01 March 2022, 14:34 WIB

Menlu RI: 99 WNI Sudah Dievakuasi dari Ukraina ke Rumania dan Polandia


Nur Aivanni |

MENTERI Luar Negeri (Menlu) Indonesia Retno Marsudi mengatakan bahwa 99 warga negara Indonesia (WNI) sudah dievakuasi dari Ukraina. Saat ini para WNI sudah berada di dua titik aman, yaitu di Bucharest, Rumania dan di Rzeszow, Polandia.

"Jumlah total yang telah berada di luar Ukraina adalah 99 WNI dan 5 WNA yang merupakan keluarga dari WNI kita. 99 WNI sudah keluar dari Ukraina, sekali lagi, termasuk 5 WNI yang melakukan evakuasi mandiri," kata Retno dalam pernyataan pers secara virtual, Selasa (1/3).

Adapun rinciannya, pertama, 25 WNI yang dievakuasi melalui Odessa tiba di Bucharest pada 27 Februari 2022 pukul 16.30 waktu Bucharest. Kedua, 6 orang WNI dan 1 WNA yaitu suami dari WNI pada 27 Februari 2022 juga telah berhasil dievakuasi dari Lviv menuju Rzeszow, Polandia.

Ketiga, 4 WNI (terdiri dari 2 pria dan 2 anak) dan 2 WNA (spouse WNI) juga telah dijemput oleh tim KBRI Warsawa dari Mc D Ternopil, Lviv (Ukraina) menuju Polandia.

Keempat, 59 WNI dan 1 WNA yang dievakuasi dari Kiev dan telah berhasil diseberangkan ke wilayah Moldova dan saat ini dalam perjalanan menuju Rumania.

Namun, kata Retno, masih ada 4 WNI di Kharkiv dan 9 di Chernihiv, di sebelah utara Ukraina. "Mereka belum dapat dievakuasi mengingat pertempuran darat masih terus terjadi. KBRI Kiev dan KBRI Moskow terus melakukan kontak dengan mereka. Informasi yang kami terima mereka dalam kondisi sehat dan memiliki pasokan logistik yang cukup. Pemerintah masih terus menunggu saat yang tepat untuk dapat mengevakuasi mereka," tuturnya.

Selain itu, lanjutnya, terdapat 24 WNI yang memilih untuk tetap tinggal di Ukraina karena alasan keluarga. "Mereka menikah dengan Warga Negara Ukraina," ucapnya.

Langkah selanjutnya, terang Retno, yaitu mengambil jalur udara, untuk mengambil para WNI yang berada di dua titik, yaitu di Rumania dan di Polandia.

"Saat ini sedang terus dimatangkan. Jadi sekali lagi, setelah para evacuee aman di dua titik tersebut, maka langkah selanjutnya adalah penjemputan dengan pesawat untuk kembali ke Indonesia," terangnya.

Dikatakan Retno, situasi di Ukraina sampai saat ini masih sangat dinamis dan berubah dengan cepat. Situasi tersebut, sambungnya, sangat mempengaruhi upaya pemerintah Indonesia untuk melakukan evakuasi WNI.

"Tentunya keselamatan WNI menjadi prioritas kita. Dari sejak awal kita sudah memperhitungkan bahwa evakuasi ini tidak akan mudah, memiliki tingkat kompleksitas dan bahaya yang cukup tinggi di tengah pertempuran yang masih terjadi. Selain itu, keberadaan WNI juga tersebar di beberapa kota di Ukraina, yang berarti mereka tidak tinggal di satu kota," tuturnya.

Retno menjelaskan bahwa komunikasi dilakukan dengan sejumlah pihak dalam melakukan evakuasi para WNI. Komunikasi tersebut dilakukan untuk saling memberikan informasi mengenai situasi dan jalur aman untuk evakuasi.

"Komunikasi juga dilakukan dengan otoritas Ukraina, Rusia dan ICRC, terutama untuk memintakan safe passage pada saat pelaksanaan evakuasi demi keamanan dan keselamatan evacuee," jelasnya.

Koordinasi internal, lanjutnya, juga terus dilakukan. "Di Jakarta tentunya Kemlu secara dekat berkoordinasi dengan BAIS, BIN dan Kementerian/Lembaga terkait lainnya. Sementara itu, KBRI kita di Kiev, Warsawa, Bucharest dan Moscow disiagakan terus untuk mendukung pelaksanaan evakuasi," terangnya.

Lebih lanjut disampaikan Retno, terkait situasi yang berkembang di Ukraina harus dilihat secara jernih.

"Ukraina dan Rusia adalah sahabat dekat Indonesia. Indonesia ingin membangun persahabatan yang lebih kuat dengan kedua negara tersebut," katanya.

Dirinya, kata Retno, juga sudah melakukan pembicaraan per telepon dengan Menlu Ukraina dan Menlu Rusia.

"Konstitusi Indonesia memandatkan agar Indonesia ikut menjaga perdamaian dunia. Perdamaian tidak dapat terwujud jika terjadiperang. Politik luar negeri Indonesia selalu konsisten," jelasnya.

Pada saat sampai pada penerapan hukum internasional dan piagam PBB, termasuk masalah penghormatan integritas wilayah dan penghormatan terhadap kedaulatan. Prinsip ini harus dihormati oleh semua negara. Prinsip ini dijunjung tinggi oleh Indonesia," tuturnya.

Saat ini, kata Retno, selain menekankan prinsip tersebut, hal utama yang harus menjadi perhatian adalah de-eskalasi dan masalah kemanusiaan. Menurutnya, de-eskalasi harus dilakukan.

"Sekali lagi, ini sejalan dengan apa yang tertera di dalam konstitusi kita untuk perdamaian. Kita berharap, pembicaraan antara Ukraina dan Rusia dapat membuahkan hasil yang baik. Selain itu, saving human life menjadi prioritas. Safe passage menjadi kebutuhan utama dan harus dijamin. Prinsip inilah yang ditekankan Indonesia di berbagai forum, baik di New York maupun di Jenewa," pungkasnya. (Nur/OL-09)

BERITA TERKAIT