20 May 2022, 20:32 WIB

Kisah Ketakutan dan Kesedihan Warga Jenin Palestina


Mediaindonesia.com |

SERANGAN dan bentrokan Israel selama berminggu-minggu dengan orang-orang Palestina membayangi penduduk kamp pengungsi Jenin dengan ketakutan dan kecemasan serta kerinduan untuk hidup bermartabat. Pusat kelompok bersenjata Palestina, daerah Jenin, di utara Tepi Barat yang dijajah, menjadi sasaran serangan Israel berkali-kali sejak gelombang serangan anti-Israel pada akhir Maret.

Operasi untuk melacak tersangka dan bentrokan dengan warga Palestina sering kali menjadi mematikan bagi kedua belah pihak. Jurnalis Al Jazeera Palestina-Amerika Shireen Abu Akleh ditembak di kepala dan dibunuh di dekat kamp pada 11 Mei, saat meliput serangan Israel.

"Kami tidur dan bangun karena suara bentrokan. Jadi kami khawatir dan takut," kata Majd Owis, 16 tahun. "Ini bukan kehidupan. Kami ingin hidup bermartabat dan damai," tambah seniman Fidaa Sammar.

Ibu tiga anak Ahlam Benara mengatakan selama berminggu-minggu sebagian besar serangan Israel dan bentrokan berikutnya dengan warga Palestina telah meletus pada dini hari. "Antara pukul 7.30 dan 8,30," tepat ketika dia harus mempersiapkan anak-anaknya untuk sekolah.

"Anak saya yang berusia delapan tahun mengatakan dia tidak ingin lagi pergi ke sekolah karena terletak di dekat jalan utama," yang sering dilalui jip Israel, tambahnya. Israel merebut Tepi Barat dari Yordania selama Perang Enam Hari 1967 dan mengontrol semua titik masuk ke wilayah tersebut.

Baca juga: Bantah Media, Israel Sebut Penyelidikan Pembunuhan Jurnalis sedang Berlangsung

Sekitar 475.000 warga Israel tinggal di permukiman Tepi Barat. Mereka hidup bersama 2,9 juta warga Palestina. Sekitar 14.000 di antara warga Palestina itu tinggal di kamp Jenin. Selama intifada kedua melawan pendudukan Israel, pemberontakan yang pecah pada tahun 2000 dan berlangsung selama lima tahun, Jenin menjadi sorotan kekerasan.

Pahlawan atau teroris

Pada 2002, tentara mengepung kamp selama lebih dari sebulan di tengah pertempuran sengit yang menewaskan 52 warga Palestina dan 23 tentara Israel. Dua puluh tahun kemudian, potret orang-orang Palestina yang terbunuh dalam bentrokan dengan orang Israel selama bertahun-tahun menutupi dinding semen abu-abu yang menjemukan di kamp. Penduduk menganggap mereka sebagai pahlawan tetapi Israel mencap mereka teroris.

Tentara mengatakan telah meluncurkan operasi kontraterorisme di kamp Jenin untuk menangkap tersangka yang bertanggung jawab atas gelombang serangan anti-Israel sejak 22 Maret. Serangan itu memicu bentrokan dengan warga Palestina yang diselingi oleh tembakan senjata berat.

"Terkadang saya harus menyetel volume TV tinggi-tinggi untuk meredam suaranya karena membuat takut putri saya (10 tahun)," kata Benara. "Dia belum tidur nyenyak dan akhir-akhir ini mulai mengompol," tambahnya.

Owis, 16, tinggal di dekat jalan tempat Abu Akleh terbunuh dalam serangan tentara Israel pada 11 Mei. Di luar rumahnya berdiri satu pohon. Sekarang pohon itu dikelilingi oleh bunga dan potret jurnalis Al-Jazeera yang disegani.

Para pelayat juga meninggalkan pesan perpisahan seperti "Terima kasih Shireen" dan "Selamat tinggal Shireen". Ada juga gambar dirinya dan martir Palestina lain, termasuk mendiang pemimpin ikonik Yasser Arafat, di atas kuda-kuda.

Cat gelap atau arang digunakan untuk menggambar, "Menunjukkan kesedihan (kami)", kata Sammar, seniman yang membuatnya. "Setiap rumah (di Jenin) memiliki kisah sedih dan menyakitkannya sendiri," katanya, merujuk pada penduduk yang terbunuh dalam kekerasan selama beberapa dekade.

"Situasinya menakutkan. Kami terbangun karena suara tembakan dan ketakutan tumbuh bahwa tank tentara Israel akan masuk," katanya.

Baca juga: Israel tidak akan Selidiki Pembunuhan Jurnalis Palestina-Amerika

Seperti kebanyakan orang Palestina, Sammar menyalahkan tentara Israel atas kekerasan dengan mengatakan bahwa orang-orang Palestina hanyalah menentang penjajahan. Benara, yang lahir di Aljazair, mengatakan ingin meninggalkan Jenin demi anak-anaknya.

"Namun suami saya (Palestina) berkata kepada saya, 'Inilah hidup, kita harus membiasakannya.' Namun saya tidak bisa." (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT