14 May 2022, 06:08 WIB

Prosesi Pemakaman Wartawan yang Dibunuh Tentara Israel Diwarnai Kerusuhan


Basuki Eka Purnama | Internasional

RIBUAN orang memadati Kota Tua Jerusalem, Jumat (13/5) untuk menghadiri pemakaman wartawan Al Jazeera Shireen Abu Akleh, setelah militer Israel menyerbu awal proses pemakaman tersebut.

Rekaman televisi memperlihatkan pembawa peti jenazah kesulitan mencegah peti jenazah Abu Akleh jatuh ke tanah saat polisi Israel menyerbu mereka dan merebut bendera Palestina dari para pengiring.

Gedung Putih menyebut insiden itu 'sangat buruk' sementara Uni Eropa mengecam penggunaan kekuatan yang tidak perlu oleh polisi Israel, sebelum dan saat upacara pemakaman.

Baca juga: Tolak Penyelidikan Israel, Ribuan Warga Palestina Hormati Jurnalis yang Terbunuh

Bulan Sabit Merah Jerusalem melaporkan 33 oang terluka dalam insiden itu dengan enam orang harus dirawat di rumah sakit.

Polisi Israel mengaku menahan enam orang dengan alasan mereka melempari batu dan botol ke arah polisi.

Israel dan Palestina saling tuding terkait penembakan Abu Akleh saat paskan Israel melakukan razia di Jenin, Rabu (11/5).

Militer Israel mengklaim penyelidikan internal tidak bisa menyimpulkan siapa yang melepaskan tembakan sembari menggarisbawahi bahwa tembakan dari pihak Palestina maupun sniper Israel bisa menjadi penyebab tewasnya wartawan tersebut.

Adapun Al Jazeera menuding Israel telah dengan sengaja membunuh Abu Akleh dengan kejam.

Abu Akleh, yang beragama kristen dan memegang kewarganegaraan AS serta Palestina, adalah wartawan yang sangat dihormati dan upacara pemakamannya dihadiri banyak orang.

Saat jenazah Abu Akleh meninggalkan Rumah Sakit St Joseph di Jerusalem Timur, polisi Israel menyerbu warga yang membawa bendera Palestina.

Negara Yahudi itu melarang pengibaran bendera Palestina dan secara rutin menangkap mereka yanbg melanggar aturan itu.

Polisi Israel mengaku hanya ingin menghentikan warga untuk menghentikan menyanyikan lagu nasional Palestina dan berusaha menghentikan sekelompok perusuh yang berusaha menganggu prosesi pemakaman.

Namun, tokoh Palestina Hanan Ashwari menyebut aksi polisi Palestina menyerang para pembawa peti jenazah adalah tindakan yang tidak berperikemanusiaan.

Juru bicara gedung Putih Jen Psaki mengatakan, "Kami sangat menyayangkan aksi yang menganggu prosesi yang seharusnya berjalan damai itu.

Ketika ditanya apakah dia mengecam aksi polisi Israel tersebut, Psaki menjawba, "Saya rasa saat kami mengatakan apa yang terjadi sangat buruk, itu berarti kami tidak membenarkan aksi itu."

Sebagai bukti popularitas Abu Akhleh, wartawan itu mendapatkan upacara pemakaman kenegaraan di kediaman Presiden Palestina Mahmud Abbas di Ramallah sebelum kemudian dipindahkan je Jerusalem.

"Suaranya mengisi setiap rumah warga Palestina dan kematiannya melukai hati kami," ujar seorang warga Palestina Hadil Hamdan.

Amerika Serikat, Uni Eropa, dan PBB menyerukan digelarnya penyelidikan atas kematian Abu Akleh.

Israel meminta digelar penyelidikan bersama dengan Palestina sembari mendesak otoritas Palestina menyerahkan peluru yang menewaskan Abu Akleh untuk diperiksa secara forensik. Palestina dengan tegas menolak melakukan penyelidikan bersama dengan Israel.

"Dia adalah saudari warga Palestina," ujar saudarara Abu Akleh, Anton. (AFP/OL-1)
 

BERITA TERKAIT