11 May 2022, 20:45 WIB

Kenangan Rekan Kerja Shireen Abu Akleh di Al Jazeera


Mediaindonesia.com | Internasional

MEDIA Al Jazeera mengatakan kepada Shireen Abu Akleh bahwa mereka akan menyediakan tempat untuknya pada saat yang tepat. Ini disampaikan setelah dia mengatakan dalam email bahwa dia akan meliput operasi Israel di kota Palestina, Jenin.

"Namun dia tidak pernah muncul," kata Mohamed Moawad, kepala produksi saluran Arab, sambil menahan air mata ketika dia menceritakan tentang kontak terakhir dengan jurnalis veteran itu dalam misi yang biasanya berisiko. "Komunikasi terakhir yaitu 20 menit sebelum kejahatan keji ini terjadi," kata Moawad kepada AFP tak lama setelah staf mengadakan siaran penghormatan mereka kepada wanita berusia 51 tahun itu.

"Dia mengirim email yang mengatakan 'Hai, ada intervensi Israel di Jenin dan saya menuju ke sana sekarang. Saya hampir sampai. Saya akan mengirimkan detailnya'." Alih-alih laporan langsung dari serangan itu, staf Al Jazeera terguncang melihat gambar media sosial yang menunjukkan dia telah ditembak.

Moawad mengatakan wartawan lain segera mengirim pesan yang memberi tahu mereka bahwa dia telah meninggal tiga kilometer (hampir dua mil) dari tepi Jenin di Tepi Barat. Dia bersama empat jurnalis lain. Semua mengenakan rompi pers dan helm biru, menurut kepala Al Jazeera.

Baca juga: AS Salurkan Dana Saudi untuk Investasi di Israel, terkait Indonesia?

Saluran televisi milik negara Qatar itu mengatakan Abu Akleh, seorang Palestina-Amerika, telah dibunuh dengan darah dingin dan menuntut pasukan Israel bertanggung jawab. Israel mengatakan sedang menyelidiki kematian itu tetapi membantah Abu Akleh sengaja ditembak. Perdana Menteri Naftali Bennett mengatakan kemungkinan tembakan dari warga Palestina yang mengenai dirinya.

Sengaja

"Kami menganggap ini sesuatu yang disengaja karena peluru tepat mengenai area di bawah telinganya yang tidak ada penutupnya," kata Moawad. Ia yang menambahkan bahwa komentar sembrono telah dibuat di Israel tentang pembunuhan itu.

Wartawan Al Jazeera menitikkan air mata ketika siarannya diheningkan sebagai penghormatan kepada wartawan yang bergabung dengan saluran tersebut tak lama setelah dibuka pada 1996. Banyak orang yang pernah bekerja dengan Abu Akleh berpelukan di ruang redaksi, mencengkeram potret jurnalis, dan lembaran yang menyatakan Jurnalisme bukan kejahatan, karena gambar yang menunjukkan kekerasan terbaru di wilayah Palestina muncul di layar kerja mereka.

Abu Akleh--jurnalis kedua yang disewa oleh Al Jazeera di wilayah Palestina--menjadi jurnalis ke-12 dari saluran tersebut yang terbunuh saat bertugas sejak mulai mengudara. "Dia ada di mana-mana di mana ada cerita. Dia ada di mana-mana untuk menyuarakan yang tak bersuara," kata Moawad.

"Ada begitu banyak video yang menunjukkan Shireen diserang oleh pasukan Israel, diserang oleh peluru, dan hal-hal lain." Abu Akleh tidak pernah mengeluh tentang keselamatannya sendiri, tambahnya.

"Dia selalu ada di sana meliput cerita tanpa rasa takut. Kami tidak pernah menugaskan Shireen untuk membuat cerita, dia hanya ada di sana. Dia muncul."

Baca juga: Mengenang Kiprah Shireen Abu Akleh Wartawan Al Jazeera yang Tewas

Hoda Abdel-Hamid, koresponden senior di Al Jazeera, mengatakan Abu Akleh, "Sangat berani. Namun dia juga seorang jurnalis yang sangat berpengalaman. Dia bukan orang yang berani mengambil risiko bodoh untuk itu," katanya kepada AFP dari misinya di Ukraina.

"Saya cukup yakin bahwa hari ini dia berada di tempat yang aman, di tempat yang diperuntukkan bagi jurnalis dan dia ditandai dengan jelas. Dia tidak akan melompat dalam baku tembak hanya untuk itu. Dia tidak akan melakukan itu." (OL-14)

BERITA TERKAIT