03 March 2022, 22:27 WIB

Putra Mahkota Saudi Bicara tentang Iran, Korupsi, Suni-Syiah


Mediaindonesia.com |

PUTRA Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman berbicara panjang lebar tentang berbagai hal. Dalam wawancara dengan The Atlantic yang diterbitkan Kamis (3/3) sebagaimana dilansir Gulf News, Putra Mahkota berbicara tentang hubungan negaranya dengan AS dan Iran mengingat perkembangan terakhir.

Ia juga memaparkan pandangannya tentang reformasi politik dan ekonomi, memerangi korupsi, dan supremasi hukum, termasuk hak perempuan.

Iran

Putra Mahkota juga mengatakan perang AS di Irak memberi para ekstremis kesempatan untuk tumbuh lebih kuat di kawasan itu. Arab Saudi bermaksud melanjutkan pembicaraan terperinci dengan Iran untuk mencapai kesepakatan yang memuaskan bagi keduanya. Ini dikatakan Putra Mahkota Mohammed Bin Salman yang dikutip TV pemerintah Saudi, Kamis.

Dia menyatakan harapan bahwa pembicaraan akan memungkinkan kedua negara untuk mencapai situasi yang baik dan menandai masa depan yang cerah bagi kedua negara.

Ketika ditanya tentang program nuklir Iran, Putra Mahkota menekankan bahwa baik Riyadh maupun Teheran tidak dapat saling menyingkirkan. "Arab Saudi dan Iran adalah tetangga dan koeksistensi menjadi satu-satunya solusi," katanya. "Perjanjian nuklir yang lemah akan mengarah pada kepemilikan bom nuklir yang tidak kami inginkan."

Qatar

Pangeran Mohammed menekankan hubungan Saudi-Qatar lebih baik dari sebelumnya. Berbicara tentang Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, dia berkata, "Sheikh Tamim orang yang sempurna dan hubungan kami dengan Qatar lebih baik dari sebelumnya."

Korupsi

Putra Mahkota menyoroti bahwa kerajaan tidak akan menunjukkan kelonggaran dalam memerangi korupsi. "Kami memiliki pendekatan tanpa toleransi dalam hal korupsi. Kami tidak akan menoleransi siapa pun bahkan jika dia hanya mencuri US$100," tegasnya.

"Hukum berlaku untuk semua. Konsep darah bangsawan tidak ada dalam penerapan hukum," katanya.

Hak perempuan

Dia merujuk pada reformasi yang mendukung perempuan dengan mengatakan reformasi semacam itu tidak dimaksudkan memuaskan pihak tertentu, tetapi demi Arab Saudi. "Tidak ada yang berhak ikut campur dalam urusan dalam negeri kami, karena masalah ini hanya menyangkut kami sebagai orang Saudi."

Mengenai sistem yang berkuasa, dia mengatakan Arab Saudi telah didirikan atas dasar monarki absolut dan rezim politiknya akan berlanjut seperti apa adanya. Kerajaan, lanjutnya, ialah rumah bagi Suni dan Syiah dan tidak ada monopoli agama.

Ia menambahkan Arab Saudi telah berubah dibandingkan dengan tujuh tahun lalu. "Tujuan kami kembali ke Islam yang murni," katanya.

“Ekstremis, baik Suni dan Syiah, membajak Islam, yang mendesak kita untuk menghormati agama dan budaya lain, apa pun itu," tambah Pangeran Mohammed.

Baca juga: MBS: Saudi dan Israel Dapat Menjadi Sekutu jika...

Joe Biden

Ia mengatakan AS menyadari yang harus dilakukan untuk mengatasi kepentingannya dengan Kerajaan tanpa campur tangan dalam urusan dalam negeri Arab Saudi.

Pangeran Mohammed mengatakan dia tidak peduli Presiden AS Joe Biden salah paham atau tidak tentang dia dan mengatakan pemimpin AS harus memikirkan kepentingan Amerika. "Sederhananya, saya tidak peduli. Terserah Biden untuk memikirkan kepentingan Amerika," katanya ketika ditanya terkait Biden salah paham tentang dia.

Israel

Dia mengatakan Israel bisa menjadi sekutu potensial Arab Saudi jika konflik dengan Palestina diselesaikan. "Kami melihat Israel sebagai sekutu potensial tetapi sebelum itu harus menyelesaikan masalahnya dengan Palestina," katanya. (OL-14)

BERITA TERKAIT