28 April 2022, 11:55 WIB

Rusia Koordinasikan Serangan Siber dengan Serangan Militer di Ukraina


Nur Aivanni |

Sejumlah kelompok peretas yang bersekutu dengan pemerintah Rusia telah melakukan ratusan serangan siber terhadap Ukraina sejak invasi Moskow. Hal itu disampaikan raksasa teknologi AS Microsoft dalam sebuah laporan, pada Rabu (27/4).

Perusahaan tersebut menambahkan bahwa dalam taktik perang hibrida, Rusia sering mencocokkan serangan siber dengan serangan militer di medan perang.

"Mulai sebelum invasi, kami telah melihat setidaknya enam aktor negara-bangsa yang bersekutu dengan Rusia meluncurkan lebih dari 237 operasi melawan Ukraina," kata Microsoft, yang bekerja dengan pakar keamanan siber Ukraina dan perusahaan swasta untuk melawan serangan semacam itu.

Dikatakannya, perang siber termasuk serangan destruktif yang sedang berlangsung dan mengancam kesejahteraan sipil.

Pada minggu pertama invasi, laporan itu mengatakan para peretas Rusia menyerang sebuah penyiar media utama Ukraina pada hari yang sama ketika militer Rusia mengumumkan niatnya untuk menghancurkan target 'disinformasi' Ukraina dan mengarahkan serangan rudal terhadap menara TV di Kyiv.

Perusahaan itu mengatakan tujuan dari serangan terkoordinasi tersebut adalah untuk mengganggu atau menurunkan fungsi pemerintah dan militer Ukraina dan merusak kepercayaan publik pada lembaga yang sama.

Microsoft mengatakan pihaknya telah melacak hampir 40 serangan siber yang merusak, yang ditujukan pada ratusan sistem. Sepertiga di antaranya secara langsung menargetkan organisasi pemerintah Ukraina di semua tingkatan, dari nasional hingga lokal, sementara 40% lainnya mengincar infrastruktur penting.

Beberapa di antaranya disebut "serangan wiper" yang menghapus data penting dalam sistem komputer yang diretas. Peretas menggunakan serangkaian teknik untuk mendapatkan akses ke sistem Ukraina.

"Aktor-aktor ini sering memodifikasi malware mereka dengan setiap penyebaran agar tidak terdeteksi," kata laporan tersebut. Laporan itu juga mencatat bahwa penyerang siber telah mulai mempersiapkan operasi mereka pada awal Maret 2021, hampir setahun sebelum Presiden Vladimir Putin memerintahkan pasukannya untuk menyerang Ukraina.

"Ketika pasukan Rusia pertama kali mulai bergerak menuju perbatasan dengan Ukraina, kami melihat upaya untuk mendapatkan akses awal ke target yang dapat memberikan informasi intelijen tentang militer Ukraina dan kemitraan asing," katanya.

Microsoft pun mencatat bahwa kemungkinan serangan yang mereka amati hanyalah sebagian kecil dari aktivitas yang menargetkan Ukraina. (AFP/OL-12)

BERITA TERKAIT