20 May 2022, 14:28 WIB

Biden Kawal Finlandia dan Swedia Gabung NATO


Cahya Mulyana |

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Joe Biden telah berdiskusi dengan para pemimpin Finlandia dan Swedia di Gedung Putih. Dirinya menjanjikan dukungan penuh untuk keanggotaan NATO bagi kedua negara.

Presiden Finlandia Sauli Niinistö dan Perdana Menteri Swedia Magdalena Andersson mengutarakan kepada Biden mengenai tantangan atas rencana kedua negara. Itu tidak lain terkait penolakan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

"Kami akan melanjutkan kebijakan kami dengan cara yang pasti. Kami telah memberi tahu sekutu bahwa kami akan mengatakan tidak kepada Finlandia dan keanggotaan NATO Swedia," kata Erdogan kepada mahasiswa Turki dalam sebuah video yang diunggah di akun Twitter resminya.

Syarat sebuah negara baru dapat menjadi anggota NATO jika disetujui oleh seluruh anggota tetap yang saat ini berjumlah 30 negara. Erdogan menuduh Swedia dan Finlandia menyembunyikan dan membiayai kelompok militan Partai Pekerja Kurdistan dan YPG Kurdi Suriah, yang dia anggap sebagai teroris.

Niinistö menyampaikan tuduhan tersebut secara langsung.

“Finlandia selalu memiliki hubungan bilateral yang membanggakan dan baik dengan Turki. Sebagai sekutu NATO, kami akan berkomitmen pada keamanan Turki, sama seperti Turki akan berkomitmen pada keamanan kami,” kata Niinistö.

"Kami menganggap serius terorisme. Kami mengutuk terorisme dalam segala bentuknya dan kami secara aktif terlibat dalam memeranginya. Kami terbuka untuk mendiskusikan semua kekhawatiran yang mungkin dimiliki Turki mengenai keanggotaan kami secara terbuka dan konstruktif. Diskusi ini telah terjadi dan akan berlanjut di hari-hari berikutnya,” ungkapnya.

Baca juga:

Dia menekankan kontribusi yang akan diberikan Finlandia kepada aliansi tersebut.

“Angkatan bersenjata Finlandia adalah salah satu yang terkuat di Eropa,” imbuh Niinistö.

“Kami juga secara konsisten berinvestasi dalam mengembangkan kapabilitas. Kesediaan Finlandia untuk membela negara adalah salah satu yang tertinggi di seluruh dunia”.

Sementara Andersson mengatakan, " Pemerintah Swedia saat ini sedang berdialog dengan semua negara anggota NATO, termasuk Turki, pada tingkat yang berbeda untuk menyelesaikan setiap masalah yang dihadapi”.

Dia menggarisbawahi perubahan bersejarah yang dibawa oleh invasi Vladimir Putin ke Ukraina.

“Setelah 200 tahun non-blok militer, Swedia telah memilih jalan baru,” ucapnya.

"Agresi skala penuh Rusia terhadap tetangga yang berdaulat dan demokratis adalah momen penting bagi Swedia. Dan pemerintah saya telah sampai pada kesimpulan bahwa keamanan rakyat Swedia akan dilindungi dengan baik di dalam aliansi NATO. Dan ini didukung oleh dukungan yang sangat luas di parlemen Swedia”.

Biden tidak menanggapi penolakan Tukri, namun lebih mengungkapkan optimisme kedua negara dapat dengan mudah menjadi bagian NATO.

"Kedua negara sudah memenuhi setiap persyaratan NATO dan kemudian sisanya.Memiliki dua anggota NATO baru di dataran tinggi akan meningkatkan keamanan aliansi kami dan memperdalam kerja sama keamanan kami di seluruh bidang,” kata Biden.

“Hari ini tidak ada pertanyaan bahwa NATO relevan, itu efektif dan lebih dibutuhkan sekarang daripada sebelumnya,” imbuh Biden.

Penasihat Keamanan Nasional AS Jake Sullivan, mengatakan, “Ketika presiden bertemu Presiden Finlandia dan perdana menteri Swedia, dia mengindikasikan mereka berdua berniat untuk berbicara langsung dengan Presiden. Erdogan dan tim mereka akan terlibat langsung dengan pejabat senior Turki,” ungkap Sullivan.

“Kami di sana untuk mendukung upaya itu dengan cara apa pun, tetapi kami pikir mereka dapat mengatasi ini dan pada akhirnya Finlandia dan Swedia akan diterima sebagai anggota,” pungkas Sullivan.(Aljazeera/OL-5)

BERITA TERKAIT