07 February 2022, 20:28 WIB

OKI Sambut Putusan Uni Afrika Tangguhkan Israel sebagai Pengamat


Mediaindonesia.com |

ORGANISASI Kerja Sama Islam (OKI) hari ini menyambut baik keputusan KTT Afrika untuk menangguhkan pemberian Israel status anggota pengamat di Uni Afrika. Keputusan ini sejalan dengan posisi historis dari negara-negara Uni Afrika mendukung tujuan Palestina yang berkeadilan.

Hal itu juga disebabkan penolakan terhadap kebijakan pemukiman kolonial, pembersihan etnis, dan apartheid yang dilakukan oleh Israel terhadap rakyat Palestina. Dilansir dari kantor berita Palestina, Wafa, OKI menekankan dalam suatu pernyataan, Senin (7/2), "Israel, kekuatan pendudukan, tidak boleh diberi penghargaan atas pelanggaran beratnya terhadap hukum internasional dan resolusi PBB yang relevan."

Uni Afrika kemarin menangguhkan status Israel sebagai pengamat dan membentuk komite tujuh negara untuk membuat rekomendasi kepada KTT Afrika berikutnya mengenai masalah ini. Pada Minggu (6/2), para pemimpin Uni Afrika, sepakat menangguhkan debat tentang keputusan kontroversial Ketua Komisi Uni Afrika Moussa Faki Mahamat untuk menerima akreditasi Israel dan menunda pemungutan suara yang berpotensi memecah belah.

Langkah Faki pada Juli lalu menarik protes dari anggota berpengaruh termasuk Afrika Selatan dan Aljazair yang berpendapat bahwa itu bertentangan dengan pernyataan Uni Afrika yang mendukung wilayah Palestina. Kedua negara mendorong agar masalah ini dimasukkan ke dalam agenda KTT.

Baca juga: Pemukim Israel Coba Bakar Rumah Warga Palestina di Hebron

Selama sesi Sabtu, Faki membela akreditasi Israel. Ia mencatat bahwa 44 negara anggota memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Dia juga mengatakan langkah itu sangat selaras dengan dukungan Uni Afrika atas solusi dua negara dan kemerdekaan Palestina.

Namun Perdana Menteri Palestina Mohammed Shtayyeh pada Sabtu menyerukan agar akreditasi Israel dicabut. Ia mengatakan, "Tidak boleh memberi penghargaan untuk rezim apartheid."

Komite enam negara akan mempelajari masalah ini, kata para diplomat kepada AFP, Minggu. Bersama dengan Afrika Selatan dan Aljazair, komite tersebut akan mencakup Rwanda dan Republik Demokratik Kongo, yang mendukung langkah Faki, serta Kamerun dan Nigeria, kata para diplomat.

Baca juga: Uni Afrika bakal Debat Panas terkait Status Israel

Presiden Senegal Macky Sall, yang akan menjabat sebagai ketua Uni Afrika untuk tahun depan, memuji pendekatan blok tersebut selama konferensi pers, Minggu. Hal itu akan mencegah benua itu dari dilemahkan oleh subjek yang terkait internal. (OL-14)

BERITA TERKAIT