17 May 2022, 09:19 WIB

Amerika Serikat akan Longgarkan Embargo Terhadap Kuba


Cahya Mulyana |

AMERIKA Serikat (AS) akan melonggarkan pembatasan atas pengetatan yang diberlakukan selama pemerintahan Presiden Donald Trump.

Salah satunya transfer uang dari Paman Sam ke negara komunis itu akan dapat dilakukan secepatnya dan visa kunjungan.

"Rakyat Kuba menghadapi krisis kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan kebijakan kami akan terus fokus pada pemberdayaan rakyat Kuba untuk membantu mereka menciptakan masa depan yang bebas dari penindasan dan penderitaan ekonomi," kata Departemen Luar Negeri AS.

Melonggarkan embargo terhadap Kuba juga akan membuat AS menerbitkan visa untuk rakyat Kuba dan sebaliknya. Hal itu termasuk di Konsulat Havana, tetapi dengan sebagian besar visa masih ditangani Kedutaan AS untuk Guyana.

Baca juga: Korut Laporkan Tambahan Enam Kematian Akibat 'Demam'

Pernyataan itu mengatakan mendorong pelaksanaan kerja sama di bidang pendidikan di antara kedua negara serta dukungan untuk program penelitian.

Untuk meningkatkan aliran pengiriman uang, pemerintah AS akan mencabut batas pengiriman yang saat ini sebesar USD1.000 per kuartal untuk setiap pengirim, dan juga mengizinkan pengiriman uang non-keluarga untuk mendukung pengusaha Kuba.

Menteri Luar Negeri  (Menlu) Kuba, Bruno Rodriguez, menyatakan,"Langkah itu adalah langkah kecil ke arah yang benar. Tetapi menekankan bahwa kebijakan AS itu belum dapat mengubah embargo yang berlaku sejak 1962".

"Baik tujuan maupun instrumen utama kebijakan AS terhadap Kuba, yang gagal, tidak berubah," jelasnya.

Senator AS Bob Menendez, Ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat dan anggota Partai Demokrat Presiden Joe Biden, mengecam pencabutan beberapa pembatasan, dengan dasar rezim Kuba melanjutkan penganiayaan kejam terhadap warga Kuba yang tak terhitung jumlahnya dari semua lapisan masyarakat.

"Pelonggaran perjalanan berisiko mengirim pesan yang salah kepada orang yang salah, pada waktu yang salah dan untuk semua alasan yang salah," katanya.

"Mereka yang masih percaya bahwa peningkatan perjalanan akan menumbuhkan demokrasi di Kuba hanya dalam keadaan menyangkal. Selama beberapa dekade, dunia telah bepergian ke Kuba dan tidak ada yang berubah."

Pencairan terjadi setelah serangkaian penyakit misterius yang diderita oleh personel AS dan anggota keluarga di Kuba yang kemudian dikenal sebagai Sindrom Havana.

Para pejabat AS mengatakan mereka belum menentukan secara pasti apa yang terjadi dalam insiden tersebut tetapi seorang pejabat senior mengatakan kepada wartawan bahwa ada postur keamanan yang tepat. (France24/Cah/OL-09)

BERITA TERKAIT