengahan Maret, dan menguasai sebagian wilayah Zaporizhzhia di timur laut. Di Kherson, gubernur Ukraina telah digulingkan dan pemerintah sipil-militer mengatakan awal bulan ini bahwa mereka berencana meminta Putin untuk memasukkannya ke Rusia pada akhir 2022.

Baca juga: Putin Tandatangani Dekret Terkait Sanksi Balasan Ekonomi

Pada Senin, pihak berwenang di Kherson memperkenalkan rubel sebagai mata uang resmi bersama dengan hryvnia Ukraina. Satu hari berikutnya pejabat yang dilantik oleh Moskow mengumumkan tindakan yang sama di beberapa bagian wilayah Zaporizhzhia.

Sementara itu, pertempuran sengit sedang terjadi di timur Ukraina, Rusia memfokuskan operasi militer. Sudah tiga bulan sejak Rusia meluncurkan invasi ke negara tetangga Ukraina pada 24 Februari untuk mendenazifikasi negara itu.

Sekutu barat Ukraina mengatakan invasi itu adalah perang agresi. Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi mengatakan lebih dari 6,5 juta orang telah melarikan diri dari perang di Ukraina sejauh ini, dengan Polandia menjadi tuan rumah jumlah terbesar orang Ukraina.(Aljazeera/OL-5)

BERITA TERKAIT