21 April 2022, 13:01 WIB

Mariupol Terancam Jatuh, Ukraina Minta Negosiasi


Cahya Mulyana |

PEMERINTAH Ukraina mengajak Rusia negosiasi terkait di Mariupol, ajakan ini disampaikan karena Rusia tak lama lagi menguasai Mariupol. Rusia telah berminggu-minggu berupaya merebut Mauripol. Ajakan itu bersamaan dengan keputusan Presiden Rusia Vladimir Putin menguji coba rudal balistik antarbenua (ICBM) baru dengan hulu ledak nuklir.

Washington meremehkan uji coba rudal itu tetapi Putin mengatakan tujuannya supaya musuh Kremlin berpikir dua kali. Mariupol, sebuah kota pelabuhan strategis di Laut Azov, telah berada di bawah pengepungan Rusia sejak invasi dimulai.

Pada Rabu (20/4), Moskow mengeluarkan seruan lain agar para pembela kota yang hancur itu menyerah. Tapi Kyiv mengusulkan pertemuan khusus dengan Moskow.

"Satu lawan satu. Dua lawan dua. Untuk menyelamatkan orang-orang kami, Azov, militer, warga sipil, anak-anak, yang hidup dan yang terluka. Semua orang. Karena mereka milik kita," tulis negosiator dan Pembantu Presiden Ukraina Mykhailo Podolyak di Twitter.

Dia mentweet setelah seorang komandan Ukraina di pabrik baja Azovstal yang terkepung di Mariupol mengeluarkan permintaan bantuan darurat. Ia mengatakan prajurit marinirnya akan menghadapi hari-hari terakhir karena sudah terkepung.

"Musuh melebihi jumlah kita, 10 banding satu," kata Serhiy Volyna dari Brigade Marinir ke-36.

"Kami memohon dan memohon kepada semua pemimpin dunia untuk membantu kami. Kami meminta mereka untuk menggunakan prosedur ekstraksi dan membawa kami ke wilayah negara pihak ketiga."

Seorang penasihat wali kota Mariupol menggambarkan situasi mengerikan di pabrik baja yang dikelilingi dan melaporkan bahwa hingga 2.000 orang, kebanyakan wanita dan anak-anak, tidak memiliki persediaan air minum, makanan, dan udara segar.

"Bom kuat telah dijatuhkan beberapa kali di Azovstal, kami telah dibom dari kapal. Kami dikepung 360 derajat," kata Svyatoslav Palamar, seorang komandan batalion nasionalis Azov.

Mariupol telah menjadi simbol perlawanan sengit Ukraina yang tak terduga sejak pasukan Rusia menginvasi bekas negara Soviet itu pada 24 Februari. Menguasainya akan memungkinkan Rusia untuk memiliki jembatan darat antara semenanjung Krimea, yang dicaplok pada 2014, dan dua negara bagian separatis yang didukung Moskow di timur Ukraina.

Tawaran pembicaraan datang setelah Kyiv mengatakan telah setuju dengan pasukan Rusia untuk membuka rute yang aman bagi warga sipil untuk melarikan diri dari kota yang hancur itu. Tetapi upaya itu gagal.

Biden Bersorak

Pemimpin Dewan Eropa Charles Michel mengunjungi Kyiv dan berjanji Uni Eropa akan melakukan segala sesuatu yang mungkin untuk membantu Ukraina memenangkan perang.

"Anda tidak sendirian. Kami bersama Anda," kata Michel saat konferensi pers bersama Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy.

Zelenskiy mengatakan negaranya masih tidak memiliki cukup senjata untuk melawan invasi. Menjelang kedatangan pejabat Pentagon, ia mengatakan Ukraina telah menerima pesawat-pesawat tempur untuk meningkatkan angkatan udara.

Tetapi pihaknya mengoreksi pernyataan itu, dengan mengatakan hanya suku cadang pesawat yang telah diterima Ukraina. Washington telah berulang kali berjanji untuk melakukan apa saja untuk membantu Kyiv, tanpa memicu konflik langsung dengan Rusia yang bersenjata nuklir.

Pada Rabu (20/4) Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengatakan dia mengagumi perlawanan Ukraina. "Mereka lebih tangguh dan lebih bangga dari yang saya kira," katanya.

"Senjata dan amunisi dari barat mengalir setiap hari. NATO tetap bersatu, fokus dan bersemangat," tambahnya.

Rusia mengatakan pada hari Rabu bahwa pasukannya telah meluncurkan 73 serangan udara di seluruh Ukraina. Di Kramatorsk Ukraina timur, sebuah kota besar di wilayah Donetsk, penduduk bersiap menghadapi yang terburuk. (France24/OL-13)

Baca Juga: Sekjen PBB Ingin Bertemu dengan Putin dan Zelensky

BERITA TERKAIT