10 March 2022, 15:18 WIB

Kota Mariupol Digempur Militer Rusia, Kondisi Kemanusiaan Kian Memburuk


 Nur Aivanni |

UKRAINA menuduh militer Rusia membom sebuah rumah sakit anak-anak dan bangsal bersalin di kota pelabuhan Mariupol yang terkepung. Serangan tersebut melukai 17 orang dan anak-anak serta lainnya terjebak di bawah puing-puing bangunan.

Rusia mengatakan akan menahan tembakan untuk membiarkan ribuan warga sipil melarikan diri dari Mariupol dan kota-kota lain yang terkepung pada Rabu (9/3).

Sebaliknya, Dewan Kota Mariupol mengatakan rumah sakit itu telah beberapa kali terkena serangan udara. "Kehancurannya sangat besar," katanya dalam sebuah unggahan secara daring.

Tanah berguncang lebih dari satu mil jauhnya ketika kompleks Mariupol dilanda serangkaian ledakan yang menghancurkan jendela dan menghancurkan sebagian besar bagian depan sebuah bangunan.

Baca juga: Bahas Krisis di Ukraina, Menlu Rusia-Ukraina Tiba di Turki

Rekaman dari tempat kejadian menunjukkan polisi dan tentara bergegas ke tempat kejadian untuk mengevakuasi korban, membawa seorang perempuan hamil dan berdarah di atas tandu saat salju tipis melayang di atas mobil dan pohon yang terbakar dan hancur akibat ledakan.

Perempuan lainnya meratap sambil memeluk anaknya. Dan di halaman terdapat sebuah kawah akibat ledakan.

"Hari ini Rusia melakukan kejahatan besar," kata Volodymir Nikulin, seorang pejabat tinggi polisi daerah, yang berdiri di reruntuhan. "Ini adalah kejahatan perang tanpa pembenaran apapun," tegasnya.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy juga membagikan rekaman di Twitter dari lokasi dugaan serangan, yang tampaknya menunjukkan beberapa kamar rusak di sepanjang koridor di sebuah gedung yang jendelanya pecah.

"Tutup langit sekarang! Hentikan pembunuhan! Anda memiliki kekuatan tetapi Anda tampaknya kehilangan kemanusiaan," kata Zelenskyy. Namun, Al Jazeera tidak dapat memverifikasi rekaman itu secara independen.

Ketika dimintai komentar oleh kantor berita Reuters, juru bicara Kremlin mengatakan: "Pasukan Rusia tidak menembaki sasaran sipil".

Gubernur wilayah Donetsk mengatakan 17 orang terluka dalam serangan itu, termasuk perempuan yang sedang melahirkan.

Namun, laporan tersebut tidak dapat segera diverifikasi. Badan Hak Asasi Manusia PBB mengatakan pihaknya sedang memverifikasi jumlah korban di Mariupol.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebut serangan tersebut sebagai kejadian yang mengerikan.

"Kekerasan yang tidak masuk akal ini harus dihentikan. Akhiri pertumpahan darah sekarang," katanya di Twitter.

Pihak berwenang telah mengumumkan gencatan senjata yang baru pada Rabu pagi untuk memungkinkan ribuan warga sipil melarikan diri dari kota-kota di sekitar Kyiv serta di Mariupol, Enerhodar dan Volnovakha, Izyum di timur dan Sumy di timur laut.

Upaya sebelumnya untuk membangun koridor evakuasi yang aman sebagian besar gagal karena apa yang dikatakan Ukraina sebagai serangan Rusia.

Tetapi Putin, saat berbicara via telepon dengan Kanselir Jerman, menuduh kaum nasionalis Ukraina yang menghambat evakuasi tersebut.

Sekitar 200.000 orang di Mariupol sedang menunggu untuk melarikan diri dari kekerasan karena situasi kemanusiaan dilaporkan semakin memburuk dari hari ke hari.

Kota pelabuhan itu tidak memiliki air, pemanas, sistem sanitasi yang berfungsi atau koneksi telepon selama seminggu terakhir, dengan mayat-mayat tergeletak tak bernyawa di jalan-jalan.

Penduduk mengandalkan sungai atau salju yang mencair untuk air minum. Penembakan yang terus menerus juga mencegah perbaikan infrastruktur pemanas dan air yang rusak.

Sebelumnya pada Rabu (9/3), Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba mengatakan Rusia telah melanggar gencatan senjata di sekitar pelabuhan selatan itu, yang terletak di antara daerah separatis yang didukung Rusia di Ukraina timur dan Krimea, yang dianeksasi oleh Moskow dari Ukraina pada 2014.

"Rusia terus menyandera lebih dari 400.000 orang di Mariupol, memblokir bantuan kemanusiaan dan evakuasi. Penembakan tanpa pandang bulu terus berlanjut," tulisnya di Twitter. "Hampir 3.000 bayi yang baru lahir kekurangan obat dan makanan," ungkapnya.

Ukraina mengatakan sedikitnya 1.170 warga sipil telah tewas di Mariupol sejak dimulainya invasi dan 47 dimakamkan di kuburan massal pada Rabu. Itu tidak mungkin untuk memverifikasi angka-angka tersebut.

Sesaat sebelum adanya laporan serangan ke rumah sakit itu, kantor HAM PBB di Jenewa mengatakan pihaknya telah memverifikasi 516 kematian warga sipil dan 908 orang yang terluka sejak konflik dimulai. (Al Jazeera/Nur/OL-09)

BERITA TERKAIT