12 May 2022, 20:17 WIB

Bongbong Lanjutkan Gaya Ayahnya


Cahya Mulyana | Internasional

Gaya kepemimpinan mantan diktator Filipina Ferdinand Marcos tercium kuat berada dalam diri anaknya yang kini meraih suara tertinggi dalam pemilihan presiden yakni Ferdinand 'Bongbong' Marcos Junior. Bongbong akan lebih mesra berhubungan dengan Tiongkok dalam beberapa urusan.

"Bongbong lahir dalam keluarga politisi yang serba tercukupi dan terpandang. Ayah Bongbong merupakan kleptocrat dan diktator yang tidak melucuti kekayaan dan dukungan dari lingkar kelompok setia Marcos terutama di bagian Utara Filipina, di daerah Ilocos. Tak heran sampai hari ini tidak ada rasa bersalah dari satupun anggota keluarga Marcos atas rangkaian kekerasan dan penyiksaan para aktivis yg dianggap oposisi pada masa berkuasanya Marcos Senior," ujar Pengamat Hubungan Internasional Dinna Prapto Raharja kepada Media Indonesia, Kamis (12/5).

Menurut Pendiri Synergy Policies, think-tank independen yang berbasis di Jakarta ini citra negatif sangat kuat terpatri pada keluarga Marcos sebagai pembunuhan Senator Benigno Aquino yang menjadi lawan kuat politik, bahkan korupsi besar-besaran yang sebenarnya sudah terbukti secara hukum terjadi.

Namun, kata dia, Bongbong melenggang bebas dalam panggung politik. Ia menjabat enam kali berturut-turut sebagai senator dari Ilocos Norte, wilayah basis kekuatan politik keluarga Marcos.

Bongbong juga sempat menjabat tiga periode menjabat sebagai gubernur di Ilocos Norte. Imee Marcos, saudara perempuan Bongbong mengikuti jejaknya, menjadi gubernur Ilocos Norte dan kemudian senator dari Ilocos Norte.

Kemudian Imelda Marcos, istri dari Marcos Senior, pernah menjabat sebagai anggota Houe of Representatives selama empat periode berturut-turut. Bahkan Imelda mencoba pula mencalonkan diri dua kali sebagai presiden.

"Jadi kalau dilihat dari lingkar politik yang membesarkan Bongbong, belum ada bukti bahwa Bongbong akan bertindak berbeda dari yang dilakukan oleh ayahnya dahulu. Ia kemungkinan besar tidak akan membayarkan hutang korupsi yg dilakukan ayahnya juga tidak mau menyelesaikan masalah pelarian pajak yang dilakukannya selama menjabat sebagai gubernur," paparnya.

Soal perilakunya terhadap oposisi, kata Dinna, Bongbong akan pragmatis dan tidak ragu-ragu melakukan tekanan. Karena Bongbong memiliki kepercayaan dirinya yang tinggi akan popularitas dan kekuatan keluarganya.

Selain itu, lanjut Dinna, Bongbong dalam urusan geopolitik akan memanfaatkan keadaan. Presiden Duterte selama berkuasa mengambil posisi berjarak dengan Amerika Serikat (AS) dengan tidak pernah menjejakkan kaki di negeri Paman Sam.

Bahkan Duterte mengabaikan kecaman pelanggaran HAM akibat tindakannya semena-mena dengan membunuh orang-orang yang diduga terlibat perdagangan narkoba.

Dengan pergantian presiden Filipina, kata Dinna secara hukum seharusnya AS menekan Bongbong karena utang-utang masa lalunya itu pernah diakui juga oleh pemerintah AS. Juga karena catatan kelam pelanggaran HAM masa Marcos, tapi karena situasi geopolitiknya sekarang seperti sekarang dimana AS bergerak makin mendorong polarisasi anti Rusia dan anti Tiongkok.

"Maka tidak mustahil Bongbong akan memanfaatkan situasi ini demi kepentingan pribadinya. Mungkin saja Bongbong mencoba meyakinkan AS bahwa Filipina siap mendukung posisi AS dalam kontestasi geopolitik sehingga AS menutup sebelah mata atas apa yang terjadi di dalam negeri Filipina," jelasnya.

Di sisi lain, lanjut Dinna, karena proyek-proyek pembangunan di Filipina pada masa Duterte lebih banyak bermitra dengan Tiongkok, tentu tidak mudah membalikkan itu semua.

Terlebih Filipina terdampak sangat buruk secara ekonomi akibat pandemi covid-19. Belum lagi Bongbong berkepentingan menyalurkan dana-dana investasi dari berbagai tempat ke wilayah konstituennya, terutama di utara wilayah Filipina.

"Namun Bongbong kurang populer di kalangan investor Barat, jadi demi alasan pragmatis kemungkinan Bongbong akan meneruskan proyek-proyek kerjasama juga dengan Tiongkok,"terangnya.

Implikasinya, jika Tiongkok tidak melakukan agresi baru di Laut China Selatan, kata Dinna maka tentu urusan Laut China Selatan akan diabaikan dahulu oleh Filipina. (OL-12)

BERITA TERKAIT