17 May 2022, 14:00 WIB

Malapetaka Invasi Bagi Rusia


Cahya Mulyana |

PRESIDEN Rusia Vladimir Putin menyadari potensi bencana keamanan akibat ulahnya dengan sejumlah negara yang sempat dikuasai Uni Soviet berbondong-bondong mengajukan diri menjadi anggota NATO. Padahal, Februari lalu, dia mengatakan operasi khusus negaranya melawan Ukraina adalah langkah awal untuk menghentikan ekspansi NATO di wilayah bekas Uni Soviet.

Namun, dampak agresi Rusia malah memancing banyak negara, seperti Finlandia dan Swedia, berencana mengajukan keanggotaan ke NATO. 

Begitu kedua negara itu masuk, pasukan NATO akan berada tepat di sebelah perbatasan Finlandia-Rusia yang membentang 1.340 km (833 mil) melintasi hutan pinus dan danau dingin.

Baca juga: Ditinggalkan Pasukan Rusia, Irpin Kembali Bersolek

Pada Perang Dingin 1949, NATO hanya memiliki 12 anggota. Setelah runtuhnya Uni Soviet pada 1991, 14 negara Eropa Timur, yang dulunya menjadi bagian kekuasaan Moskow, dan tiga republik Soviet bergabung dengan NATO.

Kremlin melihat ekspansi itu sebagai ancaman eksistensial dan seruan untuk mengakhirinya adalah bagian dari daftar tuntutan Putin yang diserahkan kepada Barat kolektif, sebelum invasi pada 24 Februari ke Ukraina.

Jadi, pengumuman Stockholm dan Helsinki memberikan pukulan ganda bagi reputasi Putin baik di luar negeri maupun di dalam negeri. 

“Ini menandai kekalahan Putin di dua front – asing dan domestik,” kata Sergei Biziukin, seorang humas dan aktivis oposisi yang melarikan diri dari Rusia pada 2019.

Beberapa tahun lalu, beberapa kekuatan politik melihat NATO sebagai peninggalan perang dingin yang sudah usang. Namun itu tidak lagi karena Eropa, kecuali Hongaria dan Serbia, menyadari bahaya dari Rusia.

Di Rusia, bahkan tokoh-tokoh pro-Kremlin akan kesulitan menjelaskan agresi rancangan Putin. Beberapa orang Rusia sudah menanggapi perkembangan yang akan membentuk kembali lanskap keamanan Eropa. 

“Sekali lagi, itu semua membuat saya berpikir bahwa Putin adalah mata-mata Jerman. Tidak ada yang melakukan banyak hal untuk menghancurkan Rusia dan membawa NATO ke depan pintu kami, ”kata Konstantin, seorang koki restoran di St Petersburg.

Sementara Finlandia dan Swedia melihat pilihan bergabung dengan NATO sebagai sesuatu yang benar. Kedua negara itu hanya berusaha melindungi diri dari musuh lama, kata Ivar Dale, penasihat kebijakan senior Komite Helsinki Norwegia, pengawas hak asasi manusia.

“Setelah invasi ke Ukraina, jaminan Putin tidak ada artinya,” katanya. “Kebohongan sistematis mungkin berguna sebagai strategi untuk sementara waktu, tetapi itu telah kembali dan benar-benar menghancurkan posisi Rusia secara internasional.”

Tiga abad yang lalu, Peter the Great menjadi orang Rusia pertama yang dinobatkan sebagai kaisar. Tetapi itu setelah memenangkan perang yang menghancurkan selama 21 tahun melawan Swedia.

Kemenangan itu membuat Rusia menjadi kekuatan Eropa yang utuh. Namun Peter membangun ibu kota barunya, St Petersburg, di pantai Baltik yang berawan.

Sejak itu, Stockholm tidak pernah berperang dalam satu perang pun dan pada prinsipnya tidak terlibat dalam aliansi militer dan diplomatik. Satu abad kemudian, Rusia merebut Finlandia dari Swedia.

Setelah revolusi Bolshevik 1917, Finlandia memisahkan diri dan harus berperang dalam Perang Musim Dingin 1939 hingga 1940 yang berdarah ketika diktator Soviet Josef Stalin mencoba merebut kembali bekas provinsi kekaisaran. 

Perang itu secara tidak terduga menjadi malapetaka bagi Moskow sehingga membantu membuka jalan bagi invasi pemimpin Nazi Adolf Hitler ke Uni Soviet pada 1941.

Selama Perang Dingin, kedua negara Nordik itu memilih untuk tidak menyerang Rusia dan tetap tidak bersekutu meskipun banyak tawaran untuk bergabung dengan NATO. Tapi Swedia dan Finlandia kini berubah pikiran.

Keduanya adalah anggota Uni Eropa dan program Kemitraan untuk Perdamaian NATO. Mereka memperdalam kerja sama mereka dengan NATO setelah pencaplokan Krimea oleh Rusia pada 2014, dan invasi Putin mendorong mereka untuk menjadi anggota penuh. (Aljazeera/OL-1)

BERITA TERKAIT