18 May 2022, 13:54 WIB

Cegah Ekspansi Tiongkok, UE Tambah Kewaspadaan di Indo-Pasifik


Cahya Mulyana |

UNI Eropa (UE) memutuskan untuk meningkatkan strategi pertahanan di kawasan Indo-Pasifik. Landasannya karena kekhawatiran atas kehadiran Tiongkok di wilayah tersebut yang dibarengi dampak invasi Rusia ke Ukraina.

“Motto kami adalah selalu bekerja sama kapan pun memungkinkan, tetapi juga membela kapan pun diperlukan,” kata Gabriele Visentin, Utusan Khusus UE untuk Indo-Pasifik.

“Itu tidak ditujukan terhadap satu negara atau lainnya, ini adalah cara untuk meningkatkan kapasitas dan kredibilitas kami dalam hal membela kepentingan kami,” tambahnya.

Visentin mengatakan tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa perang akan segera terjadi di kawasan yang mencakup wilayah pantai timur Afrika hingga negara-negara kepulauan Pasifik. Tetapi UE khawatir tatanan berbasis aturan multilateral tidak akan dihormati sepenuhnya.

Baca juga: Silang Pendapat AS dan Tiongkok Soal Sanksi Korut

“Harga yang dikenakan pada pelanggaran tatanan berbasis aturan multilateral cukup tinggi. Ini pasti sinyal bagi orang lain yang mungkin ingin mendobrak tatanan multilateral dengan cara yang begitu kejam, yah, maka mereka tahu apa yang bisa mereka hadapi," jelasnya.

Tiongkok dipandang sebagai ancaman terbesar di kawasan itu. Visentin mengatakan Tiongkok dipandang sebagai mitra namun juga pesaing sekaligus ancaman oleh UE.

Kekhawatiran yang meningkat atas pembangunan militer dan niat strategisnya berkobar setelah rancangan pakta keamanan antara Tiongkok dan Kepulauan Solomon bocor pada Maret.

Kejadian itu membutakan mitra UE yakni Australia, AS, dan Selandia Baru berang.

Dokumen tersebut juga memicu kekhawatiran stabilitas regional dapat terancam. Pasalnya Tiongkok memiliki kesempatan untuk menempatkan kapal perang di Pasifik dengan jarak kurang dari 2.000 km di lepas pantai Australia.

Sementara Prancis mengkhawatirkan di banyak isu, terutama mengenai ambisi Tiongkok sebagai aktor keamanan regional Indo-Pasifik.

Tetapi Visentin enggan menegaskan bahwa Tiongkok merupakan ancaman keamanan secara terang-terangan ke publik.

“Tapi tentu saja, sinyal yang telah dikirimkan Kepulauan Solomon kepada kami sangat keras dan jelas: UE dan lainnya harus berbuat lebih banyak,” tuturnya.

Sujiro Seam, Duta Besar UE untuk Pasifik dan Kepulauan Solomon mengatakan kesepakatan itu menunjukkan perlunya UE untuk menambah pengaruh di kawasan Pasifik.

“Pengalaman UE dalam masalah keamanan dan pertahanan di Pasifik sangat terbatas. Ini merupakan tantangan ke depan, dan kesepakatan keamanan antara Tiongkok dan Kepulauan Solomon ini harus dipertimbangkan dalam pengembangan aksi Uni Eropa tentang keamanan dan pertahanan di kawasan," paparnya.

“Secara tradisional di Pasifik, Uni Eropa telah menjadi mitra pembangunan. Tantangan utamanya adalah menunjukkan bahwa kita bisa menjadi sesuatu yang lain, mitra strategis dalam keamanan dan pertahanan,” tambahnya.

Pada Maret, UE menyetujui rencana untuk memperkuat kebijakan keamanan dan pertahanan globalnya. UE terdesak untuk bertindak tegas mencegah krisis di Indo-Pasifik yang mengacu pada tindakan Rusia di Ukraina.

“Penerapan strategi ini bahkan lebih relevan, mengingat perang di Ukraina. Perang di Ukraina adalah momen bersejarah yang berkontribusi pada penegasan ambisi Eropa dalam masalah keamanan dan pertahanan,” jelasnya.

Rencana keamanan yang lebih intensif tidak akan melibatkan pendirian pangkalan militer atau pengerahan pasukan UE. Itu hanya dilakukan untuk pelatihan militer dan latihan langsung di darat dan laut, meningkatkan intelijen, dan membuat kapal-kapal UE melewati zona-zona dengan kepentingan maritim. (The Guardian/Cah/OL-09)

BERITA TERKAIT